Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kementan Gelar Gerakan Tanam Serempak di 25 Provinsi, Cilacap Jadi Lokasi Utama

Gerakan Tanam Serempak di CilacapGerakan Tanam Serempak di Cilacap
TANAM PADI : Penanaman padi di lahan Desa Bulupayung, Kecamatan Patimuan, menjadi bagian dari percepatan musim tanam untuk menjaga ketersediaan pangan

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menggelar Gerakan Tanam Serempak 2026 yang dilaksanakan secara bersamaan di 25 provinsi di Indonesia.

Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan nasional sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan.

Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dipercaya menjadi pusat pelaksanaan kegiatan nasional tersebut.

Gerakan tanam dipusatkan di Desa Bulupayung, Kecamatan Patimuan, pada lahan yang merupakan bagian dari program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR).

Secara nasional, Gerakan Tanam Serempak menargetkan penanaman padi di lahan seluas sekitar 50 ribu hektare.

Melalui program ini, pemerintah berharap lahan-lahan pertanian yang telah mendapatkan dukungan berbagai program dapat segera dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produksi beras nasional.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa Gerakan Tanam Serempak bukan sekadar kegiatan simbolis, melainkan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat sektor pertanian Indonesia.

“Gerakan Tanam Serempak bukan sekadar kegiatan simbolis. Ini adalah upaya bersama untuk memperluas areal tanam, meningkatkan indeks pertanaman, dan mempercepat produksi pangan,” ujarnya.

Menurut Arsanti, percepatan musim tanam menjadi langkah penting untuk mengantisipasi dampak musim kemarau maupun potensi fenomena El Nino yang dapat mengganggu produktivitas pertanian.

Dengan memulai penanaman lebih awal, tanaman padi diharapkan masih dapat memanfaatkan cadangan air yang tersedia sehingga risiko gagal panen maupun penurunan hasil produksi dapat diminimalkan.

Langkah tersebut dinilai penting karena perubahan iklim menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional.

Selain itu, percepatan tanam juga diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok beras nasional sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi sepanjang tahun.

Keberhasilan Program Gerakan Tanam Serempak tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan di daerah.

Mulai dari pemerintah daerah, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, hingga para petani memiliki peran penting dalam memastikan proses penanaman berjalan sesuai target.

Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mempercepat pencapaian target swasembada pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Selain mempercepat masa tanam, Kementerian Pertanian juga terus mendorong penggunaan benih unggul, penerapan teknologi budidaya yang sesuai dengan kondisi iklim, serta pengembangan program pompanisasi untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian selama musim kemarau.

Pemanfaatan teknologi pertanian modern diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membantu petani menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Pemerintah juga terus mengupayakan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) hingga mencapai IP 250 bahkan IP 300, sehingga lahan pertanian dapat ditanami lebih dari dua kali dalam satu tahun.

Melalui Gerakan Tanam Serempak yang dilaksanakan di 25 provinsi, pemerintah berharap produksi pangan nasional terus meningkat dari tahun ke tahun.

Program ini menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan.

Dengan optimalisasi lahan pertanian, percepatan musim tanam, penggunaan teknologi modern, dan kolaborasi seluruh pihak, Indonesia diharapkan mampu mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan serta menjaga ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim global. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
CKG Siswa Baru 23,89 Persen

Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah di Purbalingga Baru 23,89 Persen, Dinkes Kejar Target 70 Persen

Berita Selanjutnya
Geliatkan Sport Tourism, Bupati Lepas Ratusan Peserta Geo Fun Run 5K di Karangsambung

Geo Fun Run 5K Karangsambung Jadi Ajang Promosi Wisata UNESCO Global Geopark Kebumen