Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Sempat Viral, Kawasan Ceker Ayam Cilacap Mulai Sepi, Akses Jalan Kurang Memadai

Kawasan ceker ayam mulai sepiKawasan ceker ayam mulai sepi
SEPI: Kawasan Ceker Ayam yang ada sekitar area Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap mulai sepi. 

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Kawasan yang sempat viral dengan julukan “Pulau Jeju-nya Cilacap“, yakni Ceker Ayam, kini terlihat semakin sunyi.

Dahulu dikenal sebagai destinasi menarik bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan alam, kini kawasan ini lebih banyak dikunjungi oleh warga setempat untuk memancing di sekitar tanggul.

Akses jalan yang kurang memadai menuju lokasi di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap menjadi salah satu kendala utama yang mengurangi minat masyarakat untuk datang ke kawasan tersebut.

Ceker Ayam sendiri bukanlah tempat wisata resmi yang dikelola dengan baik, melainkan sebuah tanggul pemecah ombak yang lebih sering dimanfaatkan oleh para pemancing ikan.

Sebelumnya, tempat ini pernah ramai dikunjungi setelah viral di media sosial karena dianggap memiliki kemiripan dengan Pulau Jeju di Korea Selatan.

Keindahan pemandangan laut dan suasana tenang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang datang untuk berswafoto atau sekadar menikmati matahari terbenam.

Namun, belakangan ini, area Ceker Ayam tidak menunjukkan perkembangan signifikan dalam hal pariwisata. Aktivitas wisatawan berkurang drastis dan kini lebih banyak dipenuhi oleh warga lokal yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan memancing di sore hari.

Hal ini terlihat dari pengakuan Santo, seorang warga Kelurahan Tegalkamulyan, yang kerap menghabiskan waktu di sana untuk memancing.

“Biasanya saya kesini kalau mau mancing. Kemarin sempat ramai karena video viral itu, tapi sekarang juga sepi lagi. Paling pada mancing saja di sini,” ungkap Santo saat ditemui awak media Banyumas Ekspres pada Sabtu (4/10).

Meski demikian, Santo tidak menampik bahwa kawasan tersebut menawarkan pemandangan yang indah serta suasana yang damai berkat deburan ombak yang stabil.

Ia pun menambahkan bahwa jika kawasan ini dikelola dengan baik, potensi untuk menjadi tempat wisata bisa saja tercapai. Namun, ia juga mengingatkan akan risiko ombak besar yang mungkin membuatnya kurang cocok dijadikan destinasi wisata utama.

“Mungkin kalau dikelola dengan bagus, bisa jadi tempat wisata. Tapi mengingat disini juga rawan ombak besar, jadi mungkin bukan pilihan yang tepat untuk menjadi tempat wisata,” jelas Santo.

Keberadaan Ceker Ayam sebagai tanggul pemecah ombak memang memberikan kontribusi penting bagi nelayan dan masyarakat setempat dalam mencari ikan.

Sayangnya, fasilitas penunjang pariwisata seperti akses jalan dan infrastruktur lainnya belum tersedia secara optimal, sehingga menyulitkan pengembangan kawasan ini sebagai destinasi wisata unggulan.

Bagi pemerintah daerah dan pihak terkait, kondisi ini seharusnya menjadi perhatian khusus bila ingin mengoptimalkan potensi pariwisata lokal.

Pengelolaan dan promosi yang baik dapat meningkatkan daya tarik Ceker Ayam sekaligus mendongkrak perekonomian daerah melalui sektor pariwisata. Selain itu, penambahan fasilitas umum seperti toilet dan area parkir juga perlu dipertimbangkan agar mampu mendukung kenyamanan pengunjung.

Pentingnya perencanaan matang dalam pengembangan pariwisata tidak hanya terletak pada peningkatan jumlah pengunjung tetapi juga bagaimana menjaga kelestarian lingkungan sekitar agar tetap asri dan terjaga dari kerusakan akibat aktivitas manusia.

Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan bisa menjadi langkah awal dalam upaya pelestarian kawasan ini.

Meski saat ini Ceker Ayam belum mencapai potensi maksimalnya sebagai destinasi wisata, optimisme tetap ada bila dilakukan upaya pembenahan secara konsisten dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

Ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah untuk menghadirkan inovasi baru demi memajukan sektor pariwisata lokal.

Pada akhirnya, keputusan apakah kawasan Ceker Ayam akan tetap menjadi lokasi memancing atau berkembang menjadi destinasi wisata harus mempertimbangkan berbagai aspek termasuk keselamatan pengunjung serta dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.

Dengan pendekatan holistik serta dukungan semua pihak terkait, harapan untuk menjadikan “Pulau Jeju-nya Cilacap” sebagai daya tarik wisata andalan bukanlah hal yang mustahil dicapai di masa depan. (gia/stch)

Berita Sebelumnya
141 karyawan pt nina venus langsung dialihkan

Haru Penutupan PT Nina Venus Purbalingga, 141 Pekerja Terdampak PHK

Berita Selanjutnya
Miftahul ulum: diperlukan sop yang jelas terkait laporan mbg

Miftahul Ulum: Diperlukan SOP yang Jelas Terkait Laporan MBG