BANYUMASEKSPRES.ID, Aktris muda berbakat, Shaloom Razade, kembali menunjukkan kualitas aktingnya dalam film terbaru yang berjudul “The Bell: Panggilan Untuk Mati”.
Dalam film yang disutradarai oleh Jay Sukmo ini, Shaloom memerankan karakter Isabella, seorang aktivis yang hidup di era penjajahan Belanda.
Di tengah suasana dan latar belakang yang kompleks, Shaloom menghadapi tantangan besar saat berusaha menghidupkan karakter yang memiliki garis waktu berbeda dibandingkan dengan para pemeran lainnya.
Dalam sesi wawancara, Shaloom Razade menjelaskan bahwa meskipun seluruh pemeran lain berada di zaman modern, karakternya justru berasal dari masa lalu.
“Kalau cast lain tahun sekarang, karena kan aku tuh flashback-nya. Jadi di zaman penjajahan Belanda. Isabella adalah aktivis pada zaman Belanda untuk membela hak-hak pribumi,” ujarnya dengan semangat.
Dia menyadari bahwa perannya kali ini sangat krusial dan memiliki dampak signifikan terhadap jalannya cerita.
Mengingat pentingnya karakter ini, Shaloom pun berhati-hati untuk tidak membocorkan informasi terlalu banyak tentang plot atau detail tertentu.
“Sudah enggak bisa ngasih tahu apa-apa lagi karena, yang tadi aku bilang, enggak tahu kenapa semua karakter yang dikasih ke aku tuh mungkin ada garis benang merahnya untuk ceritanya yang penting. Jadi, aku tidak bisa ngasih tahu hal yang lebih,” tambahnya dengan nada misterius.
Hal ini menunjukkan bahwa film “The Bell: Panggilan Untuk Mati” memiliki kedalaman cerita yang memerlukan perhatian penuh dari penonton.
Menghadapi tantangan memerankan sosok dari masa lalu tentu bukanlah perkara mudah bagi Shaloom.
Sebagai seorang aktris, dia harus melakukan berbagai riset mendalam terkait gaya hidup dan interaksi masyarakat pada zaman tersebut.
“Pasti, karena di zaman itu, mungkin cara orang berjalan saja beda, cara berbicara saja beda,” tuturnya.
Kesadaran akan perbedaan budaya antara masa lalu dan sekarang menjadi bagian dari proses aktingnya.
Lebih jauh lagi, Shaloom juga harus mempelajari bahasa Belanda dan bahasa daerah seperti Belitung untuk memenuhi tuntutan perannya.
“Apalagi juga harus mengerti berbahasa Belanda, ya kan? Harus belajar itulah, bahasa Belitung juga. Jadinya mungkin di sini tuh challenge-nya itu gerak-gerik dan juga bahasa sih, itu yang challenge utamanya,” ucap Shaloom Razade dengan serius.
Film “The Bell: Panggilan Untuk Mati” tidak hanya menawarkan hiburan semata tetapi juga menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat mengenai sejarah perjuangan hak-hak pribumi pada masa penjajahan.
Melalui karakter Isabella yang diperankan oleh Shaloom, penonton diajak untuk merenungkan nilai-nilai perjuangan dan keadilan sosial yang relevan hingga saat ini.
Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya representasi budaya dalam industri film Indonesia, karya-karya yang mengangkat tema sejarah seperti ini menjadi sangat diperlukan.
Film ini tidak hanya sekadar hiburan tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya identitas dan jati diri bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Shaloom Razade sendiri dikenal sebagai putri sulung dari artis ternama Wulan Guritno. Setiap langkah kariernya selalu menarik perhatian publik dan media.
Dengan bakat akting yang mumpuni serta dukungan dari ibunya, Shaloom telah membuktikan bahwa dirinya mampu membawa nama baik keluarga dalam dunia seni peran. (*/stch/dda)
















