BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dalam upaya untuk menghidupkan kembali cerita-cerita lokal yang kaya akan nilai budaya, Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Banjarnegara mengambil langkah inovatif dengan merencanakan penerbitan buku berjudul “Banjarnegara Tanah Legenda”.
Buku ini akan menyajikan kumpulan cerpen yang terinspirasi oleh kisah-kisah legenda daerah setempat.
Berbeda dengan buku sebelumnya yang berjudul “Banjarnegara Surga Cerita” yang didominasi oleh tulisan nonfiksi, kali ini Disarpus memberikan penekanan lebih pada kreativitas para penulis dalam mengolah cerita rakyat menjadi karya fiksi yang lebih hidup dan menarik.
Program ini merupakan kelanjutan dari upaya sebelumnya dalam mendokumentasikan dan melestarikan cerita-cerita lokal.
Kepala Bidang Perpustakaan Disarpus Banjarnegara, Masfufatun Juni, menjelaskan bahwa meskipun jumlah peserta tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun lalu, fokus utama kini diarahkan pada kualitas karya.
“Pesertanya memang lebih terbatas, tapi kami ingin hasil tulisannya lebih matang dan kuat dari sisi cerita,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu (8/4/2026).
Dalam konteks ini, Disarpus Banjarnegara bukan hanya sekadar lembaga yang mendorong literasi masyarakat.
Kepala Disarpus Banjarnegara, Arief Rahman, menekankan bahwa penulisan berbasis budaya lokal memiliki peranan penting dalam menjaga identitas daerah.
Ia percaya bahwa kegiatan ini dapat membuka peluang baru bagi para penulis untuk mengeksplorasi potensi lokal mereka.
“Ini bukan hanya soal menulis, tapi bagaimana kita mengangkat potensi lokal agar tetap hidup dan dikenal,” katanya.
Sebagai langkah awal dalam program ini, Disarpus Banjarnegara telah menggelar bimbingan teknis penulisan yang diikuti oleh 50 peserta terpilih.
Peserta tersebut telah melalui proses seleksi ketat dengan mengirimkan draft cerpen mereka sebelum terpilih untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Dalam bimbingan teknis tersebut, peserta mendapatkan materi dari sejumlah narasumber berpengalaman.
Salah satu narasumber yang ikut ambil bagian adalah Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Banjarnegara, Heni Purwono.
Heni memberikan pandangan mengenai betapa pentingnya cerita legenda dalam mendukung sektor pariwisata di daerah tersebut.
“Banyak tempat jadi terkenal karena ceritanya. Kalau legenda Banjarnegara diangkat dengan baik, dampaknya bisa ke mana-mana, termasuk wisata,” ujarnya dengan semangat.
Penulisan cerpen berbasis legenda tidak hanya menawarkan peluang bagi pengembangan sastra lokal tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata.
Dengan mengangkat kisah-kisah legenda yang ada di Banjarnegara ke dalam bentuk fiksi yang menarik dan mudah dicerna oleh masyarakat luas, diharapkan minat turis untuk berkunjung ke daerah tersebut bisa meningkat.
Dari sisi teknis penulisan, guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Karangkobar, Sutini, memberikan dorongan kepada peserta untuk menjelajahi imajinasi mereka tanpa meninggalkan akar cerita yang ada.
“Legenda lokal itu kaya, tapi belum banyak digarap. Di situlah ruang kreatif penulis terbuka lebar,” katanya.
Sutini menambahkan bahwa penting bagi para penulis untuk tetap menghormati nilai-nilai kearifan lokal saat mereka menciptakan karya fiksi baru.
Pendekatan kreatif terhadap penulisan legenda lokal ini juga mendapat dukungan dari pegiat literasi Rumah Baca Purnama, Indra Hari Purnama.
Ia menyoroti pentingnya menulis sebagai aktivitas yang tidak hanya bersifat sementara tetapi juga dapat meninggalkan jejak abadi dalam masyarakat.
“Lewat tulisan, kita bisa meninggalkan sesuatu yang terus dibaca. Bahkan bisa jadi nilai kebaikan yang terus mengalir,” ujarnya.
Melalui program bimbingan teknis ini, Disarpus Banjarnegara berharap dapat menciptakan komunitas penulis yang tidak hanya terampil secara teknis tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman tentang budaya dan sejarah daerah mereka.
Dengan cara ini, setiap karya yang dihasilkan dapat membawa pesan-pesan kebaikan serta mendorong pembaca untuk lebih mengenal dan mencintai budaya lokal. (jud/stch/dda)
















