BANYUMASEKSPRES.ID, Steven Wongso kembali menarik perhatian publik melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @steven_wongso, pada 12 April yang lalu.
Dalam video tersebut, ia menyampaikan pernyataan yang mengandung unsur penghinaan terhadap orang-orang dengan tubuh gemuk.
Ia menggambarkan kebiasaan orang gemuk yang suka makan manis dan menghabiskan waktu di rumah dengan cara yang terkesan merendahkan.
“Apa yang kalian lakukan itu sudah benar, ndut. Stay di rumah, rebahan sambil nonton Netflix, dan makan martabak manis pakai kopi susu. Itu kan membantu UMKM. Petani gula dan petani kopi itu bisa makan karena kalian loh, ndut,” ungkapnya dalam video tersebut.
Pernyataan Steven tidak berhenti di situ. Dalam penjelasan lebih lanjutnya, ia menambahkan, “Kalian itu sangat berdampak besar bagi perekonomian negara ini, ndut. Kalian enggak usah mendengarkan pendapat orang. Itu namanya self love. Semangat ya ndut.”
Video yang diunggah oleh selebgram asal Surabaya ini muncul setelah kontennya yang sebelumnya viral, di mana ia menyebut bahwa ‘orang gendut lebih rendah dari anjing’.
Dalam video yang kini telah dihapus tersebut, ia mengungkapkan pandangannya dengan kata-kata kasar: “Bagiku, semua orang gendut itu anj**g. Emangnya beda kalian sama anj**g apa? Makanan di depan kalian semua dihabiskan. Tuhan kan menciptakan otak agar manusia bisa mikir ya masak enggak dipakai?”
Unggahan ini sontak memicu reaksi beragam dari pengguna media sosial, termasuk dari kalangan artis dan influencer kesehatan.
Aktor Rayn Wijaya tampak memberikan sindiran kepada Steven melalui kolom komentar dengan menuliskan “Sok asik j*ng”.
Sementara itu, Billy Davidson juga memberikan tanggapannya dengan komentar, “Gini amat ya cari duit.”
Di sisi lain, dokter Ivan Hartono memberikan perspektif medis mengenai obesitas dan menjelaskan bahwa kondisi ini bukan hanya masalah nafsu makan semata, melainkan juga terkait faktor genetik dan hormonal.
Ia pun menekankan pentingnya menghargai usaha orang-orang yang berjuang untuk lepas dari obesitas dengan menyatakan, “Izin saran, boleh hargai usaha orang untuk bisa lepas dari obesitas?”
Perdebatan seputar tema obesitas dan stigma terhadap orang gemuk memang bukan hal baru dalam masyarakat kita.
Banyak individu yang merasa tertekan akibat pandangan negatif dari lingkungan sekitar mereka terkait berat badan dan penampilan fisik mereka.
Seiring berkembangnya kesadaran akan isu kesehatan mental dan penerimaan diri (self-acceptance), berbagai narasi tentang body positivity mulai bermunculan sebagai respons terhadap stigma ini.
Body positivity merupakan gerakan sosial yang mendorong individu untuk mencintai tubuh mereka tanpa memandang ukuran atau bentuknya.
Gerakan ini bertujuan untuk melawan standar kecantikan yang sempit serta menghilangkan stigma terhadap orang-orang dengan ukuran tubuh yang berbeda-beda.
Dalam konteks ini, pernyataan Steven Wongso bisa dianggap sebagai contoh bagaimana stigma negatif dapat memperburuk masalah kesehatan mental bagi banyak orang.
Di Indonesia sendiri, isu obesitas menjadi semakin relevan mengingat tingginya angka kasus obesitas dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi obesitas meningkat tajam pada kelompok usia dewasa serta anak-anak dalam dekade terakhir.
Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan holistik dalam menangani masalah kesehatan ini—yang tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan tetapi juga pada pola pikir masyarakat terhadap obese individuals.
Tindakan Steven Wongso yang merendahkan orang-orang gemuk dapat dilihat sebagai refleksi dari sikap masyarakat yang masih terjebak dalam stereotip kuno terkait keberhasilan individu berdasarkan penampilan fisik mereka saja.
Bukan hanya menyebabkan ketidaknyamanan emosional bagi mereka yang menjadi sasaran kritiknya tetapi juga berpotensi memperburuk stigma sosial terhadap masalah obesitas secara keseluruhan. (*/dda)
















