BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Di tengah stok beras nasional yang terpantau cukup melimpah, harga beras di tingkat konsumen justru terus menunjukkan tren kenaikan.
Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, meskipun harga beras di penggilingan relatif stabil bahkan sedikit menurun, harga di tingkat grosir hingga eceran justru merangkak naik sepanjang Mei 2025.
Berdasarkan laporan BPS, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Mei 2025 tercatat sebesar Rp 12.733 per kilogram (kg), turun tipis 0,01 persen dari bulan sebelumnya yang berada di angka Rp 12.734 per kg.
Namun secara tahunan, harga tersebut tetap mencatatkan kenaikan sebesar 2,37 persen.
Sementara itu, tren berbeda terjadi di level distribusi selanjutnya. Di pasar grosir, harga beras pada Mei 2025 naik menjadi Rp 13.735 per kg, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan lalu yang tercatat Rp 13.728 per kg.
Kenaikan juga terjadi pada harga beras eceran, di mana konsumen membelinya dengan harga rata-rata Rp 14.784 per kg, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp 14.754 per kg.
Fenomena harga beras yang terus naik meskipun stok melimpah ini langsung mendapat perhatian Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
Ia secara terbuka menyebut adanya permainan harga yang terjadi di jalur distribusi, yang dilakukan oleh para perantara atau middleman.
“Harga di hulu turun, tapi di hilir naik sedikit. Ngerti nggak apa maksudnya. Kalau di petani turun, di grosir turun, di tingkat eceran, menurut Anda ada apa? (Ada permainan harga) Itu jawabannya. Tulis saja. Jadi ada middleman-nya ini,” tegas Amran saat memberi keterangan kepada media.
Amran menyoroti panjangnya rantai distribusi sebagai salah satu penyebab utama mengapa harga beras sulit ditekan di tingkat konsumen, meski harga dasar dari penggilingan sudah menurun.
Kondisi ini, menurutnya, tidak hanya merugikan petani yang mendapatkan harga rendah, tetapi juga membebani masyarakat yang harus membeli beras dengan harga tinggi.
Sebagai solusi jangka menengah, Kementerian Pertanian tengah menyiapkan peluncuran program Koperasi Merah Putih yang ditargetkan hadir di setiap desa.
Koperasi ini dirancang untuk memutus peran middleman dalam distribusi beras dan langsung menghubungkan petani dengan pembeli.
“Ke depan, fungsi dari Koperasi Merah Putih memotong rantai pasok dari kita hitung sampai 8 sekarang, nanti tinggal jadi 3 dari produsen, koperasi, langsung ke pembeli,” ungkap Amran.
Ia optimistis, jika rantai pasok dipangkas menjadi hanya tiga jalur utama, maka harga beras bisa lebih stabil dan terjangkau, tanpa mengorbankan keuntungan petani.
Upaya ini juga diharapkan dapat mengembalikan fungsi koperasi sebagai garda depan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.
Fenomena kenaikan harga beras di tengah melimpahnya stok menjadi tantangan nyata dalam pengelolaan distribusi pangan nasional.
Pemerintah dituntut segera menata ulang sistem logistik agar lebih efisien, transparan, dan berpihak pada kepentingan petani serta masyarakat luas. (*/stch)
















