Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Stok Gabah Petani Banyumas Menipis, Harga Turun Jadi 830 Ribu per Kuintal

Petani Cemas Stok Gabah MenipisPetani Cemas Stok Gabah Menipis
PENGGILINGAN: Aktivitas penggilingan gabah petani untuk konsumsi keluarga di tengah persediaan yang kian menipis menunggu musim panen berikutnya, Minggu (12/7)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Persediaan gabah petani di Kabupaten Banyumas mulai mengalami penurunan seiring berjalannya waktu.

Sebagian besar petani kini hanya menyimpan stok gabah yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga hingga datangnya musim panen berikutnya.

Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan ancaman musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang serta meningkatnya serangan hama wereng yang berpotensi mengganggu produktivitas tanaman padi.

Sebagian besar hasil panen sebelumnya telah dijual oleh petani untuk memenuhi berbagai kebutuhan ekonomi rumah tangga, mulai dari biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, hingga modal untuk kembali menggarap lahan pertanian.

Sementara itu, sisa gabah yang masih tersimpan kini lebih diprioritaskan sebagai cadangan pangan keluarga agar kebutuhan beras tetap tercukupi sampai masa panen berikutnya tiba.

Salah seorang petani di Banyumas, Saimin, mengaku persediaan gabah yang disimpan di rumahnya terus berkurang.

Menurutnya, situasi tersebut masih dapat diatasi apabila musim tanam berikutnya berjalan lancar.

Namun, kekhawatiran muncul karena musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya sehingga berpotensi mengurangi ketersediaan air untuk mengairi sawah.

Selain persoalan air, para petani juga menghadapi ancaman serangan hama wereng yang kerap muncul pada musim kemarau.

Hama tersebut dikenal mampu merusak tanaman padi dalam waktu singkat apabila tidak segera dikendalikan.

Serangan wereng dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu, menurunkan hasil panen, bahkan memicu gagal panen pada lahan yang terdampak cukup parah.

“Sedang musim hama wereng dan kondisi kemarau panjang. Semoga persediaan gabah cukup dan bisa panen maksimal,” ujar Saimin, Minggu (12/7).

Kondisi tersebut membuat banyak petani memilih lebih berhati-hati dalam mengelola stok gabah yang masih dimiliki.

Mereka berharap cadangan pangan keluarga tetap aman hingga musim panen berikutnya berhasil dilaksanakan.

Di sisi lain, para petani juga terus berupaya melakukan perawatan tanaman secara maksimal agar hasil produksi tidak mengalami penurunan akibat faktor cuaca maupun serangan organisme pengganggu tanaman.

Tidak hanya petani yang merasakan dampaknya, pelaku usaha gabah juga mulai melihat perubahan kondisi di lapangan.

Pengepul gabah di Banyumas, Norani, mengatakan harga gabah di tingkat petani mengalami penurunan dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

Jika sebelumnya harga gabah sempat mencapai sekitar Rp850 ribu per kuintal, kini harga pembelian turun menjadi sekitar Rp830 ribu per kuintal.

Menurut Norani, penurunan harga gabah terjadi bersamaan dengan berkurangnya aktivitas jual beli gabah dari petani.

Mayoritas petani telah menjual hasil panennya setelah musim panen usai, sedangkan petani yang masih memiliki stok kini memilih menyimpannya sebagai cadangan kebutuhan rumah tangga dibandingkan menjualnya ke pasar.

“Sekarang turun ke Rp830 ribu per kuintal, itu juga petani sudah mulai jarang yang menjual gabahnya,” kata Norani.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang berkembang di kalangan pelaku usaha pertanian, salah satu faktor yang ikut memengaruhi penurunan harga gabah adalah berhentinya sementara operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.

Berkurangnya aktivitas program tersebut menyebabkan kebutuhan gabah dan beras ikut menurun sehingga serapan hasil panen petani tidak sebesar sebelumnya.

Meskipun demikian, Norani berharap kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ia optimistis permintaan gabah akan kembali meningkat setelah berbagai aktivitas kembali normal.

Oleh karena itu, produktivitas tanaman padi pada musim tanam kemarau perlu terus dijaga agar pasokan gabah tetap tersedia dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Situasi yang dihadapi petani Banyumas saat ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan cuaca, serangan hama, hingga dinamika permintaan pasar.

Karena itu, dukungan terhadap petani melalui pengendalian hama, ketersediaan irigasi, serta stabilisasi harga gabah dinilai sangat penting agar produksi padi tetap terjaga.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, para petani Banyumas tetap berharap musim tanam berikutnya dapat menghasilkan panen yang melimpah.

Hasil panen yang optimal tidak hanya menjadi harapan petani sebagai sumber penghasilan utama, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas pasokan beras di daerah.

Dengan cuaca yang mendukung, pengendalian hama yang efektif, serta harga gabah yang kembali membaik, sektor pertanian di Banyumas diharapkan mampu terus memberikan kontribusi bagi ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
10 Juta Orang Keluar dari Kelas Menengah

10 Juta Orang Keluar dari Kelas Menengah, Ekonom Usulkan PPN Turun Jadi 9 Persen

Berita Selanjutnya
Samai Rekor Diego Maradona

Jude Bellingham Bersinar di Piala Dunia 2026, Samai Rekor Maradona yang Bertahan 40 Tahun