BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di tengah keramaian Pasar Rakyat Banjarnegara, terdengar suara yang mungkin tak terlalu mencolok, namun penuh makna.
Suara denting tatah beradu dengan kulit menjadi bagian dari keseharian Bagong Sugiyanto, seorang pengrajin wayang yang memilih setia pada seni tatah sungging.
Di zaman yang serba digital ini, ketika banyak orang terjebak dalam dunia gawai dan layar elektronik, Bagong tetap bertahan dalam keheningan proses panjang penuh ketelatenan.
Bagong Sugiyanto, atau akrab disapa Pak Bagong, kini menjadi salah satu dari segelintir pengrajin tatah sungging yang masih aktif di Banjarnegara.
Keberadaannya semakin langka seiring dengan berkurangnya jumlah pengrajin wayang di daerah tersebut.
Ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi juga mengenai upaya mempertahankan tradisi di tengah derasnya arus perubahan zaman.
“Faktanya, pengrajin wayang yang benar-benar produktif di Banjarnegara itu tidak lebih dari sepuluh orang. Dari keprihatinan itulah saya memilih tetap eksis. Bagi saya ini sudah bukan sekadar pekerjaan, tapi hobi sekaligus visi untuk menjaga warisan,” ungkap Bagong saat ditemui awak media di sela-sela Pasar Rakyat Banjarnegara pada Selasa (30/12).
Seni yang digeluti oleh Bagong dikenal sebagai tatah sungging, sebuah proses yang menuntut kesabaran dan presisi tinggi.
Dari selembar kulit, ia memulai dengan menggambar pola, lalu memahat detail ornamen hingga akhirnya memberi warna yang menghidupkan karakter wayang.
Semua dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern, mengandalkan kepekaan rasa dan pengalaman puluhan tahun.
“Pengerjaan satu wayang tidak bisa cepat. Tergantung ukuran dan kerumitan, paling cepat seminggu bisa sampai tiga minggu bahkan sebulan,” jelasnya sembari menambahkan bahwa dirinya selalu meminta pemesan untuk bersabar.
“Rata-rata pesanan saya satu per bulan dan kebanyakan untuk kelangenan atau dipajang oleh kolektor serta pecinta wayang,” tambahnya.
Kesabaran Bagong juga tercermin dalam pemilihan bahan baku. Ia dikenal sangat selektif dalam memilih bahan.
Kulit kerbau menjadi pilihan utama karena sifatnya yang lentur dan awet. Namun keterbatasan bahan baku di Banjarnegara memaksanya mencari hingga ke luar daerah.
“Bahan terbaik tetap kulit kerbau tapi sekarang jarang sekali disembelih di sini. Jadi saya ambil dari Yogyakarta atau Solo,” ujarnya sambil menjelaskan alternatif lainnya seperti kulit sapi atau kambing yang didobel serta talang karpet untuk segmen lebih ekonomis.
Meski berkarya dari daerah terpencil, hasil tangan Bagong tak hanya berhenti di lingkup lokal berkat jalinan pertemanan dan perkembangan teknologi digital. Karyanya bahkan pernah menembus pasar internasional.
“Dulu lewat pertemanan saja karya saya sudah sampai Jepang. Sekarang dengan digital batas itu sudah tidak ada lagi,” katanya terus menatah kulit di hadapannya.
Keahlian Bagong dalam seni tatah sungging bukan dicapai dalam waktu singkat.
Sejak 1988 ia telah menekuni dunia ini mengikuti jejak sang ayah. Namun ia memiliki pendekatan belajar yang berbeda dari kebanyakan pengrajin lainnya.
“Versi saya belajar tatah sungging itu dimulai dari mewarnai dulu setelah paham detail baru memahat dan terakhir menggambar. Kalau sudah bisa menggambar artinya semua tahapan sudah dikuasai,” ujarnya sembari tersenyum.
Kini Bagong membuka ruang belajar bagi siapa saja terutama anak-anak muda yang tertarik pada seni ini.
Ia percaya bahwa ketertarikan generasi muda menjadi tanda bahwa seni wayang belum sepenuhnya kehilangan masa depan meski jalannya kian sempit.
Mengenai nilai karya Bagong tidak bisa diseragamkan karena harga sangat bergantung pada bahan dan tingkat kerumitan pengerjaan.
Wayang sederhana dibanderol mulai Rp350 ribu sementara pesanan khusus bisa mencapai jutaan rupiah.
“Pernah ada empat tokoh masing-masing dihargai Rp5,5 juta tergantung permintaan gaya dan detail dari pemesan,” ungkapnya yakin sambil menegaskan bahwa ia berani memberi garansi kualitas atas setiap karyanya.
Di balik kesetiaannya menatah kulit demi kulit ada harapan besar yang disimpan oleh Bagong Sugiyanto agar seni kriya wayang mendapat perhatian lebih serius tidak hanya pada dalang atau pementasan tetapi juga kepada para pengrajinnya sendiri.
“Sebab tanpa tangan-tangan seperti miliknya denting tatah yang kini terdengar lirih itu bisa benar-benar lenyap dari Banjarnegara meninggalkan sunyi tanpa jejak,” pungkasnya penuh harap.(jud/dda)
















