Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

145 Anak Putu Kalikudi Cilacap Jalan Kaki ke Makam Eyang Bonokeling di Banyumas

Dua Hari Jalan Kaki ke BanyumasDua Hari Jalan Kaki ke Banyumas
JALAN KAKI : Masyarakat adat Anak Putu Desa Kalikudi Kecamatan Adipala berjalan kaki untuk berziarah ke makam leluhur di Banyumas

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Tradisi punggahan menjelang Ramadan kembali dijalankan masyarakat adat Anak Putu Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap.

Tradisi tahunan ini dilakukan dengan berjalan kaki untuk berziarah ke makam leluhur mereka, Eyang Bonokeling, yang berada di Desa Pakuncen, Kabupaten Banyumas.

Rombongan punggahan tahun ini berasal dari dua pasemuan atau rumah adat, yakni Pasemuan Lor dan Pasemuan Kidul.

Dari kedua pasemuan tersebut, sebanyak 90 laki-laki dan sekitar 55 perempuan turut serta dalam perjalanan spiritual tersebut.

Meski tidak seluruh anggota pasemuan ikut berjalan kaki, tradisi ini tetap didukung oleh seluruh komunitas adat.

Keberangkatan rombongan dilepas langsung oleh Camat Adipala, Firdaus Azi Mutia.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat Kalikudi tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal yang patut dipertahankan.

Menurutnya, punggahan bukan hanya sekadar ziarah, tetapi juga menjadi momen kebersamaan warga serta sarana mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Ia menegaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan terus dijalankan secara turun-temurun.

Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, kegiatan tersebut juga memperkuat nilai kebersamaan di antara anak putu.

Momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan serta memperkuat identitas budaya masyarakat adat setempat.

Perjalanan menuju makam leluhur dilakukan dengan berjalan kaki sebagai bagian dari laku adat.

Prosesi tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan memiliki makna mendalam bagi para peserta.

Perjalanan panjang yang ditempuh secara bersama-sama dimaknai sebagai latihan kesabaran, keteguhan hati, dan kekompakan.

Nilai-nilai tersebut dianggap selaras dengan semangat menyambut Ramadan yang identik dengan pengendalian diri dan peningkatan spiritualitas.

Rombongan diberangkatkan pada Kamis (12/2) dan dijadwalkan kembali ke Kalikudi pada Sabtu (14/2).

Selama perjalanan dan pelaksanaan ziarah, para peserta menjalani tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi ini menjadi salah satu bentuk pelestarian adat yang masih hidup dan dijaga konsistensinya oleh komunitas Anak Putu.

Bagi masyarakat Kalikudi, punggahan bukan sekadar agenda rutin tahunan. Tradisi ini menjadi bagian dari persiapan batin menjelang bulan suci.

Melalui ziarah ke makam leluhur, mereka memanjatkan doa serta mengenang ajaran dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana refleksi diri sebelum memasuki bulan yang penuh berkah.

Secara keseluruhan, jumlah anak putu di Pasemuan Lor tercatat sekitar 400 kepala keluarga, sedangkan di Pasemuan Kidul sekitar 200 kepala keluarga.

Meski tidak semuanya mengikuti perjalanan secara langsung, dukungan moral dan partisipasi tetap diberikan oleh seluruh anggota komunitas.

Hal ini menunjukkan kuatnya solidaritas dan komitmen bersama dalam menjaga tradisi.

Pemerintah kecamatan setempat turut mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam mempertahankan adat istiadat tersebut.

Tradisi punggahan Anak Putu Kalikudi dinilai sebagai salah satu kekayaan budaya yang memperkaya khazanah tradisi lokal di wilayah Cilacap dan sekitarnya.

Dengan tetap dilaksanakannya punggahan setiap tahun, masyarakat berharap nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan kesiapan spiritual dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern, sekaligus menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan kehidupan masa kini. (jul/dda)

Berita Sebelumnya
Truk Batok Kelapa Terguling di Jalan Turunan

Truk Bermuatan Batok Kelapa Terguling di Jalan S Parman Wonosobo, Lalu Lintas Sempat Macet

Berita Selanjutnya
Petani Buka Jalur Air di Jalan Rusak

Aksi Petani Banyumas Atasi Genangan Air di Jalan Sumpiuh-Tambak yang Rusak