BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Menghadapi ancaman cuaca ekstrim, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi bencana alam yang mengancam wilayah tersebut sepanjang Januari 2026.
Sebanyak 21 kecamatan diidentifikasi berada dalam kategori rawan gerakan tanah, sementara 22 kecamatan lainnya berpotensi mengalami banjir akibat curah hujan yang diprediksi meningkat dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, M.Hum., menjelaskan bahwa analisis risiko bencana ini disusun melalui pemetaan peta prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Peta potensi ini disusun dari hasil tumpang susun antara peta kerentanan gerakan tanah dengan prakiraan curah hujan bulanan. Jika hujan turun di atas normal, maka risiko longsor maupun banjir dapat meningkat,” ujar Dwi kepada awak media pada Rabu (14/1).
Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa untuk potensi gerakan tanah, sebanyak 21 kecamatan berada dalam zona menengah hingga tinggi.
Beberapa wilayah yang termasuk dalam kategori ini adalah Ajibarang, Banyumas, Baturraden, Cilongok, Gumelar, Jatilawang, Kalibagor, Karanglewas, Kebasen, Kedungbanteng, Kemranjen, Lumbir, Patikraja, Pekuncen, Purwojati, Rawalo, Sokaraja, Somagede, Sumpiuh, Tambak dan Wangon.
Wilayah Baturraden khususnya menghadapi ancaman tambahan dari potensi banjir serta aliran bahan rombakan yang dapat mengancam keamanan permukiman dan fasilitas umum.
Sementara itu berdasarkan peta prakiraan BMKG untuk Januari 2026 ini juga memperlihatkan bahwa 22 kecamatan berisiko mengalami banjir dengan tingkat ancaman menengah hingga tinggi.
Kecamatan yang masuk dalam daftar ini meliputi Ajibarang, Banyumas, Baturraden, Cilongok, Gumelar, Jatilawang, Kalibagor, Kebasen, Kemranjen, Lumbir serta keempat wilayah Purwokerto yaitu Purwokerto Barat Selatan Timur dan Utara juga termasuk Rawalo Sokaraja Somagede Sumpiuh Tambak dan Wangon.
Dwi menegaskan bahwa pada zona risiko menengah gerakan tanah bisa terjadi jika hujan berkepanjangan lebih dari biasanya terutama di area lereng tebing jalan gawir dan bantaran sungai.
Sedangkan pada zona tinggi bahkan pergerakan tanah lama yang sebelumnya tidak aktif bisa kembali aktif bergerak.
Menyikapi situasi ini BPBD Banyumas mengimbau seluruh masyarakat serta pemerintah desa kelurahan hingga kecamatan untuk meningkatkan kewaspadaan terkhusus saat hujan deras berlangsung lebih dari dua jam tanpa henti
“Upaya mitigasi harus terus dilakukan dan memperkuat kesiapsiagaan warga,” kata Dwi menutup penjelasannya kepada awak media.
Ia menyarankan peningkatan kewaspadaan terutama di daerah yang rawan dengan menyediakan jalur evakuasi dan persiapan logistik untuk keadaan darurat
Menghadapi musim penghujan ini penting bagi masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi terkini dari BPBD serta tetap waspada terhadap perubahan cuaca secara mendadak.
Langkah antisipatif seperti membersihkan saluran air memperbaiki drainase serta penataan lingkungan sekitar rumah dapat mengurangi dampak negatif dari bencana hidrometeorologi
Kesiapsiagaan masyarakat juga harus didukung oleh koordinasi antarinstansi terkait guna mempercepat respons tanggap darurat jika terjadi bencana.
Terlebih pemerintah daerah sudah seharusnya menyediakan fasilitas evakuasi yang memadai demi keselamatan warga ketika situasi genting melanda.
Tidak hanya itu edukasi mengenai langkah-langkah penyelamatan diri saat bencana juga perlu terus digalakkan agar setiap individu siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Pentingnya peran serta komunitas lokal dalam penanggulangan bencana pun tidak dapat dikesampingkan.
Warga hendaknya saling bahu membahu membantu satu sama lain terutama dalam kondisi darurat Hal ini selain untuk meringankan beban juga sebagai bentuk solidaritas sosial yang kuat di tengah ancaman bencana
Melalui kerja sama lintas sektor dan dukungan masyarakat luas diharapkan upaya mitigasi risiko bencana di Kabupaten Banyumas dapat berjalan efektif sehingga dampak buruk akibat cuaca ekstrem dapat diminimalisir. (zet/dda)
















