BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Budidaya ikan di Banjarnegara mengalami transformasi signifikan seiring dengan perkembangan teknologi.
Proses yang dulunya memerlukan pemantauan langsung oleh petani kini dapat dilakukan lebih efisien melalui perangkat yang terhubung dengan teknologi Internet of Things (IoT).
Teknologi ini diperkenalkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai bagian dari program digitalisasi sektor perikanan budidaya.
Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah pengenalan smart aerator, sebuah alat yang berfungsi sebagai penyuplai oksigen ke dalam kolam ikan.
Tidak hanya itu, alat ini juga dilengkapi dengan kemampuan untuk dipantau dari jarak jauh, menjadikannya sangat praktis bagi para pembudidaya.
Direktur Ekosistem Digital Komdigi, Wijayanto, menekankan pentingnya kualitas air dalam keberhasilan budidaya ikan.
“Ketersediaan oksigen yang cukup membuat ikan lebih aktif bergerak dan memiliki nafsu makan yang lebih baik,” terang Wijayanto saat memberikan bimbingan teknis di Banjarnegara.
Pentingnya oksigen terlarut dalam air tidak bisa diremehkan. Dengan kadar oksigen yang lebih tinggi, pertumbuhan ikan dapat berlangsung lebih optimal, sehingga masa panen dapat dipercepat dan penggunaan pakan menjadi lebih efisien.
“Dengan oksigen terlarut yang lebih banyak, pertumbuhan ikan menjadi lebih optimal,” tambahnya.
Program yang diluncurkan oleh Komdigi ini melibatkan pemberian 100 unit smart aerator beserta perangkat pengukur kualitas air kepada kelompok pembudidaya ikan di Banjarnegara.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mendorong modernisasi sektor perikanan agar lebih produktif dan efisien.
“Smart aerator bukan hanya efisien dari segi listrik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam kolam secara efektif,” jelas Wijayanto.
Namun, memberikan alat saja tidak cukup. Komdigi juga mengadakan pendampingan selama tiga bulan atau satu siklus budidaya bagi para penerima bantuan.
Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan bahwa para petani dapat mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi tersebut secara maksimal.
Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan para pembudidaya ikan mampu meraih hasil yang optimal.
Fajar, seorang pembudidaya ikan nila asal Banjarnegara, menyambut positif program inovatif ini.
Ia menyadari bahwa menjaga kualitas air adalah tantangan tersendiri, terutama pada musim kemarau ketika debit air mulai berkurang.
“Kalau musim kemarau beberapa kolam memang kesulitan air,” ungkap Fajar.
Dengan adanya smart aerator, ia berharap kebutuhan oksigen dalam kolam tetap tercukupi sehingga pertumbuhan ikannya tidak terganggu.
Transformasi digital dalam budidaya ikan ini menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap produktivitas dan efisiensi sektor perikanan di Banjarnegara.
Dengan memanfaatkan teknologi IoT, petani tidak hanya mendapatkan kemudahan dalam memonitor kondisi kolam mereka tetapi juga mampu meningkatkan hasil panen mereka secara keseluruhan. (jud/stch/dda)
















