BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Hingga pertengahan Juni 2025, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Banyumas telah menangani 43 kasus kebakaran. Dari seluruh insiden tersebut, kerugian materi yang ditimbulkan mencapai Rp2.788.000.000.
Kepala UPT Damkar dan Penyelamatan Banyumas, Andaru Budilaksono, menjelaskan bahwa penyebab utama kebakaran ini masih didominasi oleh korsleting listrik.
Menurutnya, banyak instalasi dan kabel listrik di rumah atau bangunan yang sudah tidak layak pakai sehingga mudah memicu percikan api.
“Kebakaran paling banyak karena korsleting listrik. Biasanya instalasi dan kabelnya memang sudah tidak layak,” ungkap Andaru.
Data yang tercatat menunjukkan bahwa kasus kebakaran tersebar sepanjang awal tahun ini.
Pada bulan Januari dan Februari masing-masing terjadi delapan kejadian, sembilan kasus pada Maret, sebelas kasus di April, kemudian menurun menjadi empat kasus di Mei, dan tiga kasus hingga pertengahan Juni.
Meski jumlahnya cukup banyak, untungnya seluruh kejadian kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
“Berbeda dengan tahun lalu, ketika ada korban jiwa karena faktor usia. Sudah sepuh, jadi tidak sempat menyelamatkan diri,” jelas Andaru.
Sebagian besar kebakaran terjadi di wilayah dalam kota. Namun demikian, dari sisi fasilitas, Damkar Banyumas menilai bahwa peralatan dan sistem penanganan kebakaran saat ini sudah cukup memadai.
Mereka mengandalkan 65 personel yang tersebar di empat pos yaitu Pos Induk, Pos Kembaran, Pos Kemranjen, dan Pos Wangon.
Selain melakukan pemadaman api secara efektif, Damkar juga aktif menjalankan fungsi edukasi kepada masyarakat.
Mereka rutin menggelar sosialisasi pencegahan kebakaran baik melalui kegiatan di pos maupun dengan mendatangi sekolah-sekolah dan kantor-kantor.
“Kami rutin sosialisasi. Bisa di pos Damkar, bisa juga kami yang datang ke sekolah atau kantor,” tambah Andaru.
Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan kebakaran membawa dampak positif terhadap kepercayaan publik terhadap layanan Damkar.
Kini permintaan layanan Damkar tidak hanya terbatas pada penanganan kebakaran saja tetapi juga mencakup pertolongan non-kebakaran seperti evakuasi hewan atau kecelakaan rumah tangga.
Masyarakat Banyumas tampaknya semakin sadar akan pentingnya menjaga instalasi listrik agar selalu dalam kondisi baik untuk mencegah terjadinya korsleting.
Kesadaran ini bisa dilihat dari meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan sosialisasi yang digelar oleh Damkar Banyumas.
Sebagai warga yang peduli terhadap keselamatan bersama, penting bagi kita untuk selalu memperhatikan kondisi instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha kita agar risiko kebakaran akibat korsleting dapat diminimalisir.
Penggunaan alat-alat listrik yang sesuai standar serta pemeriksaan berkala oleh teknisi berlisensi dapat menjadi langkah preventif yang efektif.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga memiliki peranan penting dalam memastikan bahwa regulasi terkait instalasi listrik diterapkan secara ketat demi keselamatan bersama.
Selain itu, pengembangan infrastruktur pemadam kebakaran serta peningkatan kapasitas personel harus terus dilakukan agar respons terhadap kejadian darurat lebih cepat dan efisien.
Dengan keterlibatan semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran ini diharapkan dapat mengurangi jumlah insiden serupa di masa depan sekaligus meminimalkan kerugian materiil yang timbul akibat bencana tersebut.
Melihat perkembangan ini dari sudut pandang warga biasa bisa memberikan pemahaman lebih tentang betapa pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam membentuk lingkungan yang lebih aman dari ancaman kebakaran maupun bahaya lainnya. (alw/stch)
















