BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Di Kabupaten Banyumas, dari sekitar 1.300 sekolah dan madrasah yang ada, lebih dari 60 persen belum berhasil mendapatkan status Adiwiyata.
Hanya sekitar 33 persen dari total satuan pendidikan yang telah memenuhi kriteria sebagai sekolah yang peduli terhadap lingkungan.
Verifikator Adiwiyata dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas, Hafidz Darmawan, menjelaskan bahwa data tersebut belum mencakup pondok pesantren yang belum dimasukkan dalam data resmi.
Hafidz menyatakan, “Jumlah tersebut belum menghitung pondok pesantren.”
Pernyataan ini diungkapkannya pada Selasa (5/8), ketika membahas perkembangan program Adiwiyata di wilayah tersebut.
Saat ini, DLH Banyumas sedang melanjutkan proses penilaian Adiwiyata untuk madrasah-madrasah di daerah tersebut.
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyumas mendapatkan apresiasi karena aktif mendukung pelaksanaan program ini.
Pada pekan ini, dilakukan visitasi terhadap 26 Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang belum berstatus Adiwiyata.
Visitasi ini dimulai sejak Senin (4/8) dan akan berakhir pada Kamis (7/8). Pada Selasa (5/8), tim dari DLH mengunjungi tiga madrasah: MIM Pasir Muncang di Purwokerto Barat, MIM Karanglewas Kidul, dan MI Ma’arif Karangnangka.
Menurut Hafidz, penilaian Adiwiyata saat ini lebih menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan lingkungan yang dilakukan oleh warga sekolah.
Aspek fisik seperti gedung atau taman bukan lagi menjadi fokus utama penilaian.
Ia mengatakan, “Sekarang Adiwiyata itu yang dinilai lebih banyak ke kegiatan. Kalau untuk fisiknya sendiri yang diklaim hanya kebersihan sekolah, drainase, dan toiletnya saja.”
Ia berharap agar budaya peduli lingkungan tidak hanya muncul saat proses penilaian berlangsung tetapi benar-benar menjadi kebiasaan sehari-hari di sekolah maupun madrasah.
“Budaya bersih dan peduli dengan lingkungan harus menjadi budaya siswa, guru, dan seluruh warga sekolah dan madrasah,” tambah Hafidz.
Dinas Lingkungan Hidup terus mendorong keterlibatan aktif sekolah dan madrasah dalam upaya meningkatkan pencapaian status Adiwiyata di Banyumas.
Hal ini sejalan dengan misi untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan berkelanjutan yang dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi generasi penerus.
Program Adiwiyata sendiri merupakan salah satu inisiatif penting dalam bidang pendidikan lingkungan hidup di Indonesia.
Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah.
Dengan adanya program ini, diharapkan setiap sekolah dapat menjadi contoh dalam penerapan perilaku ramah lingkungan bagi siswanya.
Dalam pelaksanaannya setiap sekolah atau madrasah yang ingin memperoleh status Adiwiyata harus memenuhi beberapa kriteria tertentu seperti pengelolaan sampah secara baik penghijauan area sekolah penggunaan sumber daya secara efisien serta penerapan pembelajaran berbasis lingkungan hidup dalam kurikulum pendidikan.
Salah satu tantangan terbesar dalam implementasi program ini adalah bagaimana memastikan bahwa semua kegiatan terkait lingkungan hidup terus berlangsung secara konsisten bukan hanya ketika ada penilaian saja tetapi juga menjadi bagian integral dari budaya sehari-hari seluruh warga sekolah maupun masyarakat sekitarnya.
Dengan semakin banyaknya satuan pendidikan yang berhasil meraih status Adiwiyata maka akan semakin besar pula dampaknya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat khususnya dalam hal kesehatan serta kenyamanan tempat tinggal mereka berkat adanya lingkungan belajar yang hijau bersih sehat serta berkelanjutan.
Melalui kerja sama antara pihak-pihak terkait termasuk pemerintah pusat daerah institusi pendidikan organisasi non-pemerintah serta komunitas lokal dapat dipastikan bahwa tujuan mulia dari Program Adiwiyata bisa tercapai dengan baik demi masa depan bumi kita bersama. (yda/stch)
















