Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Prediksi Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: The Socceroos Jadi Harapan Terakhir Asia
7 Penyakit Berbiaya Tinggi yang Paling Banyak Ditanggung BPJS Kesehatan

7 Penyakit Berbiaya Tinggi yang Paling Banyak Ditanggung BPJS Kesehatan

BPJS KesehatanBPJS Kesehatan
Biaya pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan sepanjang 2025 mencapai Rp191,33 triliun. Penyakit katastropik menjadi penyerap anggaran terbesar dengan pembiayaan mencapai Rp50,3 triliun.

BANYUMASEKSPRES.ID, Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya pelayanan kesehatan sebesar Rp191,33 triliun, meningkat dibandingkan pengeluaran sepanjang tahun sebelumnya.

Nilai tersebut bertambah Rp15,2 triliun dari total biaya kesehatan tahun 2024 yang tercatat mencapai Rp176,11 triliun secara keseluruhan.

Kenaikan biaya pelayanan kesehatan itu terjadi seiring tingginya kebutuhan layanan kesehatan yang ditanggung melalui program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN.

Pada saat bersamaan, rasio klaim BPJS Kesehatan sepanjang 2025 mencapai 108,27 persen, sehingga nilainya lebih besar dibandingkan iuran diterima.

Meski demikian, cakupan kepesertaan program JKN tetap mengalami pertumbuhan hingga penghujung tahun, menunjukkan semakin luas masyarakat memperoleh perlindungan kesehatan nasional.

“Hingga 31 Desember 2025, jumlah peserta JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau mencakup 98,62 persen dari total seluruh penduduk Indonesia,” jelas Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito.

Besarnya biaya pelayanan kesehatan sepanjang tahun tersebut didominasi kelompok penyakit katastropik yang membutuhkan pengobatan dengan durasi relatif panjang dan biaya tinggi.

Menurut Pujo, penyakit katastropik menjadi kelompok penyakit yang paling banyak menyerap anggaran pelayanan kesehatan sepanjang tahun 2025 di Indonesia.

Selama 2025, penyakit katastropik menyerap sekitar 26,28 persen hingga 26,42 persen dari seluruh biaya pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan.

Akumulasi pembiayaan penyakit katastropik mencapai Rp50,3 triliun dengan total penanganan sekitar 59,9 juta kasus sepanjang tahun tersebut.

Tingginya biaya tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar penyakit katastropik sebenarnya masih memiliki peluang untuk dicegah sejak tahap awal.

“Penyakit katastropik ini sebagian besar sebenarnya bisa dicegah melalui penerapan pola hidup sehat dan deteksi dini,” imbau Pujo.

Data BPJS Kesehatan menunjukkan penyakit jantung menjadi penyumbang pembiayaan terbesar sepanjang 2025 dengan total sekitar 29,7 juta kasus ditangani.

Penanganan penyakit jantung tersebut menghabiskan anggaran mencapai Rp17,3 triliun sehingga menjadi komponen pembiayaan kesehatan terbesar sepanjang tahun 2025.

Posisi berikutnya ditempati gagal ginjal dengan sekitar 12,6 juta kasus yang membutuhkan pembiayaan sebesar Rp13,3 triliun selama tahun 2025.

Sementara itu, penyakit kanker berada pada urutan ketiga dengan total sekitar 7,1 juta kasus dan biaya mencapai Rp10,3 triliun.

Penyakit stroke juga menjadi salah satu penyerap anggaran terbesar setelah menghabiskan biaya Rp7,2 triliun dari sekitar 9,5 juta kasus.

Selain empat penyakit tersebut, BPJS Kesehatan juga menanggung pembiayaan hemofilia dengan total 84,8 ribu kasus sepanjang tahun 2025.

Pembiayaan hemofilia mencapai Rp909,6 miliar, sedangkan thalassemia menyerap anggaran sebesar Rp852,7 miliar dari sekitar 398,1 ribu kasus.

Di sisi lain, sirosis hati turut menjadi beban pembiayaan BPJS Kesehatan dengan total sekitar 311,3 ribu kasus sepanjang tahun.

Untuk penanganan sirosis hati, BPJS Kesehatan mengalokasikan biaya sebesar Rp278,1 miliar sebagai bagian pelayanan kesehatan sepanjang tahun 2025. (vip)

Berita Sebelumnya
Australia Jaga Asa Asia

Prediksi Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: The Socceroos Jadi Harapan Terakhir Asia