Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

780 Bencana Terjadi di Banyumas Sepanjang 2025, Tanah Longsor Dominasi hingga 587 Kasus

780 Bencana Hantam Banyumas780 Bencana Hantam Banyumas
LONGSOR: Rumah warga terdampak longsor di wilayah Gumelar, Banyumas, setelah tebing di sekitar permukiman runtuh

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, wilayah ini dilanda total 780 kejadian bencana.

Dari jumlah tersebut, tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi dengan total 587 kali insiden.

Selain itu, BPBD juga mencatat adanya 188 kejadian cuaca ekstrem, 71 banjir, satu kebakaran hutan dan lahan, serta tiga peristiwa bencana lainnya.

Data ini menggambarkan potensi ancaman bencana yang sangat besar di wilayah Banyumas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengungkapkan bahwa hampir seluruh wilayah Banyumas termasuk dalam kategori rawan bencana.

“Sekitar 99 persen wilayah Banyumas masuk kategori rawan bencana, mulai dari gerakan tanah hingga angin kencang,” ujarnya saat diwawancarai oleh awak media pada Senin (12/1).

Menurutnya, area dengan tingkat kerawanan tertinggi berada di bagian selatan hingga Kecamatan Gumelar.

Daerah ini memiliki kontur perbukitan dan curah hujan yang tinggi sehingga sangat rentan terhadap bencana longsor dan banjir.

Sebagai dampak dari berbagai kejadian bencana ini, BPBD mencatat kerugian dan kerusakan sementara mencapai Rp 3.083.250.000 selama tahun tersebut.

Angka ini diperoleh dari hasil kaji cepat tim BPBD di lapangan. Dalam upaya meminimalkan risiko bencana, BPBD terus meningkatkan langkah-langkah mitigasi termasuk pemantauan daerah rawan dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Optimalisasi layanan pusat panggilan darurat juga menjadi fokus utama BPBD agar setiap laporan dari warga dapat segera ditindaklanjuti.

“Respons cepat adalah kunci untuk meminimalkan dampak bencana sekaligus memastikan keselamatan warga,” tambah Dwi.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terutama saat intensitas hujan meningkat dan segera melaporkan ke petugas jika menemukan tanda-tanda potensi bencana di lingkungan mereka.

Kerentanan wilayah Banyumas terhadap tanah longsor disebabkan oleh faktor geografis dan iklim yang bersifat alami namun krusial untuk dipahami lebih dalam oleh masyarakat setempat.

Kontur perbukitan menciptakan kondisi stabilitas tanah yang rentan terganggu terutama saat curah hujan mencapai puncaknya seperti yang sering terjadi di musim penghujan.

Gumelar sebagai salah satu contoh wilayah dengan kerentanan tinggi menggambarkan situasi dimana tebing-tebing bisa runtuh sewaktu-waktu mengingat tekstur tanah yang gembur saat basah.

Langkah proaktif dari BPBD dalam menangani potensi ancaman ini patut diapresiasi meskipun tantangan tetap besar.

Melalui program edukasi dan sosialisasi terkait mitigasi bencana kepada masyarakat setempat diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan kesiapan menghadapi situasi darurat yang mungkin terjadi kapan saja.

Tantangan terbesar tidak hanya datang dari alam tapi juga dari keterbatasan sumber daya manusia dalam menangani volume pekerjaan yang meningkat seiring dengan tingginya angka kejadian bencana.

Oleh karena itu kolaborasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat lokal serta lembaga non-pemerintah sangat diperlukan guna menambah efektivitas penanganan di lapangan.

Sepanjang tahun 2025, upaya adaptasi dan mitigasi menjadi agenda penting dalam rangka mengurangi dampak dari berbagai peristiwa alam tersebut.

Hal ini sejalan dengan strategi global dalam menghadapi perubahan iklim dimana setiap elemen masyarakat memiliki peran penting untuk berpartisipasi aktif baik dalam skala lokal maupun nasional.

Bagi masyarakat Banyumas sendiri memahami karakteristik lingkungan tempat tinggal mereka menjadi salah satu langkah awal penting demi keselamatan diri dan keluarga ketika ancaman nyata mulai mendekat tanpa kompromi waktu ataupun tempat.

Edukasi mengenai tanda-tanda awal terjadinya longsor atau banjir harus terus ditekankan agar tindakan preventif bisa dilakukan lebih dini dibanding menunggu sampai situasi sudah terlalu serius untuk ditangani secara efektif. (zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Asus zenbook duo 2026 pengguna

⁠ASUS Zenbook DUO 2026 Hadir, Laptop Dual Screen dengan AI Canggih

Berita Selanjutnya
Tak Ada Pembangunan Lanjutan Gedung Baru DPRD Tahun Ini

Gedung DPRD Purbalingga Belum Bisa Digunakan, Pemkab Belum Alokasikan Anggaran Lanjutan