Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Akhmad Shobirin, Sosok di Balik Kesuksesan Ekspor Gula Aren Semedo Manise ke Pasar Global

BI Dorong Semedo Manise Menembus Pasar DuniaBI Dorong Semedo Manise Menembus Pasar Dunia
ANDALAN: Ketua Koperasi Semedo Manise, Akhmad Sobirin tengah menunjukan produk andalannya.

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan pedesaan yang acap kali terlupakan, muncul sebuah cerita inspiratif dari Akhmad Shobirin, seorang pionir yang telah berhasil memposisikan gula aren dari Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, ke panggung global.

Bermula dari profesi penderes yang kerap dipandang sebelah mata, Shobirin kini mampu menembus pasar ekspor dengan produk gula kelapa bermerek Semedo Manise, mengirimkan hingga 100 ton setiap bulannya ke berbagai negara.

Shobirin tumbuh dalam keluarga penderes, menyaksikan langsung kerasnya kehidupan yang harus dijalani para petani nira.

Mulai dari risiko jatuh saat memanjat pohon aren, harga gula yang tidak sebanding dengan usaha dan tenaga yang dicurahkan, hingga minimnya jaminan keselamatan kerja. Kondisi ini menumbuhkan tekad kuat dalam dirinya untuk melakukan perubahan signifikan.

“Setiap pulang dari kost selalu ada kabar penderes jatuh. Harga gula rendah, pendidikan mentok SMP, hidup sehari-hari hanya untuk makan besok,” ungkap Shobirin saat berbincang dengan awak media pada Rabu (3/12).

“Dari situ saya berpikir harus ada jalan supaya mereka bisa hidup lebih layak,” imbuhnya menegaskan tekadnya.

Setelah lulus dari Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Shobirin kembali ke kampung halamannya pada tahun 2012 dengan misi besar di benaknya. Ia mendirikan Kelompok Tani Magar Jaya yang beranggotakan 25 penderes.

Pendekatan yang ia lakukan berfokus pada peningkatan kualitas produk melalui produksi yang higienis serta pelatihan berkelanjutan bagi para petani nira.

Dukungan dari pemerintah daerah semakin memperkuat langkah Shobirin. Pada tahun 2013 hingga 2014, ia mendapatkan pelatihan dan peralatan yang membantu meningkatkan kapasitas produksi kelompok tani tersebut.

Kemudian pada tahun 2015 terbentuk kelompok kedua bernama Mugi Lestari dan penguatan modal serta fasilitas datang dari perusahaan swasta pada tahun 2018.

Konsolidasi ini kemudian memunculkan Koperasi Produsen Semedo Manise yang kini menaungi sekitar 1.000 anggota tersebar di beberapa kecamatan seperti Pekuncen, Gumelar, Purwojati, hingga Kedungbanteng.

“Intinya, petani harus jadi subjek bukan objek,” tegas Shobirin mengenai filosofi dasar gerakannya.

Langkah besar menuju pasar ekspor dimulai pada tahun 2021 meski awalnya koperasi hanya bertindak sebagai subkontraktor. Namun setahun berselang Semedo Manise berhasil mengekspor secara mandiri.

Saat ini sekitar 95 persen produksinya diserap pasar luar negeri mencakup Amerika Serikat, Eropa dan Asia.

Namun perjalanan menuju kancah internasional ini bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan utama adalah memenuhi kewajiban sertifikasi standar Eropa yang membutuhkan biaya besar.

“Biaya sertifikasinya bisa sampai Rp200 juta. Sertifikasi halal sama sekitar itu. Belum lagi pajak gaji karyawan peralatan. Omzet besar belum tentu untungnya besar,” jelas Shobirin memberikan gambaran tantangan finansial yang dihadapinya.

Di tingkat petani koperasi menetapkan harga beli tertinggi di wilayahnya yakni Rp24 ribu per kilogram disertai insentif bagi penderes yang menjaga kualitas produk mereka.

“Kalau kualitas bagus dapur mereka kami bantu dengan reward misalnya wajan seharga satu jutaan,” tuturnya memberikan contoh bentuk penghargaan kepada para petani.

Pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat bagi koperasi ini ketika ekspor terhenti dan arus kas mengalami kemacetan hingga Shobirin terpaksa menjual kendaraan pribadinya demi menutupi utang koperasi yang sempat mencapai Rp1,5 miliar.

“Itu titik terberat tapi kami bangkit lagi,” kenangnya dengan optimisme baru.

Kebangkitan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak terutama Bank Indonesia (BI) Purwokerto yang memberikan pendampingan terkait perluasan akses keuangan pembangunan fasilitas produksi hingga memfasilitasi pameran dan business matching bagi produk gula aren Semedo Manise.

Meski peluang pasar terbuka lebar tantangan terbesar justru berada di hulu yaitu regenerasi penderes muda. Dalam dua tahun terakhir jumlah petani berkurang 10–20 orang akibat faktor usia dan risiko kecelakaan kerja tinggi.

“Kalau pertanian tidak dikelola dengan manajemen baik dan teknologi tidak akan menarik buat anak muda,” ungkap Shobirin menjelaskan pentingnya inovasi dan manajemen dalam pertanian modern.

Sebagai solusi ia mendorong adanya jaminan sosial pemanfaatan teknologi panen serta pendapatan yang stabil melalui perubahan pola lama kelompok tani menjadi lebih modern meliputi pendidikan kualitas gula standar higienis harga beli tinggi pelatihan modern fasilitas BPJS Ketenagakerjaan dan kerja sama perbankan.

Hasil dari upaya ini mulai terlihat ketika para petani berlomba menjaga mutu produksi mereka sehingga mampu bersaing di pasar internasional. Bagi Shobirin Semedo Manise bukan sekadar kisah sukses dalam hal ekspor tetapi lebih kepada kebanggaan dan martabat desa.

“Saya ingin orang Semedo bangga bahwa dari desa inilah kualitas gula terbaik bisa lahir dan menembus Eropa,” katanya penuh harap sembari menutup percakapan dengan awak media.

“Koperasi ini bukan hanya soal gula tapi soal martabat,” pungkasnya memberi makna mendalam terhadap perjuangan kolektif tersebut. (ads/stch/fam)

Berita Sebelumnya
Tak Pakai "Guide" Lokal Terancam Didenda

Banyumas Terapkan Wajib Pemandu Wisata Lokal, Siap-siap Denda Jika Tidak Patuh

Berita Selanjutnya
Selain menggunakan NIK, mahasiswa dapat mengecek status bantuan KIP Kuliah melalui akun KIP Online

Cara Cek KIP Kuliah 2025 dengan NIK dan Akun KIP Online