BANYUMASEKSPRES.ID, ACEH – Dampak banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh selama lebih dari sebulan terakhir masih terasa hingga saat ini.
Sebanyak 40 hari berlalu sejak bencana tersebut, sejumlah daerah di Aceh masih terisolir akibat kerusakan berat pada infrastruktur jalan dan jembatan.
Kondisi ini menyebabkan beberapa wilayah hanya bisa dijangkau menggunakan transportasi udara untuk mendistribusikan bantuan logistik.
Situasi darurat ini sangat dirasakan di Kabupaten Bener Meriah, di mana empat kecamatannya, yaitu Pintu Rime Gayo, Mesidah, Syiah Utama, dan Timang Gajah, masih tergolong sulit untuk diakses.
Total penduduk yang terisolir mencapai 12.392 jiwa. Kerusakan akses darat memaksa pemerintah untuk beralih ke solusi alternatif dengan menggunakan helikopter guna memastikan bahwa penduduk di daerah-daerah terpencil tersebut mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Tidak hanya Bener Meriah yang mengalami kesulitan akses. Di wilayah lain seperti Aceh Tengah, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara, titik-titik tertentu juga hanya bisa dijangkau melalui jalur udara.
Ketua Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, M Nasir, menegaskan bahwa distribusi logistik melalui udara sangat krusial dalam situasi darurat ini.
“Pengiriman bantuan via udara difokuskan ke gampong-gampong yang masih terisolir akibat terputusnya akses darat,” ujar M Nasir kepada awak media pada Senin (5/1).
Dia menjelaskan bahwa distribusi bantuan disesuaikan dengan titik koordinat desa-desa dalam setiap kecamatan yang terdampak.
Bantuan lewat jalur udara kini menyasar desa-desa pedalaman di 52 kecamatan yang tersebar di berbagai kabupaten seperti Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Nagan Raya, Aceh Barat, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Bener Meriah.
Menyadari betapa pentingnya keterjangkauan informasi dalam situasi krisis ini, pemerintah provinsi telah mengimbau kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menginformasikan koordinat wilayah-wilayah yang belum dapat diakses secara maksimal.
“Di saat yang sama,” lanjut M Nasir menambahkan “pemerintah masih terus berupaya membuka kembali akses darat agar arus bantuan dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat segera pulih.”
Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memaksimalkan upaya pemulihan pasca-bencana dengan memfokuskan pada pembukaan kembali jalur transportasi darat.
Kondisi darurat bencana tidak hanya menuntut respons cepat dalam distribusi logistik tetapi juga membutuhkan perhatian khusus dalam pemulihan infrastruktur.
Pembukaan kembali akses jalan menjadi salah satu prioritas utama karena langsung mempengaruhi kelancaran pengiriman bantuan serta aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Meskipun tantangannya besar, pemerintah Aceh terus berupaya untuk memastikan bahwa seluruh wilayah terdampak mendapatkan perhatian dan bantuan yang diperlukan.
Dengan memperpanjang status tanggap darurat bencana, pemerintah berharap dapat memberikan waktu yang cukup bagi proses pemulihan infrastruktur hingga kondisi benar-benar pulih sepenuhnya.
Namun demikian tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memastikan bahwa upaya-upaya tersebut berjalan efektif dan efisien.
Koordinasi antar lembaga serta dukungan dari berbagai pihak sangatlah penting agar proses pemulihan bisa berjalan cepat dan tepat sasaran.(*/dda)
















