Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Akses Jalan Sijeruk–Prendengan Ditutup Total Akibat Pergerakan Tanah, Aktivitas Warga Terdampak

Kondisi jalan patah akibat tanah gerak di desa sijeruk kecamatan banjarmanguKondisi jalan patah akibat tanah gerak di desa sijeruk kecamatan banjarmangu
JALAN PATAH : Kondisi jalan patah akibat tanah gerak di Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu. Dok BPBD Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Bencana geologi berupa pergerakan tanah kembali terjadi di wilayah Banjarnegara, tepatnya di Kecamatan Banjarmangu. Dampaknya, akses jalan utama penghubung Desa Sijeruk dan Prendengan terpaksa ditutup total karena kondisi jalan yang ambles dan membahayakan keselamatan warga.

Panjang jalan yang terdampak mencapai sekitar 100 meter, dan mengalami ambles serta patah di beberapa titik. Penutupan jalan ini diberlakukan untuk semua jenis kendaraan demi menghindari potensi korban jiwa.

Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, mengonfirmasi bahwa gejala tanah bergerak pertama kali terdeteksi pada Selasa pagi, 13 Mei 2025. Menurutnya, kondisi tanah di kawasan tersebut memang tergolong labil dan sangat rentan terhadap longsor maupun retakan akibat cuaca ekstrem.

“Untuk keamanan, akses jalan kami tutup. Selain membahayakan, kondisi tanah juga masih terus bergerak, dan ini merupakan siklus tahunan akibat kondisi tanah yang labil,” ujar Aji, Rabu (14/5).

Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur Banjarnegara dalam beberapa hari terakhir memperparah kondisi tersebut. Akibatnya, sejumlah rekahan tanah besar muncul di wilayah Desa Sijeruk, terutama di RT 05 RW 03, yang menjadi salah satu titik paling terdampak.

“Amblas mencapai sekitar lima sentimeter di sejumlah titik. Jalan ini vital untuk aktivitas warga, jadi penutupan jelas berdampak besar terhadap sektor ekonomi dan pendidikan,” imbuh Aji.

BPBD Banjarnegara telah memasang tanda peringatan dan larangan melintas, serta melakukan pemantauan berkala terhadap perkembangan gejala pergerakan tanah. Meski belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa, potensi ancaman masih tinggi, sehingga kewaspadaan terus ditingkatkan.

“Kami belum menerima laporan kerusakan lain, tapi pemantauan terus kami lakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Selain berdampak langsung pada keselamatan pengguna jalan, penutupan jalan Sijeruk–Prendengan ini juga mengganggu aktivitas ekonomi warga yang sehari-harinya bergantung pada kelancaran transportasi antardesa.

Beberapa warga juga mengalami kesulitan mengakses fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan akibat jalur alternatif yang terbatas.

Pergerakan tanah seperti ini bukan hal baru di Banjarnegara, yang memang memiliki topografi perbukitan dan struktur tanah yang mudah labil. Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di zona rawan, untuk selalu waspada, khususnya saat musim hujan.

Penutupan akses jalan ini masih bersifat sementara hingga kondisi tanah dinyatakan stabil, dan pihak BPBD akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk langkah penanganan lanjutan. Rencana mitigasi bencana dan pembangunan jalur alternatif kini mulai dikaji agar dampak terhadap warga dapat diminimalisasi.

Dengan semakin intensnya fenomena geologi akibat faktor cuaca ekstrem, kesadaran terhadap bencana tanah longsor dan pergerakan tanah perlu ditingkatkan di wilayah-wilayah rawan seperti Banjarnegara.

Hal ini penting untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat dan kerugian ekonomi di masa mendatang. (jud/*stch)

Berita Sebelumnya
Petugas kesehatan hewan dari dinas saat mengecek ternak sapi.

Isu PMK Muncul Jelang Idul Adha, Penjualan Hewan Kurban di Purbalingga Mulai Meningkat

Berita Selanjutnya
Jemaah haji kedapatan bawa 1.000 bungkus rokok

Jemaah Haji Indonesia Kedapatan Bawa 1.000 Bungkus Rokok di Bandara Madinah