Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Ammar Zoni Bongkar Dugaan Pemerasan Oknum Polisi, Mengaku Masuk Sel Tikus 2 Bulan

Sempat Mendekam di Sel IsolasiSempat Mendekam di Sel Isolasi

BANYUMASEKSPRES.ID, Ammar Zoni kembali menjadi sorotan publik setelah menghadiri sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (8/1/stch).

Dalam sidang tersebut, aktor ini mengungkapkan pengalaman pahitnya selama menjalani hukuman di sel isolasi atau yang dikenal sebagai sel tikus selama dua bulan.

Pengalaman tersebut dialaminya lantaran ia menolak tuntutan dari oknum penyidik yang diduga melakukan pemerasan.

Ammar Zoni, yang dikenal melalui berbagai peran dalam dunia hiburan tanah air, menjelaskan bahwa tekanan dari oknum penyidik muncul setelah ia menolak untuk membayar sejumlah uang yang fantastis.

“Saya diperas oleh oknum polisi senilai Rp300 juta dan harus menanggung 10 orang lainnya dengan total bayaran Rp3 miliar agar kasus tersebut tidak berlanjut,” ungkap Ammar di hadapan hakim.

Tuntutan tersebut jelas membuat Ammar merasa terpojok, terlebih ketika ia dipaksa untuk bertanggung jawab atas seluruh dana tersebut.

Dalam kesaksiannya, Ammar dengan tegas menolak upaya pemerasan tersebut.

“Namun pada kenyataannya, dari para penyidiknya ini tetap menekan saya untuk bicara, ‘Ya sudahlah, yang jelas lu mau kayak gimana aja ini kasus enggak akan bisa naik. Yang penting lu siapkan dana Rp 300 juta per kepala’. Dan dia suruh saya nanggung semuanya, ada 10 orang, 3 miliar berarti saya harus siapkan dana. Saya bilang, lho, ini pemerasan namanya,” katanya.

Keberanian Ammar untuk menolak pembayaran itu membawa konsekuensi serius.

Dia akhirnya ditempatkan di sel tikus selama dua bulan sebagai hukuman atas penolakannya.

Sel tikus sendiri merupakan bentuk hukuman disiplin bagi narapidana yang dianggap melanggar aturan penahanan.

“Jangankan Rp300 juta, Rp3 juta juga saya enggak mau bayar. Dia membuat saya seolah-olah saya menjadi induknya, gitu loh. Saya menjadi orang terakhirnya,” tutur Ammar dengan nada penuh emosi.

Pengalaman mendekam di sel isolasi ini dirasakan Ammar sebagai sesuatu yang sangat menyiksa dan bukan karena kesalahan yang ia lakukan.

“Penyidik ini bilang kalau ini enggak akan naik, kalau bisa ini segala macam, sudah tenang saja. Dan pada dasarnya, kita setelah itu ditaruh di sel tikus selama dua bulan. Saya ngerasain sel tikus untuk sesuatu hal yang enggak saya lakukan,” ungkapnya lebih lanjut.

Kasus ini tentu menuai perhatian publik dan memicu pertanyaan mengenai integritas aparat penegak hukum dalam menangani perkara hukum secara adil dan transparan.

Dugaan adanya praktik pemerasan oleh oknum penyidik mengindikasikan adanya masalah serius dalam sistem peradilan yang selama ini dipercayakan untuk menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.

Kisah Ammar Zoni memberikan gambaran nyata atas tantangan yang kerap dihadapi individu ketika berhadapan dengan sistem hukum yang tidak selalu berpihak pada kebenaran.

Keputusannya untuk tidak menyerah pada tekanan dan mempertahankan keyakinannya meski harus menghadapi konsekuensi berat patut mendapat apresiasi.

Di balik semua itu, kasus ini juga menjadi momentum bagi masyarakat dan pihak berwenang untuk lebih memperhatikan praktik-praktik ilegal seperti pemerasan dalam proses penegakan hukum.

Diharapkan ada langkah nyata dari pihak terkait untuk memastikan bahwa setiap individu mendapatkan perlakuan adil dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Ammar Zoni kini menjadi simbol perlawanan terhadap praktik korupsi dalam proses hukum dan sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya integritas serta keberanian untuk melawan ketidakadilan meskipun risiko besar menghadang di depan mata. (*/dda)

Berita Sebelumnya
Defisit APBN 2025 Melebar ke 2,92 Persen PDB

APBN 2025 Defisit 695,1 Triliun, Kemenkeu Fokus Stimulus Ekonomi Berkelanjutan

Berita Selanjutnya
Motor Pelajar Tidak Standar Ditertibkan

Puluhan Pelajar Ajibarang Terjaring Penertiban Motor, Polisi Berikan Pembinaan Lalu Lintas