Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Angka Kematian Ibu di Banyumas Turun Drastis, Berada di Bawah Rata-rata Provinsi dan Nasional

AKI Banyumas Turun diAKI Banyumas Turun di
TURUN: AKI Banyumas 2025 turun menjadi 14 kasus dengan rasio 85,64 per 100 ribu kelahiran hidup, lebih rendah dari Jawa Tengah dan nasional

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor kesehatan, Kabupaten Banyumas berhasil mencatat penurunan jumlah kasus Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2025.

Capaian ini memberikan sinyal positif mengenai upaya peningkatan layanan kesehatan ibu di wilayah tersebut.

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyumas, Anton Ari Wibowo, SKM, M.Kes, jumlah kasus AKI tercatat sebanyak 14 kasus pada tahun 2025. Ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana terjadi 18 kasus.

“Penyebab kematian tertinggi yaitu karena penyakit penyerta tujuh kasus, pendaharan empat kasus dan preeklamsia tiga kasus,” ujar Anton dalam pernyataannya ketika ditemui oleh awak media pada Senin (23/2).

Data tersebut mengungkapkan bahwa penyakit penyerta masih menjadi faktor dominan penyebab kematian ibu yang wajib mendapat perhatian khusus dari pihak terkait.

Lebih jauh Anton menjelaskan bahwa meskipun terdapat penurunan jumlah kasus, persentase AKI per 100 ribu kelahiran hidup di Banyumas tetap berada di bawah angka provinsi maupun nasional.

Pada tahun 2025, persentase AKI Banyumas tercatat sebesar 85,64 per 100 ribu kelahiran hidup.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, angka AKI Jawa Tengah berada pada angka 90 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan angka nasional mencapai 122 per 100 ribu kelahiran hidup.

Capaian ini menempatkan Kabupaten Banyumas dalam posisi yang lebih baik jika dibandingkan dengan rata-rata provinsi dan nasional.

“Target tahun ini untuk AKI adalah 17 kasus,” terang Anton.

Target ini merupakan bagian dari upaya pengendalian dan pengawasan berkelanjutan terhadap kesehatan ibu hamil dan melahirkan.

Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak untuk terus berkolaborasi demi mencapai tujuan tersebut.

Selanjutnya, sebaran kasus AKI di Kabupaten Banyumas tidak merata di seluruh kecamatan.

Dari total 27 kecamatan yang ada, hanya sepuluh kecamatan yang tercatat memiliki kasus AKI sepanjang tahun lalu.

“Wilayah eks Kotip dengan kasus AKI teridentifikasi ada di Purwokerto Utara,” pungkas Anton.

Penting untuk dicatat bahwa penurunan angka kematian ibu merupakan indikator penting dalam menilai keberhasilan sistem kesehatan suatu daerah.

Dalam hal ini, Kabupaten Banyumas menunjukkan kemajuan yang signifikan melalui berbagai program dan kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintah daerah serta dukungan dari masyarakat.

Angka kematian ibu menjadi salah satu isu krusial dalam kesehatan masyarakat karena menyangkut keselamatan jiwa perempuan selama kehamilan dan pasca melahirkan.

Oleh karena itu, upaya untuk menurunkan angka ini harus dilakukan secara terencana dan terintegrasi antara berbagai sektor.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan ibu dan anak, Dinas Kesehatan setempat juga terus melakukan sosialisasi mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin serta pemberian akses layanan kesehatan yang memadai bagi setiap ibu hamil.

Hal ini bertujuan agar setiap perempuan hamil mendapatkan pelayanan yang optimal serta mampu mencegah risiko komplikasi yang dapat berujung pada kematian.

Kegiatan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya penyakit penyerta juga harus digencarkan agar para calon ibu lebih memahami kondisi kesehatan mereka selama masa kehamilan.

Penyakit seperti hipertensi ibu hamil atau diabetes gestasional memang sering kali tidak terdeteksi jika tidak dilakukan pemeriksaan secara berkala.

Selain itu, dukungan dari keluarga dan masyarakat juga sangat penting dalam menjaga kesehatan ibu hamil. Peran suami dan anggota keluarga lainnya dalam mendukung kebutuhan emosional serta fisik sangat besar dampaknya terhadap kesehatan ibu selama kehamilan.

Dengan adanya lingkungan sosial yang mendukung, diharapkan para ibu hamil dapat menjalani proses kehamilan dengan lebih baik. (yda/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Penjelasan resmi penghentian BLT Kesra tahun

Kenapa BLT Kesra Dihentikan Tahun 2026? Ini Alasannya

Berita Selanjutnya
Suporter Minta Hamzah Kembali ke Persibangga

Suporter Persibangga Purbalingga Gelar Aksi Damai Minta Hamzah Kembali Menjadi Manajer