Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Niat Menyelamatkan, Ayah dan Anak Meninggal dalam Sumur Pembuangan Limbah Jamur di Cilongok

Ayah dan anak meninggal di sumurAyah dan anak meninggal di sumur
Inafis Polresta Banyumas melakukan olah TKP di sumur tempat dua warga Desa Pejogol, Cilongok yang meninggal tercebur, Rabu (16/7).

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Sebuah tragedi menyayat hati terjadi di Desa Pejogol, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Insiden ini melibatkan seorang ayah dan putranya yang meninggal dunia di dalam sumur limbah jamur pada Rabu (16/7) siang.

Kejadian tragis ini bermula ketika sang ayah berusaha menyelamatkan anaknya yang lebih dulu terjatuh ke dalam sumur pembuangan limbah jamur itu.

Pada hari naas tersebut, seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun, MHAA, sedang bermain di sekitar rumah bersama teman-temannya.

Tanpa disadari oleh keluarganya, ia berjalan menuju bagian belakang rumah dan duduk di atas papan yang menutupi sumur pembuangan limbah jamur.

Diduga papan tersebut telah rapuh sehingga tidak mampu menahan berat tubuh sang bocah, menyebabkan ia terperosok ke dalam sumur dengan kedalaman lima meter.

“Saat itu, anak korban tengah bermain lalu tiba-tiba pergi ke belakang rumah. Papan yang menutupi sumur ternyata sudah lapuk dan tidak mampu menahan tubuhnya,” ujar Kepala UPT Damkar dan Penyelamatan Banyumas, Andaru Budilaksono.

Menyaksikan anaknya jatuh ke dalam sumur, M Rifki Saifudin (32) secara refleks turun ke dalam sumur untuk menyelamatkannya.

Namun malang tak dapat ditolak, ia mengalami sesak napas yang diduga akibat kekurangan oksigen atau paparan gas beracun sehingga tidak bisa keluar dari sumur tersebut.

Koordinator Unit Basarnas Banyumas, Trisno, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan insiden ini pada pukul 13.30 WIB. Tim gabungan dari Pemadam Kebakaran dan Basarnas segera dikerahkan untuk melakukan upaya evakuasi.

“Proses evakuasi memakan waktu sekitar 30 menit. Petugas turun menggunakan alat bantu pernapasan karena ada dugaan adanya gas beracun,” jelas Trisno.

Sumur tersebut memiliki diameter sekitar satu meter dengan penutup berupa papan berdiameter 30–40 sentimeter. Dalam evakuasi ini, petugas memastikan kondisi di dalam sumur aman sebelum memulai misi penyelamatan.

“Tim berhasil mengevakuasi Rifki pada pukul 14.49 WIB dalam kondisi meninggal dunia, kemudian jasad anaknya juga ditemukan pada pukul 15.02 WIB,” ungkap Trisno.

Beruntung tidak ada petugas yang mengalami cedera selama proses penyelamatan berlangsung. Kedua jenazah langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan sesuai dengan adat setempat.

Kejadian ini menjadi sebuah duka mendalam bagi masyarakat setempat sekaligus mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bahaya di lingkungan sekitar rumah.

Insiden serupa menunjukkan urgensi perawatan fasilitas rumah tangga agar selalu aman digunakan terutama jika terdapat anak-anak kecil yang rentan bermain tanpa pengawasan ketat dari orang dewasa.

Dalam kejadian memilukan ini pula terlihat bagaimana insting seorang ayah yang rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan anak tercinta meski akhirnya harus berakhir tragis.

Hal ini sekaligus menjadi penghormatan atas kasih sayang tulus seorang orang tua terhadap buah hatinya meskipun harus melalui pengorbanan terbesar yaitu nyawa sendiri. (alw/stch)

Berita Sebelumnya
Sindikat adopsi ilegal bayi terungkap

Modus Iklan Adopsi Bayi, Sindikat Adopsi Ilegal Bayi Lintas Negara Terungkap

Berita Selanjutnya
Pendapatan daerah ditarget rp 2,169 triliun

Pendapatan Daerah Purbalingga Ditarget Rp 2,169 Triliun