BANYUMASEKSPRES.ID, Curah hujan tinggi yang terjadi selama beberapa hari ke belakang nyatanya menjadi penyebab terjadinya bencana banjir Bali.
Terdapat beberapa titik wilayah banjir yang menyebar di seluruh Bali. Musibah ini pun bahkan harus mengakibatkan adanya korban tewas.
Sebelumnya, beberapa wilayah di Indonesia memang tengah diserang curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Intensitas hujan terus meningkat setiap harinya yang menyebabkan banyak aktivitas masyarakat terganggu.
Deretan musibah seperti tanah longsor, sungai meluap, atau bahkan banjir sudah mulai terjadi di beberapa daerah.
Salah satu wilayah yang saat ini tengah menyita perhatian publik adalah Bali yang sedang dilanda bencana banjir di beberapa wilayahnya.
Bencana banjir Bali ini kabarnya telah menimpa para warganya sejak 10 September lalu dan masih terus berlanjut hingga 11 September 2025 kemarin.
Musibah banjir yang tengah melanda wilayah Bali ini diduga terjadi karena tingginya curah hujan yang terjadi di wilayah tersebut dalam beberapa waktu.
Curah hujan di Bali dalam beberapa waktu kabarnya telah menyentuh angka 150 mm per hari, di mana hal tersebut sudah memasuki kategori berbahaya.
Namun, di sisi lain terdapat beberapa hal lainnya yang juga dikabarkan menjadi penyebab lain akan datangnya bencana banjir Bali ini.
Beberapa penyebab banjir Bali selain curah hujan tinggi meliputi infrastruktur drainasi yang kurang memadai, fenomena Gelombang Ekuatorial Rossby, dan kurangnya ruang terbuka hijau untuk dijadikan daerah resapan air.
Baru-baru ini, pihak BNPB telah mengungkap terkait akibat bencana banjir Bali yang telah berlangsung selama kurang lebih 2 hari ini. Menurut penuturan BNPB Bali, terdapat 16 korban tewas pada peristiwa ini.
Jumlah korban tersebut mengacu pada data dari pihak Pusdalops BPBD Bali pada 12 September 2025.
Kemungkinan akan korban tewas yang terus bertambah pun dikabarkan masih terus terbuka, mengingat saat ini kondisi banjir Bali masih belum surut sepenuhnya.
“Sampai saat ini sudah tercatat total korban tewas/meninggal dunia yang sudah berhasil ditemukan berjumlah 16 orang. Jumlahnya masih bisa terus bertambah mengingat kondisi yang belum normal,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB.
Korban tewas banjir Bali ini kabarnya tidak hanya berasal dari satu wilayah saja, melainkan tersebar dari beberapa area.

Sebagai rinciannya, 10 korban tewas dari Kota Denpasar, 2 korban dari Kabupaten Jembrana, 3 korban dari Kabupaten Gianyar, dan 1 korban dari Kabupaten Badung.
Proses penyusuran berbagai titik banjir pun terus dilakukan oleh pihak BNPB dan beberapa tim penyelamat gabungan.
Hal ini dilakukan sebagai upaya tanggap darurat baik untuk urusan pencarian korban maupun proses evakuasi para pengungsi.
“Petugas penyelamat gabungan juga tentunya sudah menjalani berbagai upaya tanggap darurat. Baik untuk pencarian korban, proses evakuasi, atau bahkan pengendalian banjir dan longsor yang nantinya berdampak kepada warga,” ujar Abdul Muhari.
Selain mengakibatkan timbulnya 16 korban tewas, BPBP Bali juga mengungkap bahwa hingga saat ini total warga yang harus mengungsi ke tempat yang lebih aman sudah mencapai jumlah 562 orang.
Dalam hal ini, terdapat 327 pengungsi dari wilayah Jembrana dan 235 pengungsi dari wilayah Denpasar.
Untuk menampung para pengungsi tersebut, pihak pemerintah memanfaatkan beberapa fasilitas umum seperti sekolah, musala, ataupun balai desa sebagai posko pengungsian sementaranya.
Bencana banjir Bali yang tengah terjadi saat ini juga cukup membawa kerugian materil yang cukup besar bagi pemerintah setempat.
Terdapat kurang lebih 16 titik bangunan jebol yang masing-masing di wilayah Gianyar, Denpasar, Badung, dan Karangasem.
Mayoritas bangunan yang jebol akan berbentuk pasar maupun ruko-ruko tempat berjualan. Total kerugian yang harus ditanggung dalam hal ini kabarnya mencapai nilai Rp4 miliar.
“Potensi kerugian material yang paling besar itu ada di wilayah Pasar Kumbasari di Jalan Sulawei, Denpasar dengan total Rp4 miliar. Beberapa kios dan ruko roboh, peralatan para pedagang yang ada di tempat juga turut hanyut,” ujar I Wayan Koster, Gubernur Bali.
Pihak BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Bali bahkan saat ini sudah menetapkan status tanggap darurat yang akan diberlakukan selama satu minggu ke depan.
“Awalnya status tanggap darurat akan ditetapkan dua minggu. Tetapi, kemudian diralat hanya akan diberlakukan selama satu minggu saja,” ujar Kepala BNPB Denpasar, Letjen TNI Suharyanto.
Penetapan status darurat ini bukan dimaksudkan sebagai pernyataan situasi genting. Melainkan sebagai salah satu langkah agar pemerintah pusat bisa menurunkan bantuan penanganan dampak bencana di Bali.
“Salah satu syarat untuk Pemda meminta bantuan kepada pusat itu dengan adanya surat siaga darurat dan tanggap darurat,” ujar Letjen TNI Suharyanto.
Terdapat kurang lebih 120 titik banjir yang menyebar di seluruh wilayah Bali. Pada Kota Denpasar terdapat 81 titik, Gianyar 14 titik, Tabanan, 8 titik, badung 12 titik, Karangasem & Jembaran masing-masing 4 titik, dan Klungkung yang juga membawa dampak ke Dawan.
Sedangkan, untuk bencana tanah longsor terdapat 12 titik di Karangasem, 5 titik di Gianyar, dan 1 titik di Badung.
Banyaknya dampak yang diakibatkan dari bencana banjir Bali ini tentunya membuat pihak BNPB dan Pemprov Bali bertindak cepat untuk melakukan upaya penanggulangan bencana ini.
Penanganan darurat bencana terus dilakukan oleh pihak BPBD dan BNPB setempat demi mencegah bertambahnya korban dalam musibah ini. (dpp)
















