Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

BPBD Banjarnegara Gelar Simulasi Tanggap Bencana Tanah Longsor di Dusun Margasari

Warga Margasari Panik Berlarian Hindari Tanah LongsorWarga Margasari Panik Berlarian Hindari Tanah Longsor
PANIK: Warga Kalibombong saat melakukan simulasi Bencana dengan melakukan evakuasi mandiri

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Warga Dusun Margasari di Desa Kalibombong, Kecamatan Kalibening, baru-baru ini menghadapi situasi yang menguji ketahanan mental dan kesiapsiagaan mereka terhadap bencana tanah longsor.

Dalam sebuah simulasi bencana yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, penduduk setempat dipacu untuk bertindak cepat dan efisien saat tanda bahaya muncul.

Simulasi ini bukan hanya sekadar latihan rutin, tetapi merupakan langkah strategis untuk mengedukasi warga tentang pentingnya reaksi cepat dan terkoordinasi dalam situasi darurat.

Pada hari pelaksanaan, bunyi sirene dari Early Warning System (EWS) bergema di seluruh dusun, memaksa warga untuk segera bergegas menuju titik aman yang telah ditentukan sebelumnya.

Satiyem, salah seorang warga Dusun Margasari, menggambarkan pengalaman tersebut sebagai momen yang mencengangkan.

“Awalnya panik, tapi setelah ikut simulasi jadi lebih paham. Sekarang kami tahu harus ke mana dan apa yang harus dilakukan,” ujarnya kepada awak media.

Kata-kata Satiyem ini mencerminkan perasaan kolektif masyarakat yang awalnya diliputi kepanikan namun kemudian menemukan keyakinan diri berkat pelatihan.

Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, menekankan bahwa simulasi ini dirancang untuk membiasakan warga bertindak secara mandiri tanpa menunggu komando saat situasi genting terjadi.

“Warga harus tahu apa yang harus dilakukan. Jangan menunggu panik atau bingung saat kondisi darurat benar-benar terjadi,” jelas Aji kepada Banyumas Ekspres.

Simulasi tersebut digelar setelah petugas mendeteksi potensi pergerakan tanah di tebing sekitar 200 meter dari permukiman warga.

Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat wilayah tersebut rawan longsor terutama saat musim hujan tiba.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan masyarakat bisa lebih siap menghadapi potensi bencana tanah longsor.

Saat sirene berbunyi dalam simulasi, reaksi kepanikan memang sempat terlihat di antara warga.

Namun, menurut Aji Piluroso, hal ini justru menjadi elemen penting dari latihan tersebut.

“Memang ada kepanikan, tapi itu wajar. Justru dari simulasi ini warga belajar bagaimana mengendalikan diri dan bergerak cepat,” ujarnya lagi.

Aji juga memperingatkan warga agar tetap waspada ketika hujan lebat turun disertai perubahan warna air menjadi keruh.

Kondisi ini sering kali menjadi indikasi awal pergerakan tanah yang dapat berujung pada longsor.

“Kalau tanda-tanda itu muncul, warga tidak perlu menunggu komando. Segera lakukan evakuasi mandiri,” tegas Aji dengan penuh keseriusan.

Dengan terus meningkatnya intensitas curah hujan akibat perubahan iklim global, simulasi semacam ini menjadi semakin relevan dan penting untuk dilaksanakan secara berkala.

Masyarakat didorong untuk selalu siaga dan memiliki rencana evakuasi mandiri guna meminimalisir risiko korban jiwa ketika bencana benar-benar melanda.

Kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana juga memerlukan dukungan infrastruktur serta sistem peringatan dini yang andal.

Pengembangan teknologi deteksi bencana seperti EWS menjadi salah satu solusi strategis dalam upaya mitigasi risiko bencana alam di daerah rawan seperti Kalibombong ini.

BPBD Banjarnegara secara aktif mengajukan peningkatan alokasi anggaran untuk memperkuat sistem pemantauan di daerah rawan longsor serta melibatkan lebih banyak partisipasi masyarakat dalam program-program edukatif tentang kebencanaan.

Edukasi sejak dini diyakini dapat membangun budaya sadar bencana sehingga setiap individu mampu bertindak cepat dan tepat pada waktunya.

Masyarakat Margasari kini lebih percaya diri menghadapi ancaman tanah longsor setelah mengikuti simulasi tersebut.

Mereka berharap program serupa dapat terus berlanjut dan diperluas ke wilayah lain di Banjarnegara yang memiliki kerentanan serupa terhadap bencana alam.

Upaya peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana tidak hanya akan menyelamatkan nyawa tetapi juga meminimalkan dampak kerugian material secara keseluruhan.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat lokal terus diperkuat demi terciptanya lingkungan yang lebih aman dan tangguh menghadapi berbagai kemungkinan bencana alam. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Trotoar Kawasan Titik Nol Dibersihkan

Trotoar Kawasan Titik Nol Cilacap Dibersihkan, Ruang Publik Semakin Nyaman

Berita Selanjutnya
Tawuran Dini Hari Digagalkan

Polresta Banyumas Gagalkan Tawuran Jalan KS Tubun Purwokerto, 12 Orang Berhasil Diamankan