Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

SPMB SMP Negeri Banyumas 2026 Berakhir, 128 Kursi Masih Kosong di 8 Sekolah

Delapan SMP Negeri Kekurangan Murid BaruDelapan SMP Negeri Kekurangan Murid Baru
PELAYANAN: Operator posko SPMB kabupaten di Dinas Pendidikan Banyumas ramai dikunjungi masyarakat sebelum ditutupnya pendaftaran, Rabu (24/6) pukul 16.00 WIB

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2026 di Kabupaten Banyumas berakhir pada Rabu (24/6) pukul 16.00 WIB, namun sejumlah kursi masih menyisakan kekosongan yang signifikan.

Dari total 73 SMP negeri yang ada di Banyumas, delapan di antaranya tercatat tidak berhasil memenuhi kuota murid baru yang ditargetkan.

Secara keseluruhan, jumlah kursi kosong mencapai angka 128 kursi, sebuah kondisi yang memprihatinkan bagi sistem pendidikan di daerah tersebut.

Data terbaru yang dihimpun oleh awak media menunjukkan bahwa SMPN 4 Kalibagor masih memiliki satu kursi yang belum terisi.

Di sisi lain, SMPN 4 Banyumas menyisakan sebanyak 19 kursi, sementara SMPN 1 Somagede hanya memiliki enam kursi kosong.

Tak hanya itu, SMPN 2 Somagede juga tercatat memiliki 16 kursi yang belum terisi.

Yang paling mencolok adalah SMPN 2 Tambak, yang menjadi sekolah dengan jumlah kursi kosong terbanyak, yaitu sebanyak 45 kursi.

Di belakangnya, terdapat SMPN 3 Gumelar dengan sisa 19 kursi, SMPN 3 Wangon dengan dua kursi kosong, dan terakhir SMPN 3 Lumbir dengan total 20 kursi yang belum terisi.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Banyumas, Dyah Ernawati Kurnianingsih, mengonfirmasi keberadaan delapan SMP negeri yang kuota murid barunya masih jauh dari target.

Dalam pernyataannya kepada awak media pada Kamis (25/6), Dyah menjelaskan bahwa langkah selanjutnya terkait ratusan kursi kosong ini masih menunggu hasil pembahasan lebih lanjut.

“Kami belum memutuskan langkah terhadap kekosongan ratusan kursi murid baru tersebut apakah bisa diisi dengan pembukaan pendaftaran offline atau tetap dikosongkan,” ungkapnya.

Menurut Dyah, salah satu kemungkinan penyebab tidak terpenuhinya kuota murid baru ini adalah jumlah lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di sekitar wilayah sekolah yang memang terbatas.

Faktor domisili menjadi salah satu elemen penting yang akan dievaluasi lebih lanjut dalam rapat penegasan yang akan segera dilakukan oleh Dinas Pendidikan Banyumas.

Dinas Pendidikan Banyumas berencana menggelar rapat untuk menegaskan hasil pelaksanaan SPMB SMP tahun ajaran 2026 ini.

Hasil dari rapat tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan mengenai sisa kursi kosong yang ada di berbagai sekolah.

“Daftar ulang murid baru dijadwalkan pada Senin (29/6),” jelas Dyah menambahkan informasi penting mengenai proses administrasi berikutnya.

Di tengah situasi ini, Kepala SMPN 1 Baturraden, Tri Agus Haryatno, memberikan pandangannya terkait rendahnya jumlah pendaftar jalur mutasi tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kondisi ini terpaksa membuat pihak sekolah melakukan pengalihan sisa kuota jalur mutasi ke jalur domisili agar semua daya tampung murid baru dapat terpenuhi.

“Ini merupakan kebijakan yang telah sesuai dengan petunjuk teknis pelaksanaan SPMB,” ungkap Tri Agus Haryatno.

Dengan pengalihan kuota tersebut, dia memastikan bahwa seluruh daya tampung murid baru di SMPN 1 Baturraden tetap dapat terisi penuh meskipun ada pengalihan kuota jalur mutasi ke jalur domisili.

“Itu sudah sesuai juknis. Kuota murid baru kami tetap 256 anak meski ada pengalihan kuota jalur mutasi ke domisili. Alhamdulillah terisi penuh,” pungkasnya dengan nada optimis.

Dalam situasi ini, muncul pertanyaan besar mengenai apa yang menyebabkan penurunan minat siswa untuk mendaftar di sejumlah sekolah negeri terutama di daerah pasca pandemi Covid-19.

Berbagai faktor dapat mempengaruhi keputusan orang tua dan siswa dalam memilih sekolah untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Salah satunya mungkin adalah persepsi tentang kualitas pendidikan dan fasilitas yang tersedia di masing-masing sekolah.

Selain itu, faktor ekonomi juga tidak dapat dipandang sebelah mata.

Beberapa orang tua mungkin lebih memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke lembaga pendidikan swasta atau memilih alternatif homeschooling karena alasan biaya atau jarak tempuh ke sekolah negeri yang dianggap terlalu jauh atau sulit dijangkau.

Sementara itu, tantangan lain juga muncul dari segi pemilihan lokasi tempat tinggal siswa dan aksesibilitas ke sekolah-sekolah tertentu.

Dalam beberapa kasus, orang tua mungkin merasa bahwa lokasi tempat tinggal mereka tidak mendukung untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah tertentu karena berbagai alasan seperti keamanan dan kenyamanan perjalanan sehari-hari.

Dengan adanya sisa kursi kosong ini, Dinas Pendidikan Banyumas harus mempertimbangkan secara serius langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan agar tidak ada siswa yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan terbaik di masa depan. (yda/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Pendaftaran CPNS

Cara Cek Formasi CPNS 2026 di SSCASN BKN Sesuai Jurusan dan Pendidikan

Berita Selanjutnya
Menangis Usai Comeback

Neymar Menangis Haru Saat Comeback, Brasil Bungkam Skotlandia 3-0 di Piala Dunia 2026