BANYUMASEKSPRES.ID, CHINA – China memanfaatkan berbagai teknologi canggih berbasis sistem tanpa awak untuk mempercepat proses penyelamatan korban banjir bandang yang dipicu topan di wilayah Guangxi Zhuang.
Dalam operasi tanggap darurat tersebut, pemerintah mengerahkan drone, perahu robot, hingga sistem komunikasi berbasis satelit guna membantu evakuasi warga, memulihkan jaringan komunikasi, serta mendistribusikan bantuan logistik ke daerah-daerah yang terisolasi akibat bencana.
Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Guangxi menyebabkan sejumlah sungai meluap dan memicu banjir bandang di berbagai kawasan.
Luapan air juga berdampak pada waduk serta memutus akses transportasi menuju sejumlah desa.
Selain menghambat proses evakuasi, kondisi tersebut menyebabkan jaringan komunikasi di beberapa wilayah terputus sehingga menyulitkan koordinasi antara warga dan tim penyelamat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Manajemen Darurat China mengerahkan dua unit drone darurat Wing Loong.
Pesawat tanpa awak berteknologi tinggi itu diterbangkan ke kawasan terdampak guna menghadirkan kembali jaringan komunikasi sementara yang sebelumnya lumpuh akibat banjir.
Keberadaan drone Wing Loong terbukti sangat membantu proses penyelamatan.
Saat mengudara di atas wilayah yang terisolasi, drone berhasil memulihkan sinyal telepon seluler sehingga lebih dari 180 warga yang sebelumnya kehilangan akses komunikasi dapat kembali menghubungi keluarga maupun petugas penyelamat.
Teknologi tersebut juga memungkinkan koordinasi evakuasi berlangsung lebih cepat dan efektif.
Selain berfungsi sebagai pemancar komunikasi darurat, drone Wing Loong dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan wilayah terdampak banjir.
Melalui kamera dan sensor yang dibawanya, drone mampu memberikan gambaran kondisi lapangan secara real-time sehingga tim penyelamat dapat menentukan jalur evakuasi yang paling aman sekaligus mengidentifikasi lokasi warga yang membutuhkan pertolongan.
Pemerintah China juga memanfaatkan armada drone lainnya untuk mengirimkan bantuan logistik ke wilayah yang sulit dijangkau kendaraan darat.
Berbagai kebutuhan pokok seperti makanan siap saji, air minum, obat-obatan, hingga perlengkapan darurat didistribusikan melalui jalur udara menggunakan drone.
Tidak hanya pemerintah, sejumlah perusahaan teknologi dan sukarelawan juga turut berpartisipasi dalam operasi kemanusiaan tersebut.
Mereka menerbangkan drone sipil untuk membantu pengiriman bantuan kepada masyarakat yang masih terjebak banjir.
Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dinilai mampu mempercepat distribusi logistik sekaligus mengurangi risiko yang dihadapi petugas di lapangan.
Di wilayah Qinzhou, pemerintah China juga mengoperasikan perahu tanpa awak atau robot otonom untuk memantau kondisi sungai secara langsung.
Perahu tersebut dilengkapi berbagai sensor yang mampu mengumpulkan data mengenai tinggi muka air, arus sungai, hingga kondisi lingkungan secara real-time.
Informasi yang dikumpulkan perahu robot kemudian digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan waduk serta strategi penanganan banjir.
Dengan memanfaatkan teknologi tanpa awak, pemerintah dapat memperoleh data secara akurat tanpa harus menempatkan petugas di lokasi yang berisiko tinggi.
Peneliti Senior Akademi Ilmu Sosial Beijing, Wang Peng, menilai penggunaan teknologi modern dalam operasi penyelamatan menunjukkan bahwa inovasi digital dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya saat menghadapi situasi darurat.
Menurut Wang, kerja sama antara pemerintah dengan perusahaan teknologi berhasil menciptakan sistem penanganan bencana yang lebih cepat, efisien, dan aman.
Pemanfaatan drone komersial bersama tim penyelamat resmi bahkan mampu membentuk jalur distribusi bantuan melalui udara yang mempercepat proses penyelamatan korban.
Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi seharusnya memang diarahkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Penggunaan drone, robot, serta sistem komunikasi satelit dalam penanganan banjir menjadi contoh bagaimana inovasi dapat meningkatkan efektivitas operasi kemanusiaan sekaligus meminimalkan risiko bagi petugas penyelamat.
Pemanfaatan teknologi tanpa awak dalam penanganan banjir di Guangxi memperlihatkan semakin besarnya peran inovasi digital dalam manajemen bencana modern.
Dengan dukungan drone, robot, dan jaringan komunikasi darurat, proses evakuasi warga, distribusi bantuan, serta koordinasi penyelamatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Model penanganan bencana seperti ini dinilai berpotensi menjadi referensi bagi berbagai negara dalam menghadapi bencana alam yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. (*/stch/dda)
















