Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

China Investasi 16 Proyek Bernilai 36,4 Triliun di Indonesia, Fokus pada Teknologi dan Manufaktur

Indonesia–China Perkuat Kerja Sama StrategisIndonesia–China Perkuat Kerja Sama Strategis
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus mengupayakan peningkatan hubungan bilateral dengan berbagai negara mitra strategis untuk memperkuat kepentingan nasional dan mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang.

Salah satu mitra utama yang menjadi fokus adalah China, di mana kerja sama strategis berkembang dalam berbagai bidang seperti perdagangan, investasi, dan industri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa hubungan kerja sama antara Indonesia dan China sangat terbuka serta menawarkan peluang besar bagi kedua negara.

“Ini adalah pasar besar yang menawarkan peluang bagi kedua negara,” ujar Airlangga dalam pernyataannya pada Senin (12/1).

Dengan populasi mencapai 1,4 miliar jiwa, China merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia, sementara Indonesia berada di urutan keempat dengan 285 juta jiwa.

Kedua negara ini juga merupakan anggota G20, di mana China memiliki ekonomi terbesar kedua di dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 17,8 triliun dan Indonesia sendiri memiliki PDB senilai US$ 1,4 triliun.

“Jadi ini benar-benar merupakan tonggak penting bahwa kolaborasi dan kerja sama antara kedua negara terbuka,” kata Airlangga.

Dalam hal perdagangan internasional, China telah menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan nilai perdagangan yang diproyeksikan mencapai US$ 135,2 miliar pada tahun 2024.

Selain itu, kerja sama antar kedua negara ini juga mengalami kemajuan signifikan melalui inisiatif Two Parks Twin Countries (TCTP).

Inisiatif TCTP dirancang sebagai kerangka untuk memperkuat kolaborasi industri sehingga mampu memfasilitasi investasi serta mengintegrasikan rantai pasok secara lebih efisien.

Nota Kesepahaman terkait inisiatif TCTP pertama kali diluncurkan pada tahun 2021 dan telah diperbarui pada Mei 2025.

Penandatanganan pembaruan ini dilakukan oleh Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok Wang Wentao, dengan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Li Qiang.

Sebagai bagian dari penguatan kerja sama TCTP tersebut, sebanyak 16 proposal proyek ditandatangani antara perusahaan-perusahaan Fujian dan mitra-mitra Indonesia dengan total nilai mencapai Rp 36,4 triliun atau setara dengan sekitar US$ 2,19 miliar.

Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis yang penting bagi kedua negara seperti logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil, teh, furnitur hingga teknologi tinggi seperti drone dan kecerdasan buatan.

“Ke depannya, Indonesia menyambut baik kolaborasi yang lebih mendalam di bidang infrastruktur, logistik, industri hilir dan manufaktur serta energi terbarukan,” jelas Airlangga.

Airlangga juga menambahkan bahwa ekonomi digital serta inovasi teknologi seperti AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan dan komputasi kuantum menjadi fokus penting dalam kolaborasi ini.

Tak kalah pentingnya adalah aspek ketahanan pangan dan kesehatan serta pengembangan sumber daya manusia yang turut menjadi bagian integral dari agenda penguatan hubungan bilateral ini.

Melihat potensi pertumbuhan ekonomi global yang semakin dinamis serta tantangan-tantangan baru yang muncul akibat perubahan teknologi yang cepat maka kerjasama semacam ini dinilai sangat krusial bagi keberlanjutan perkembangan ekonomi nasional. (*/dda)

Berita Sebelumnya
Kelompok Tani Dapat Harga Lebih Baik

Strategi Pemerintah Kebumen Meningkatkan Pendapatan Petani Lewat MBG Nglarisi Pasar

Berita Selanjutnya
setiap sekolah Kedinasan diberi kewenangan menetapkan syarat administratif, akademik, hingga fisik

Daftar Sekolah Kedinasan yang Menerima Lulusan SMK 2026, Peluang Tetap Terbuka