Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Dari Jualan Bubur ke Tanah Suci: Kisah Haru Sumiyati Naik Haji Bersama Ibu

Doa Tak Henti Berujung ke Tanah SuciDoa Tak Henti Berujung ke Tanah Suci
CALON HAJI: Sumiyati saat melayani pembeli bubur langganan pada lapak sederhana miliknya di Pasar Tanjungsari

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Di tengah keramaian Pasar Tanjungsari, Cilacap, terdapat sebuah kisah inspiratif yang layak untuk disimak.

Kisah ini bukanlah sebuah fiksi yang diambil dari sinetron populer “Tukang Bubur Naik Haji”, melainkan kenyataan hidup yang dialami oleh seorang wanita bernama Sumiyati.

Wanita berusia 49 tahun ini merupakan penjual bubur sumsum yang setiap pagi dengan setia melayani pelanggannya di lapak sederhana miliknya.

Di balik rutinitasnya sebagai pedagang, tersimpan mimpi besar yang telah ia rawat dalam diam selama bertahun-tahun.

Sejak tahun 2018, Sumiyati mulai menabung sedikit demi sedikit dari hasil penjualannya.

Meski angka yang ia kumpulkan tidak besar, langkahnya untuk menggapai impian berangkat haji tetap gigih dan penuh harapan.

Dengan segala keterbatasan dan kebutuhan hidup yang terus berjalan, Sumiyati memiliki tekad bulat untuk mewujudkan impiannya menjejakkan kaki di Tanah Suci.

“Alhamdulillah, senang sekali bisa berangkat haji tahun ini,” ungkapnya pada Rabu (22/4/2026), suaranya bergetar menahan haru saat mengungkapkan kebahagiaannya.

Tahun 2026 merupakan jawaban atas penantian panjangnya. Sumiyati terdaftar sebagai calon jemaah haji dan tergabung dalam kloter 76, yang dijadwalkan berangkat pada 16 Mei mendatang.

Lebih menggembirakan lagi, Sumiyati tidak akan berangkat sendirian. Di sampingnya ada sosok istimewa yang selama ini menjadi alasan ia bertahan dalam setiap tantangan hidup: sang ibu, Saniyem, yang kini berusia 72 tahun.

Perempuan yang dulunya merintis usaha bubur itu kini akan melangkah bersamanya menuju Tanah Suci.

Saniyem sendiri telah mendaftar untuk menunaikan ibadah haji sejak tahun 2012 silam.

Takdir mempertemukan keduanya dalam waktu keberangkatan yang sama berkat program penggabungan mahram.

“Alhamdulillah bisa berangkat bareng ibu. Saat ini kami mempersiapkan diri dengan menjaga kesehatan dan mengikuti manasik haji,” kata Sumiyati.

Perjalanan haji bagi Sumiyati bukan sekadar ritual ibadah semata; bagi dirinya, ini adalah bentuk bakti dan penghormatan kepada ibunda tercinta.

Ini adalah perjalanan panjang seorang anak yang ingin menuntaskan doa bersama ibunya.

Melalui kesempatan ini, ia berharap dapat memperkuat ikatan spiritual serta membawa pulang pengalaman berharga dari Tanah Suci.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Cilacap, Banu Tolib, juga memberikan pandangannya terkait kisah inspiratif ini.

Ia mengatakan bahwa cerita Sumiyati menjadi pengingat bahwa bagi mereka yang sungguh-sungguh berniat dan berusaha, selalu ada jalan menuju impian mereka.

“Kisah Sumiyati menunjukkan bahwa keberhasilan dapat diraih melalui kerja keras dan ketekunan,” ujarnya.

Di tengah kesibukan pasar yang hiruk pikuk, mungkin orang-orang melihat Sumiyati hanya sebagai seorang pedagang biasa.

Namun di balik tangannya yang setiap hari mengaduk bubur sumsum, terdapat keteguhan hati dan keinginan tak tergoyahkan untuk mewujudkan mimpi besarnya: pergi ke Tanah Suci.

Ketika kisah “Tukang Bubur Naik Haji” menyentuh hati banyak orang di layar televisi, kini kisah itu menjelma menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan dengan skenario dramatis atau kamera canggih, tetapi melalui perjuangan nyata yang dilakukan oleh Sumiyati dan ibunya.

Dari lapak kecil di pasar hingga langkah mereka menuju Tanah Suci benar-benar menunjukkan kekuatan iman dan harapan.

Bagi banyak orang, perjalanan haji sering kali dianggap sebagai tujuan akhir dalam menjalani ibadah spiritualitas seseorang. Namun bagi Sumiyati, perjalanan ini jauh lebih berarti.

Ini adalah simbol cinta serta pengorbanan antara seorang anak dan ibunya—sebuah bukti bahwa dengan ketekunan dan keyakinan tinggi, mimpi dapat terwujud meski terlihat sulit dijangkau.

Sumiyati juga berharap agar kisahnya bisa menginspirasi orang lain untuk tidak pernah menyerah pada impian mereka.

Dalam dunia perdagangan yang keras seperti saat ini, sering kali banyak orang merasa putus asa ketika menghadapi berbagai rintangan ekonomi atau sosial.

Namun dengan semangat juang seperti yang ditunjukkan oleh Sumiyati, siapa pun bisa mencapai tujuan mereka jika mereka mau bekerja keras dan memiliki keyakinan.

Sementara itu, masyarakat sekitar juga memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah persiapan Sumiyati dan Saniyem menjelang keberangkatan mereka ke Tanah Suci.

Banyak pelanggan setia lapak bubur sumsum tersebut memberikan ucapan selamat serta doa agar perjalanan mereka lancar dan diberkahi selama berada di tanah suci.

Cerita perjalanan hidup Sumiyati tidak hanya menggambarkan harapan akan masa depan tetapi juga merupakan refleksi dari keberanian seseorang dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari.

Ini adalah kisah ketahanan wanita Indonesia dalam mengejar cita-cita meski harus melewati jalan terjal penuh rintangan.

Sebagai bagian dari masyarakat yang mendukung cita-cita mulia seperti ini, kita semua diingatkan akan pentingnya saling membantu serta memberi motivasi kepada sesama agar tidak mudah menyerah dalam mencapai apa pun impian mereka walaupun terkadang harus melalui jalan panjang nan sulit.

Melihat kebangkitan semangat dari kisah jemaah haji asal Cilacap ini membuat kita semakin percaya bahwa setiap usaha baik akan membuahkan hasil pada waktunya nanti—bahwa mimpi itu dapat terwujud jika kita mau berjuang untuk mencapainya dengan sepenuh hati. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kloter Perdana Haji 2026 Berangkat

391 Jemaah Haji RI Kloter Pertama Berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Berita Selanjutnya
Pajak Kendaraan Listrik Berubah Skema

Aturan Baru Pajak Kendaraan Listrik 2026 Resmi Terbit, Ini Dampaknya bagi Pemilik EV