Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Dewan Harap BGN Tidak Tutup Mata Terkait Usulan Ikan Lele Masuk Menu MBG

Dewan harap bgn tidak tutup mataDewan harap bgn tidak tutup mata
Anggota DPRD Kabupaten Kebumen, Wahid Mulyadi.

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Usulan untuk memasukkan ikan lele sebagai menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kebumen menimbulkan beragam tanggapan, termasuk dari Anggota DPRD Kabupaten Kebumen, Wahid Mulyadi, yang mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) VI.

Wahid Mulyadi berharap agar Badan Gizi Nasional (BGN) dapat mempertimbangkan usulan tersebut secara serius. Menurutnya, keberadaan ikan lele dalam menu MBG akan menambah variasi dan keanekaragaman gizi bagi para siswa, mencegah kebosanan dalam konsumsi makanan.

“Ikan lele bisa menjadi alternatif selain ayam, telur, dan daging sapi. Dengan variasi yang lebih banyak, para siswa dan penerima manfaat lainnya tidak akan merasa bosan,” ujar Wahid Mulyadi pada Selasa (27/7).

Ia juga menekankan bahwa penambahan ikan lele ke dalam menu tidak hanya memperkaya variasi makanan tetapi juga mendukung kesejahteraan peternak lokal. Banyak masyarakat di daerah Kebumen yang menggantungkan hidupnya pada budidaya ikan lele.

Dengan memasukkan ikan lele dalam program ini, diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi para peternak kecil.

“Jika memungkinkan, ini bisa menjadi langkah yang sangat bagus. Protein yang terkandung dalam lele sangat baik dan tentu saja ini akan berdampak luas kepada masyarakat terutama para peternak kecil,” tambahnya dengan tegas.

Wahid Mulyadi juga menjabat sebagai Ketua DPC PPP Kebumen, yang menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan kesejahteraan lokal melalui kebijakan pangan bergizi.

Di sisi lain, seorang peternak lele di Kebumen bernama Akif Fatwal Amin menyampaikan harapannya agar ikan lele bisa segera masuk ke dalam menu Program MBG.

Ia mengaku sudah mencoba berdiskusi dengan pihak dapur umum terkait usulan ini namun masih harus dipertimbangkan lebih lanjut.

Menurut Akif, salah satu tantangan utama adalah ukuran ompreng atau wadah makanan yang digunakan saat distribusi makanan bergizi gratis tersebut. Ukuran ompreng dinilai tidak cukup untuk memasukkan ikan lele utuh karena ukurannya yang terlalu besar.

“Kalau begitu mungkin solusinya adalah membuat filet dari ikan lele sehingga bisa masuk ke dalam ompreng dan aman dikonsumsi karena tidak mengandung duri,” ucap Akif penuh harap.

Keberadaan program seperti MBG ini memang sangat penting untuk mendukung gizi anak-anak sekolah sekaligus menstimulasi perekonomian lokal.

Dengan adanya variasi menu seperti penambahan ikan lele, program ini bisa semakin optimal dalam perannya menyediakan asupan nutrisi bagi generasi muda serta memberikan kontribusi positif bagi sektor perikanan lokal.

Selain itu, perlu adanya kolaborasi antara berbagai pihak terkait untuk memastikan bahwa setiap aspek dari program ini berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat.

Mulai dari pemerintah daerah hingga para peternak dan tenaga pengolah makanan perlu berkoordinasi secara efektif agar tujuan dari program MBG dapat tercapai dengan maksimal.

Perhatian terhadap aspek gizi anak-anak sekolah bukanlah hal baru di Indonesia namun tetap menjadi isu penting seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan gizi yang semakin kompleks.

Oleh karena itu, inovasi seperti memasukkan ikan lele ke dalam menu merupakan langkah positif menuju perbaikan kualitas gizi anak-anak sekaligus membantu pertumbuhan ekonomi lokal khususnya bagi peternak kecil di daerah-daerah seperti Kebumen.

Melalui dialog konstruktif antara pemangku kepentingan seperti Wahid Mulyadi dan para peternak seperti Akif Fatwal Amin, diharapkan solusi terbaik dapat ditemukan demi kebaikan bersama.

Keberlanjutan program-program semacam ini sangat bergantung pada kesediaan semua pihak untuk bekerja sama serta fleksibilitas dalam menghadapi tantangan-tantangan praktis di lapangan.

Mendorong partisipasi aktif dari masyarakat setempat juga menjadi kunci suksesnya pelaksanaan program MBG ini secara keseluruhan.

Dengan melibatkan suara-suara dari berbagai elemen masyarakat maka keputusan-keputusan yang diambil akan lebih inklusif serta menghargai kontribusi masing-masing pihak dalam proses tersebut.

Dengan begitu harapan agar program Makan Bergizi Gratis tidak hanya sekadar menjadi bantuan sementara tapi juga mampu menciptakan perubahan jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat terutama anak-anak sebagai penerus bangsa dapat terwujud nyata. (mam/stch)

Berita Sebelumnya
Pkd klj 2025

Bantuan PKD DKI Jakarta Rp300 Ribu Cair Juli 2025, Cek Rekening Sekarang

Berita Selanjutnya
Inilah panduan lengkap dan anti gagal untuk klaim saldo dana gratis dari fitur dana kaget yang sedang ramai dibicarakan

Cara Klaim Saldo DANA Gratis 2025 dari Fitur DANA Kaget yang Sedang Viral