BANYUMASEKSPRES.ID, Artis senior Diah Permatasari blak-blakan mengenai gaya parenting yang diterapkannya kepada kedua anaknya.
Meski buah hatinya kini telah beranjak dewasa, pemeran film Si Manis Jembatan Ancol tersebut mengaku masih menjadi orang tua yang sangat protektif, bahkan menyebut dirinya overprotective.
Diah mengatakan, sikap tersebut muncul karena dirinya merasa tantangan yang dihadapi anak-anak zaman sekarang berbeda dengan ketika dirinya masih muda.
Karena itu, ia merasa tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengawasan, terutama dalam hal pendidikan, perilaku, dan pergaulan.
“Aku orangnya protektif ya, overprotective malah. Karena kan zaman sekarang tuh beda sama zaman saya dulu. Jadi saya enggak mau nanti kalau saya itu lalai gitu lho. Karena bagaimanapun anak tuh masih tanggung jawab saya sebagai orang tua,” ujar Diah saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.
Bagi Diah, menjadi orang tua tidak berarti berhenti memberikan perhatian ketika anak mulai dewasa.
Terlebih, salah satu putranya kini sedang menempuh pendidikan jauh dari Indonesia.
Putra Diah, Marciano Nicholas Reynard, saat ini sedang menempuh pendidikan di University of Southern California (USC), Los Angeles, Amerika Serikat.
Jarak yang sangat jauh membuat Diah tidak dapat memantau sang putra secara langsung seperti ketika masih berada di Indonesia.
Perbedaan waktu sekitar 14 jam juga menjadi tantangan tersendiri dalam komunikasi keduanya.
Diah mengaku komunikasi melalui WhatsApp tidak selalu berjalan lancar. Pesan yang dikirim kepada Marciano terkadang baru mendapatkan respons beberapa hari kemudian.
Kondisi tersebut membuat Diah mencari cara lain untuk mengetahui keberadaan putranya.
Ia kemudian memanfaatkan aplikasi Snapchat untuk memantau lokasi Marciano.
“Saya itu kalau ngecek dia menggunakan Snapchat. Karena Snapchat tuh bisa saya lihat dia di mana, dia ada di mana, dia di rumah, dia di sekolah, dia apa, tuh ketahuan,” tutur Diah.
Menurut Diah, fitur lokasi tersebut membuatnya bisa mengetahui keberadaan sang anak ketika sedang menjalani aktivitas di luar rumah maupun kampus.
Cara tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian Diah sebagai ibu yang masih merasa khawatir meski anaknya sudah dewasa dan tinggal jauh di luar negeri.
Diah juga menceritakan kendala komunikasi yang kerap dialaminya ketika menghubungi Marciano melalui WhatsApp.
Ia mengaku pesan yang dikirim terkadang tidak langsung mendapatkan balasan.
Bahkan, respons dari sang putra bisa baru diterima beberapa hari setelah pesan dikirim.
Namun, ada satu cara yang menurut Diah cukup efektif untuk membuat Marciano segera merespons. Ia biasanya menambahkan kata “Urgent” dalam pesan yang dikirim.
“Kalau menggunakan WA nggak pernah dibalas. Bisa 3 hari kemudian gitu. Kalau nggak, saya ngomongnya ‘Urgent!’, dia langsung ‘Mama, ada apa Ma?’. Aku sibuk, katanya. Memang agak repot karena perbedaan waktunya gila, 14 jam,” jelasnya.
Perbedaan waktu antara Indonesia dan Los Angeles membuat komunikasi keduanya memang tidak selalu mudah.
Diah pun memahami bahwa Marciano memiliki kesibukan sendiri sebagai mahasiswa.
Meski demikian, rasa khawatir sebagai orang tua membuat Diah tetap berusaha mengetahui kondisi putranya.
Kebiasaan Diah memantau keberadaan Marciano ternyata tidak selalu diterima begitu saja oleh sang anak.
Diah mengungkapkan bahwa putranya sempat melayangkan protes karena merasa terlalu diawasi.
Marciano bahkan disebut sudah mengetahui cara yang digunakan sang ibu untuk memantau keberadaannya.
Meski mendapat protes, Diah mengatakan dirinya masih sulit menghilangkan rasa khawatir.
Jarak Indonesia-Amerika Serikat membuat kekhawatiran tersebut semakin terasa karena ia tidak dapat melihat kondisi anaknya secara langsung.
“Oh iya, (anak) sangat protes! Makanya dia udah tahu siasatnya, didiemin aja. Terus kalau nggak dia suka gini, ‘Mami jangan terlalu kayak gitu dong’. Tapi gimana ya, saya sebagai orang tua kan suka waswas ya, jauh banget gitu,” ujar Diah.
Sikap Diah tersebut menggambarkan bagaimana dirinya masih berusaha menjaga komunikasi dan memberikan perhatian meski anaknya sudah memasuki usia dewasa.
Diah mengakui bahwa dirinya menyadari anak-anaknya sudah tumbuh dewasa. Namun, menurutnya, rasa tanggung jawab sebagai orang tua tetap ada.
Ia ingin memastikan anak-anaknya tetap berada di jalur yang baik, termasuk dalam hal pendidikan, tata krama, dan perilaku.
Sikap protektif tersebut juga menjadi cara Diah untuk mengurangi rasa khawatir ketika anak berada jauh dari keluarga.
Bagi Diah, tantangan yang dihadapi generasi sekarang membuat orang tua perlu lebih memperhatikan perkembangan anak.
Namun, di tengah kondisi tersebut, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa anak-anaknya sudah semakin mandiri.
Khusus untuk Marciano yang sedang berada di Amerika Serikat, Diah memilih tetap menjaga komunikasi sekaligus memanfaatkan teknologi untuk mengetahui kondisinya dari jauh.
Cerita Diah tentang cara memantau putranya melalui Snapchat pun menjadi bagian dari pengalamannya menjalani peran sebagai ibu.
Di satu sisi, ia memahami sang anak membutuhkan ruang untuk menjalani kehidupannya sendiri. Di sisi lain, rasa khawatir tetap muncul karena jarak yang memisahkan keduanya.
Dengan pola pengasuhan yang ia sebut sendiri sebagai overprotective, Diah mengaku belum sepenuhnya bisa melepas pengawasan.
Baginya, perhatian terhadap anak tetap menjadi bagian dari tanggung jawab orang tua, meskipun sang anak telah dewasa dan tinggal jauh dari keluarga. (*/stch/dda)














