BANYUMASEKSPRES.ID, NEW YORK – Fosil kerangka Tyrannosaurus rex (T-Rex) bernama “Gus” mencetak sejarah sebagai fosil dinosaurus termahal di dunia setelah terjual dalam lelang seharga US$50,1 juta atau sekitar Rp900 miliar di New York, Amerika Serikat, Selasa (14/7/2026).
Rumah lelang Sotheby’s menyatakan nilai tersebut melampaui rekor sebelumnya yang dipegang fosil Stegosaurus “Apex”, yang terjual seharga US$44,6 juta pada 2024.
Lelang berlangsung sekitar 10 menit dan diwarnai persaingan ketat antara tujuh penawar sebelum akhirnya fosil langka tersebut terjual dengan harga fantastis.
Eksekutif Sotheby’s, Cassandra Hatton, menjelaskan bahwa tingginya harga Gus tidak hanya dipengaruhi oleh kelangkaannya, tetapi juga karena kualitas konservasi fosil yang dinilai sangat baik.
Menurutnya, setiap tahapan mulai dari penggalian, dokumentasi, hingga proses perawatan dilakukan secara profesional sehingga nilai ilmiah maupun koleksinya tetap terjaga.
“Ini bukan hanya temuan yang luar biasa, tetapi juga spesimen yang telah digali, didokumentasikan, dipersiapkan, dan dirawat dengan sangat baik,” ujar Hatton.
Kondisi fosil yang masih sangat lengkap menjadi salah satu alasan utama mengapa kolektor bersedia membayar dengan harga yang memecahkan rekor dunia.
Fosil Gus diperkirakan berasal dari sekitar 67 juta tahun lalu dan ditemukan di Harding County, South Dakota, Amerika Serikat.
Nama “Gus” diambil dari Gary “Gus” Licking, pemilik lahan yang pertama kali menemukan potongan gigi dan tulang dinosaurus tersebut.
Setelah penemuan awal, proses ekskavasi dilakukan oleh ilmuwan Thomas Heitkamp selama tiga musim, yakni sejak 2021 hingga 2023.
Penggalian yang berlangsung bertahap itu berhasil mengungkap sebagian besar kerangka Tyrannosaurus rex dalam kondisi yang sangat baik.
Kerangka Gus terdiri atas 183 elemen tulang, atau sekitar 61 persen dari keseluruhan rangka T-Rex.
Spesimen tersebut memiliki tinggi sekitar 3,8 meter, dengan panjang tengkorak mencapai 1,4 meter.
Para peneliti juga menemukan sejumlah bekas cedera dan gigitan pada tulang-tulangnya.
Jejak tersebut diyakini berasal dari pertempuran atau aktivitas berburu yang dialami dinosaurus itu ketika masih hidup jutaan tahun silam.
Temuan tersebut memberikan informasi penting mengenai perilaku dan kehidupan predator terbesar pada akhir zaman Kapur.
Di balik nilai penjualannya yang fantastis, pelelangan Gus memunculkan kekhawatiran dari kalangan ilmuwan.
Ahli paleontologi Thomas Carr menilai fosil dinosaurus memiliki nilai ilmiah yang jauh lebih besar dibandingkan nilai komersialnya.
Menurutnya, spesimen seperti Gus seharusnya dapat diakses oleh para peneliti agar terus memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Society of Vertebrate Paleontology.
Organisasi tersebut berharap pemilik baru Gus bersedia meminjamkan atau bahkan menyumbangkan fosil tersebut kepada museum maupun lembaga penelitian sehingga tetap dapat dipelajari serta dinikmati masyarakat luas.
Dengan nilai penjualan mencapai US$50,1 juta, Gus resmi menjadi fosil dinosaurus termahal yang pernah dilelang di dunia.
Rekor ini sekaligus menunjukkan tingginya minat kolektor terhadap fosil langka yang memiliki nilai sejarah, ilmiah, dan budaya.
Meski demikian, banyak ilmuwan berharap fosil-fosil penting seperti Gus tetap dapat diakses untuk kepentingan penelitian dan pendidikan sehingga manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh pemilik pribadi, tetapi juga oleh masyarakat dan generasi mendatang. (*/stch/dda)
















