Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Embun Upas Dieng Sebabkan 30 Hektare Kentang Gagal Panen, Kerugian Petani Capai 70 Juta

Embun Upas Bikin Petani MenangisEmbun Upas Bikin Petani Menangis
RUGI: Petani kentang dataran tinggi Dieng saat berupaya menyelamatkan tanaman kentang dari ancaman embun upas dengan meningkatkan intensitas penyiraman

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Fenomena embun upas kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau 2026.

Hamparan kristal es yang terbentuk akibat suhu udara mencapai minus 1 derajat Celsius memang menjadi daya tarik wisata yang selalu dinanti wisatawan.

Namun, di balik keindahan yang sering dijuluki sebagai “salju tropis” tersebut, para petani kentang harus menghadapi kenyataan pahit.

Embun upas di Dieng tahun ini menyebabkan sekitar 30 hektare tanaman kentang mengalami gagal panen dengan estimasi kerugian mencapai Rp70 juta per hektare.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut menjadi pukulan berat bagi petani yang menggantungkan penghasilan dari budidaya kentang.

Lapisan embun yang membeku merusak jaringan tanaman, terutama tanaman yang masih berusia muda.

Daun-daun mengering hanya dalam waktu singkat sebelum akhirnya tanaman mati dan tidak dapat diselamatkan.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Adi, menjelaskan berdasarkan pendataan sementara, sekitar 30 hektare lahan kentang terdampak embun upas hingga mengalami gagal panen.

Kerusakan tersebut tersebar di sejumlah sentra pertanian kentang di kawasan Dieng, mulai dari sekitar Lapangan Pandawa, area parkir Candi Arjuna, Kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, hingga kawasan Kompleks Setyaki.

Menurut Firman, tanaman kentang dengan usia di bawah 40 hari menjadi yang paling rentan terhadap suhu dingin ekstrem.

Pada usia tersebut, tanaman belum memiliki ketahanan yang cukup sehingga embun beku dapat langsung merusak jaringan daun dan batang.

“Tanaman muda sekitar umur 40 hari ke bawah sangat rentan. Jika terkena embun upas seperti beberapa waktu lalu, umumnya tidak bisa diselamatkan,” jelasnya.

Kerugian ekonomi yang dialami petani pun tidak sedikit. Berdasarkan perhitungan di lapangan, satu petak lahan dapat menimbulkan kerugian sekitar Rp5 juta.

Dengan jumlah sekitar 300 hingga 500 petak dalam satu hektare, total kerugian rata-rata mencapai sekitar Rp70 juta per hektare.

Petani kentang asal Dieng, Suhatno, mengungkapkan embun upas tahun ini turun lebih tebal dibandingkan musim kemarau sebelumnya.

Akibatnya, banyak tanaman langsung mengering dan mati sehingga petani tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan hasil tanamannya.

“Kalau embunnya masih tipis, tanaman biasanya masih bisa diselamatkan. Tetapi kemarin embunnya cukup tebal sehingga tanaman langsung mengering dan mati. Otomatis petani mengalami gagal panen dan kerugian besar,” ujarnya.

Petani lainnya, Turip, mengatakan ancaman embun upas masih akan berlangsung karena puncak musim kemarau diperkirakan terjadi hingga Agustus 2026.

Bahkan sepanjang musim kemarau tahun ini, embun beku sudah muncul lebih dari tiga kali.

“Ancaman masih ada karena biasanya embun upas muncul saat puncak kemarau. Tahun ini sudah lebih dari tiga kali turun dengan ketebalan yang cukup tinggi,” katanya.

Untuk mengurangi risiko kerusakan, petani mencoba berbagai cara. Salah satunya meningkatkan penyiraman tanaman pada siang hingga sore hari agar uap air dapat mengurangi proses pembekuan saat malam hari.

Selain itu, sebagian petani menutup tanaman menggunakan paranet maupun daun bambu sebagai pelindung.

Sayangnya, berbagai upaya tersebut belum mampu memberikan perlindungan maksimal, terutama terhadap tanaman kentang yang masih muda.

Kalaupun tanaman berhasil bertahan hidup, hasil panennya tetap mengalami penurunan yang cukup signifikan, bahkan bisa mencapai sekitar 70 persen dibandingkan kondisi normal.

Akibat kondisi tersebut, sebagian petani memilih menunda masa tanam berikutnya hingga September dengan harapan suhu udara mulai menghangat dan risiko embun upas berkurang.

Di sisi lain, fenomena embun upas justru membawa berkah bagi sektor pariwisata Dieng.

Sejak dini hari, ribuan wisatawan berdatangan ke kawasan Kompleks Candi Arjuna untuk menyaksikan langsung fenomena embun es yang hanya muncul ketika suhu berada di bawah titik beku.

Wisatawan asal Salatiga, Erwin, mengaku sengaja berangkat pada malam hari agar tidak melewatkan momen langka tersebut.

Setelah tahun sebelumnya gagal menyaksikan embun upas, kali ini ia berhasil melihat langsung hamparan kristal es yang menutupi rerumputan dan berbagai permukaan di kawasan wisata.

Warga Dieng, Hasta Priambodo, menjelaskan suhu udara dalam beberapa hari terakhir memang terus mengalami penurunan.

Dari sebelumnya sekitar dua derajat Celsius, kini mencapai minus satu derajat Celsius sehingga memicu terbentuknya embun beku yang cukup tebal.

Menurutnya, embun upas biasanya mulai muncul sekitar pukul 03.00 WIB dan bertahan hingga sekitar pukul 07.00 WIB.

Ketebalannya kali ini diperkirakan mencapai sekitar setengah sentimeter dan menutupi rumput, dedaunan, pagar, hingga berbagai benda di ruang terbuka.

Fenomena embun upas memang selalu menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi menjadi magnet wisata yang mampu menarik ribuan pengunjung ke Dieng setiap musim kemarau.

Namun di sisi lain, embun beku menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian, khususnya komoditas kentang yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat setempat.

Ke depan, petani berharap cuaca segera membaik agar ancaman embun upas tidak kembali meluas dan menyebabkan kerugian yang lebih besar. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Harga Cabai dan Ayam Merangkak Naik

Harga Cabai dan Ayam Potong di Banyumas Melonjak Usai Program MBG Dimulai Lagi

Berita Selanjutnya
Warga Binaan Lapas Nirbaya Produksi Kaos

Konveksi Lapas Nirbaya Nusakambangan Produksi Kaos untuk 5 Karesidenan Jateng