BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Dampak musim kemarau mulai dirasakan oleh sektor pendidikan di Kabupaten Purbalingga.
SMP Negeri 3 Karangreja yang berada di Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja, menjadi sekolah pertama yang mengalami krisis air bersih hingga harus mendapatkan bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga.
Kondisi ini menjadi tanda bahwa kekeringan mulai memengaruhi aktivitas belajar mengajar di sekolah, selain berdampak pada kebutuhan masyarakat di sejumlah desa.
BPBD Kabupaten Purbalingga langsung merespons permohonan bantuan yang diajukan pihak sekolah dengan menyalurkan sebanyak 5.000 liter air bersih menggunakan satu unit truk tangki pada Rabu (15/7/2026).
Bantuan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bagi siswa, guru, serta kebutuhan sanitasi sekolah agar proses belajar mengajar tetap dapat berlangsung dengan baik selama musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Revon Haprindiat, mengatakan bantuan air bersih diberikan agar aktivitas pendidikan tidak terganggu akibat keterbatasan pasokan air.
Menurutnya, selama musim kemarau para siswa dan guru di SMPN 3 Karangreja mengalami kesulitan memperoleh air bersih sehingga membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah.
Revon menjelaskan bahwa air bersih yang disalurkan berasal dari pengisian PDAM di Kantor BPBD Kabupaten Purbalingga.
Selanjutnya, air tersebut didistribusikan menuju bak penampungan dan toren milik sekolah sehingga dapat langsung dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Ia memastikan proses distribusi berlangsung lancar dan diterima dengan baik oleh pihak sekolah.
Sekretaris BPBD Kabupaten Purbalingga, Aris Mulyanto, menyampaikan bahwa bantuan kepada SMPN 3 Karangreja merupakan distribusi air bersih pertama yang diberikan kepada fasilitas pendidikan selama musim kemarau tahun 2026.
Sebelumnya, bantuan serupa lebih banyak difokuskan kepada desa-desa yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Beberapa wilayah yang telah menerima bantuan air bersih dari BPBD Purbalingga di antaranya Desa Serang dan Desa Kutabawa di Kecamatan Karangreja, Desa Karanganyar di Kecamatan Karanganyar, serta Desa Gumiwang di Kecamatan Kejobong.
Distribusi bantuan dilakukan sebagai upaya pemerintah daerah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan.
Sementara itu, dampak musim kemarau juga semakin meluas di Kabupaten Banyumas.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Banyumas hingga Rabu (15/7/2026), jumlah wilayah terdampak kekeringan meningkat dari lima menjadi sembilan desa.
Empat desa yang baru masuk dalam daftar wilayah terdampak meliputi Desa Kedungwuluh Lor di Kecamatan Patikraja, Desa Rancamaya di Kecamatan Cilongok, Desa Pasirlor di Kecamatan Karanglewas, serta Desa Panusupan di Kecamatan Cilongok.
Bertambahnya wilayah terdampak menunjukkan bahwa musim kemarau mulai memberikan tekanan terhadap ketersediaan air bersih di berbagai daerah.
Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan hingga saat ini terdapat 3.345 kepala keluarga atau sekitar 10.628 jiwa yang terdampak kekeringan.
Untuk membantu masyarakat, BPBD bersama sejumlah instansi telah menyalurkan sekitar 165 ribu liter air bersih ke berbagai wilayah yang membutuhkan.
Menurut Abdul, distribusi bantuan air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD Banyumas.
Sejumlah lembaga lain seperti PDAM, BPJS Kesehatan, hingga Balai Wilayah Sungai Serayu Opak (BWSS) juga turut berpartisipasi dalam penyaluran bantuan.
Meski demikian, seluruh kegiatan distribusi tetap dilaporkan kepada BPBD agar proses pendataan dan pemerataan bantuan dapat berjalan dengan baik.
Abdul menambahkan bahwa pada hari yang sama terdapat empat desa lain yang juga mengajukan permohonan bantuan air bersih, yakni Desa Buniayu di Kecamatan Tambak, Desa Karanggedang di Kecamatan Sumpiuh, Desa Karangsalam di Kecamatan Kemranjen, dan Desa Somakaton di Kecamatan Somagede.
Permohonan tersebut saat ini masih menunggu jadwal distribusi dari BPBD Banyumas.
Pihak BPBD mengimbau seluruh pemerintah desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih agar segera melaporkan kondisi di wilayahnya.
Dengan adanya pelaporan sejak dini, bantuan dapat segera dijadwalkan sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi sebelum kondisi kekeringan semakin parah.
Sepekan sebelumnya, BPBD Banyumas juga telah mendistribusikan sekitar 70 ribu liter air bersih ke lima wilayah terdampak, yaitu Desa Tamansari, Kelurahan Sokanegara, Desa Karanglewas, Desa Nusadadi, dan Desa Kedungpring.
Bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 1.610 kepala keluarga atau sebanyak 4.664 jiwa.
Melihat kondisi cuaca yang masih didominasi musim kemarau, BPBD memperkirakan jumlah wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih di Kabupaten Purbalingga maupun Banyumas masih akan terus bertambah dalam beberapa waktu ke depan.
Pemerintah daerah pun terus meningkatkan kesiapsiagaan agar distribusi air bersih dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah, tetap berjalan dengan baik meski menghadapi ancaman kekeringan. (tya/zet/stch/dda)
















