BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Pemerintah Desa Serut, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat melalui sektor pertanian.
Salah satu program unggulan yang kini mulai membuahkan hasil adalah pengembangan budidaya Pepaya Kalifornia Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Pepaya Kalina.
Program budidaya tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Murih Agawe Santoso di atas lahan seluas satu hektare.
Keberhasilan panen yang kini mencapai hingga 1,5 ton setiap pekan menjadi bukti bahwa pengelolaan potensi desa melalui BUMDes mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan desa.
Pemilihan Pepaya Kalina sebagai komoditas unggulan bukan tanpa alasan.
Tanaman ini diputuskan melalui musyawarah desa setelah dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, permintaan pasar yang stabil, serta kemampuan berproduksi dalam jangka panjang.
Kepala Desa Serut, Taufiq Mundarto, menjelaskan bahwa budidaya Pepaya Kalina mulai dikembangkan sejak Oktober 2025.
Setelah memasuki masa produktif, tanaman tersebut kini telah mencapai panen ke-16 dengan hasil yang terus meningkat.
“Meski demikian masih terdapat beberapa tanaman yang belum berbuah optimal meskipun mendapatkan perlakuan perawatan yang sama, mulai dari pemupukan, penyiraman, hingga pengendalian hama,” katanya, Rabu (15/7).
Menurut Taufiq, hasil panen Pepaya Kalina saat ini berkisar antara 800 kilogram hingga mencapai 1,5 ton setiap pekan.
Produksi tersebut dilakukan secara rutin setiap minggu sehingga memberikan pemasukan yang berkelanjutan bagi pengelola maupun desa.
Selain produktivitas yang tinggi, harga jual Pepaya Kalina juga masih tergolong stabil.
Kondisi ini memberikan keuntungan tersendiri karena hasil panen dapat dipasarkan dengan nilai ekonomi yang cukup baik tanpa mengalami fluktuasi harga yang signifikan.
Pepaya Kalina dikenal sebagai salah satu varietas pepaya unggulan yang memiliki ukuran buah lebih proporsional, rasa manis, tekstur daging yang padat, serta daya simpan yang cukup baik.
Keunggulan tersebut membuat permintaan pasar terhadap buah ini terus meningkat, baik untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun pasar modern.
Tanaman Pepaya Kalina juga memiliki kelebihan karena mampu menghasilkan buah secara terus-menerus setelah memasuki masa produksi.
Hal ini membuat petani tidak perlu melakukan penanaman ulang dalam waktu singkat sehingga biaya operasional dapat ditekan.
Meski demikian, Pemerintah Desa Serut mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses budidaya.
Beberapa tanaman belum mampu berproduksi secara optimal meskipun telah mendapatkan perlakuan perawatan yang sama, mulai dari pemupukan, penyiraman secara rutin, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Perbedaan produktivitas tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengelola BUMDes agar kualitas hasil panen dapat semakin meningkat pada musim berikutnya.
Pemerintah Desa Serut berharap keberhasilan budidaya Pepaya Kalina dapat menjadi contoh pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa dalam mengembangkan potensi pertanian secara produktif, profesional, dan berkelanjutan.
Selain memperkuat ketahanan pangan daerah, keberadaan perkebunan Pepaya Kalina juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat desa, serta memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
Model pengelolaan yang melibatkan BUMDes dinilai mampu memperkuat ekonomi desa karena keuntungan usaha dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Ke depan, Pemerintah Desa Serut berkomitmen untuk terus mengembangkan sektor pertanian berbasis potensi lokal agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Kebumen.
Dengan panen rutin mencapai hingga 1,5 ton setiap pekan, budidaya Pepaya Kalina di Desa Serut menjadi salah satu contoh sukses pengelolaan usaha pertanian desa yang memadukan potensi sumber daya lokal, peran aktif BUMDes, serta strategi pembangunan ekonomi berbasis pertanian yang berkelanjutan. (mam/stch/dda)
















