Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Banjarnegara Kekurangan Dua Ribu Guru ASN, 254 Mahasiswa UIN Saizu Turun Mengajar

Banjarnegara Kekurangan Dua Ribu Guru ASNBanjarnegara Kekurangan Dua Ribu Guru ASN
BERKUMPUL: Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto saat mengikuti kegiatan serah terima program asistensi mengajar di Kabupaten Banjarnegara, Senin (13/7/2026)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Sebanyak 254 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto resmi diterjunkan untuk mengikuti program asistensi mengajar di Kabupaten Banjarnegara.

Program yang telah memasuki tahun ketiga ini menjadi bentuk kolaborasi antara UIN Saizu dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam membantu sekolah dasar yang masih mengalami kekurangan tenaga pendidik, sekaligus memberikan pengalaman mengajar secara langsung kepada mahasiswa calon guru.

Pada tahun 2026, sebanyak 254 mahasiswa ditempatkan di 164 sekolah dasar yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Banjarnegara.

Mereka akan menjalankan tugas mengajar selama satu semester penuh sebagai bagian dari praktik lapangan sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah.

Penyerahan mahasiswa dilakukan secara simbolis oleh pihak UIN Saizu kepada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara di Pendopo Dipayudha pada Senin (13/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya pelaksanaan program asistensi mengajar yang diharapkan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara, Hendro Cahyono, memberikan apresiasi terhadap kerja sama yang telah terjalin selama tiga tahun terakhir.

Menurutnya, keberadaan mahasiswa di sekolah memberikan manfaat ganda, yakni membantu proses pembelajaran di sekolah yang kekurangan guru sekaligus menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menjadi tenaga pendidik profesional.

Hendro menilai kebutuhan akan guru yang kompeten, kreatif, dan berdedikasi masih sangat tinggi.

Guru yang memiliki kemampuan mengajar dengan baik diyakini mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran sekaligus memberikan dampak positif terhadap prestasi belajar peserta didik.

Ia juga mengungkapkan bahwa Kabupaten Banjarnegara hingga kini masih menghadapi kekurangan guru Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam jumlah yang cukup besar.

Dari kebutuhan ideal lebih dari 5.500 guru ASN, saat ini baru tersedia sekitar 3.300 guru ASN. Artinya, daerah tersebut masih mengalami kekurangan lebih dari 2.000 tenaga pendidik.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting mengapa program asistensi mengajar dari UIN Saizu sangat dibutuhkan.

Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat membantu meringankan beban sekolah, terutama dalam mendukung kegiatan belajar mengajar selama satu semester.

Sementara itu, Kepala Seksi Mutasi Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Banjarnegara, Suyadi, menjelaskan bahwa penempatan mahasiswa tidak hanya dilakukan di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau sekolah-sekolah yang berada di kawasan 3T, yaitu daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.

Meski demikian, penentuan lokasi tetap mempertimbangkan faktor aksesibilitas agar mahasiswa dapat menjalankan tugasnya dengan baik tanpa menghadapi kendala transportasi yang terlalu berat.

Dengan pertimbangan tersebut, sekolah-sekolah yang paling membutuhkan tetap menjadi prioritas penerima program.

Menurut Suyadi, program asistensi mengajar terbukti memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan di Banjarnegara.

Selain membantu mengatasi keterbatasan jumlah guru, program ini juga memberikan tambahan tenaga pendidik yang dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran secara lebih optimal.

Di sisi lain, mahasiswa memperoleh pengalaman berharga dalam mengelola kelas, menyusun strategi pembelajaran, berinteraksi dengan siswa, serta memahami tantangan nyata yang dihadapi sekolah dasar di berbagai wilayah, termasuk daerah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berharap kerja sama dengan UIN Saizu Purwokerto dapat terus dilanjutkan pada masa mendatang.

Selain membantu mengatasi kekurangan guru, program ini dinilai mampu meningkatkan kualitas calon pendidik melalui pengalaman langsung di lapangan sehingga mereka lebih siap memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini menjadi contoh sinergi yang mampu memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Sekolah memperoleh tambahan tenaga pengajar, mahasiswa mendapatkan pengalaman profesional, sementara pemerintah daerah memperoleh dukungan dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan, khususnya di wilayah yang masih mengalami kekurangan guru dan berada di kawasan 3T. (far/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Arak Hampir 10 Ribu Tumpeng

Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi Kebumen Arak Hampir 10 Ribu Tumpeng

Berita Selanjutnya
FIFA Bakal Langgar Aturan IFAB

FIFA Pertimbangkan Perpanjang Halftime Final Piala Dunia 2026, Berpotensi Langgar Aturan IFAB