BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Tingginya harga pestisida mendorong petani di Kabupaten Banyumas terus berinovasi untuk menekan biaya produksi tanpa mengurangi efektivitas pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Salah satu inovasi menarik datang dari Herman Raharjo, petani asal Kelurahan Sumpiuh, yang berhasil memodifikasi alat semprot sehingga mampu menghemat penggunaan pestisida hingga 50 persen.
Inovasi sederhana tersebut memanfaatkan mini blower portabel yang dipadukan dengan botol bekas sebagai bagian dari sistem penyemprotan.
Meski menggunakan komponen yang mudah diperoleh, alat hasil modifikasi itu terbukti mampu meningkatkan efisiensi penyemprotan sekaligus memperluas jangkauan cairan pestisida ke seluruh bagian tanaman.
Menurut Herman, penggunaan alat tersebut menjadi solusi bagi petani yang harus menghadapi kenaikan harga berbagai sarana produksi pertanian, khususnya pestisida.
“Hasil modifikasi dapat menghemat penggunaan pestisida mencapai kisaran 50 persen dibanding yang konvensional,” ujar Herman, Rabu (15/7).
Herman menjelaskan, prinsip kerja alat modifikasi tersebut memanfaatkan dorongan udara dari mini blower sehingga butiran semprotan menjadi lebih halus dan menyebar secara merata ke tanaman.
Dengan bantuan aliran angin tersebut, cairan pestisida dapat menjangkau area tanaman yang lebih luas dibandingkan penyemprotan menggunakan alat konvensional.
Meski volume pestisida yang digunakan lebih sedikit, efektivitas pengendalian organisme pengganggu tanaman tetap terjaga sehingga hasil penyemprotan tidak mengalami penurunan.
Selain mengurangi penggunaan pestisida, alat hasil modifikasi itu juga membuat proses penyemprotan menjadi lebih cepat.
Jangkauan semprotan yang lebih luas memungkinkan petani menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang lebih singkat.
Dampaknya, penggunaan tenaga kerja menjadi lebih efisien dan biaya operasional pertanian dapat ditekan.
Efisiensi tersebut menjadi keuntungan tersendiri, terutama bagi petani yang mengelola lahan pertanian dalam skala cukup luas.
Herman mengungkapkan bahwa alat semprot hasil modifikasinya bukan sekadar uji coba sesaat.
Ia telah menggunakan inovasi tersebut selama dua musim tanam berturut-turut.
Selama periode tersebut, manfaat penghematan pestisida semakin terasa, sementara hasil pengendalian hama tetap memberikan hasil yang memuaskan.
“Sudah memodifikasi alat semprot ini sejak musim tanam sebelumnya, sehingga lebih terasa hematnya,” katanya.
Salah satu keunggulan alat tersebut adalah penggunaan mini blower portabel dengan baterai isi ulang.
Dalam sekali pengisian daya, baterai mampu bertahan cukup lama sehingga petani dapat menyelesaikan penyemprotan tanpa khawatir kehabisan tenaga listrik di tengah pekerjaan.
Selain itu, bobot mini blower yang ringan membuat alat lebih nyaman digunakan dalam waktu lama dan mengurangi kelelahan saat melakukan penyemprotan di area persawahan yang luas.
Inovasi yang dilakukan Herman Raharjo menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi pertanian tidak selalu memerlukan teknologi yang mahal.
Dengan memanfaatkan peralatan sederhana dan kreativitas, petani mampu menciptakan solusi yang efektif untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas kerja.
Di tengah kenaikan harga sarana produksi pertanian, inovasi seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi petani lain untuk mengembangkan teknologi tepat guna yang lebih hemat, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan di lapangan.
Selain membantu mengurangi penggunaan pestisida, teknologi sederhana tersebut juga berpotensi meningkatkan efisiensi usaha tani dan mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan. (fij/stch/dda)
















