BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Bulan Muharram selalu menghadirkan suasana istimewa bagi masyarakat Dukuh Kuwarisan, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen.
Setiap tahun, ribuan warga berkumpul untuk mengikuti Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi, sebuah tradisi religi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap terjaga hingga sekarang.
Tidak hanya diikuti masyarakat yang tinggal di kampung halaman, kegiatan ini juga menjadi momentum pulang kampung bagi keturunan warga Panjer yang menetap di berbagai daerah di Indonesia.
Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi telah menjadi salah satu tradisi Muharram yang paling dinantikan masyarakat.
Selain memiliki nilai religius yang kuat, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarkeluarga besar sekaligus melestarikan warisan budaya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Puncak peringatan Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi tahun 2026 berlangsung pada Jumat (10/7).
Ribuan warga memadati jalur kirab budaya yang dimulai dari halaman Kantor Kelurahan Panjer menuju Masjid Banyumudal.
Prosesi tersebut berlangsung meriah dengan arak-arakan ribuan tumpeng dan paket ingkung yang dibawa masyarakat sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT.
Sepanjang perjalanan kirab, masyarakat tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi.
Banyak warga yang berdiri di sepanjang jalan untuk melihat langsung arak-arakan budaya tersebut, sementara sebagian lainnya mengabadikan momen menggunakan telepon genggam.
Suasana penuh kebersamaan terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan.
Setelah kirab selesai, ribuan peserta berkumpul di Masjid Banyumudal untuk mengikuti doa bersama yang menjadi inti dari pelaksanaan haul.
Doa tersebut dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi sekaligus memohon keberkahan, keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.
Ketua Panitia Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi 2026, Agan Suhari, mengungkapkan rasa syukurnya atas tingginya partisipasi masyarakat pada penyelenggaraan tahun ini.
Menurutnya, antusiasme warga menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat yang sangat penting di hati masyarakat Panjer.
Ia menjelaskan bahwa Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan telah menjadi identitas budaya dan religius masyarakat Dukuh Kuwarisan serta Kelurahan Panjer secara keseluruhan.
Tradisi tersebut menjadi pengikat hubungan antargenerasi sekaligus sarana menjaga nilai-nilai kebersamaan.
Salah satu tradisi yang paling ditunggu setiap pelaksanaan haul adalah penyediaan paket ingkung.
Tahun ini, jumlah paket ingkung yang disiapkan diperkirakan mencapai hampir 10 ribu paket.
Seluruhnya berasal dari keluarga keturunan asli Panjer yang datang dari berbagai kota di Indonesia untuk mengikuti peringatan haul.
Selain ribuan paket ingkung, prosesi kirab juga dimeriahkan dengan tujuh ingkung berukuran raksasa yang diarak menuju Masjid Banyumudal.
Kehadiran ingkung raksasa tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang selalu dinanti masyarakat maupun para pengunjung setiap tahunnya.
Tidak hanya memiliki nilai budaya dan spiritual, Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Panitia memperkirakan setiap keluarga mengeluarkan biaya sekitar Rp400 ribu untuk menyiapkan satu paket ingkung.
Dengan jumlah paket yang mendekati 10 ribu, perputaran uang selama pelaksanaan haul diperkirakan mencapai sekitar Rp4 miliar.
Besarnya nilai ekonomi tersebut turut menggerakkan berbagai sektor usaha masyarakat, mulai dari peternak ayam, pedagang bahan makanan, jasa boga, hingga pelaku usaha kecil lainnya yang terlibat dalam persiapan kegiatan.
Tradisi keagamaan ini pun menjadi salah satu contoh bagaimana budaya lokal mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
Bagi warga Dukuh Kuwarisan dan keturunan Panjer yang tersebar di berbagai daerah, Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi menjadi momentum yang sangat berharga untuk berkumpul bersama keluarga besar.
Selain mempererat silaturahmi, mereka juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa bersama memohon kesehatan, keselamatan, rezeki yang berkah, serta keturunan yang saleh.
Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan bahwa nilai religius, gotong royong, dan kebersamaan masih terpelihara dengan baik di tengah perkembangan zaman.
Melalui Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi, masyarakat Kebumen tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya yang menjadi kebanggaan daerah serta berpotensi menjadi daya tarik wisata religi di Kabupaten Kebumen. (cah/stch/dda)
















