BANYUMASEKSPRES.ID, WASHINGTON – Dunia kedokteran kembali mencatat kemajuan penting setelah dua robot humanoid yang dikendalikan dari jarak jauh berhasil menyelesaikan operasi bedah langsung pertama di dunia dalam uji praklinis di Amerika Serikat.
Keberhasilan tersebut dinilai menjadi tonggak baru dalam pengembangan teknologi bedah robotik yang berpotensi memperluas akses layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil yang masih kekurangan dokter spesialis maupun fasilitas medis.
Penelitian ini dilakukan oleh tim gabungan insinyur dan dokter bedah dari University of California San Diego.
Hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature, menandakan bahwa penelitian telah melalui proses peninjauan ilmiah yang ketat dan mendapat pengakuan dari komunitas akademik internasional.
Dalam uji praklinis tersebut, robot humanoid digunakan untuk membantu operasi pengangkatan kantong empedu pada mamalia besar nonprimata.
Prosedur itu dipilih karena memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi sehingga dapat menjadi indikator kemampuan robot dalam menjalankan tindakan bedah secara presisi.
Penulis senior penelitian, Michael Yip, mengatakan hasil uji coba menunjukkan bahwa robot humanoid memiliki prospek yang sangat besar untuk diterapkan dalam layanan kesehatan modern.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat menjadi solusi atas berbagai tantangan yang selama ini dihadapi dunia medis, termasuk keterbatasan tenaga ahli di sejumlah wilayah.
“Robot humanoid yang dioperasikan dari jarak jauh maupun secara otonom memiliki potensi besar untuk memperluas akses terhadap operasi penting, yang sebelumnya sulit dijangkau pasien,” ujarnya.
Yip menjelaskan, keberadaan robot semacam ini memungkinkan seorang dokter spesialis melakukan tindakan operasi tanpa harus berada di lokasi yang sama dengan pasien.
Dengan dukungan jaringan komunikasi berkecepatan tinggi, seorang ahli bedah dapat mengendalikan robot dari kota bahkan negara lain, sementara pasien tetap berada di rumah sakit terdekat.
Konsep tersebut diyakini mampu membantu mengatasi kesenjangan layanan kesehatan yang masih terjadi di berbagai negara, termasuk wilayah pedesaan, kepulauan, maupun daerah yang kekurangan dokter spesialis bedah.
Robot yang digunakan dalam penelitian itu diberi nama Surgie. Robot humanoid tersebut memiliki tinggi sekitar 1,5 meter dengan berat hanya 27 kilogram.
Ukurannya jauh lebih ringkas dibandingkan sistem robot bedah konvensional yang selama ini digunakan di rumah sakit besar.
Desain yang lebih kecil membuat Surgie lebih mudah dipindahkan dan dipasang di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dengan ruang operasi yang terbatas.
Hal itu menjadi salah satu keunggulan utama dibandingkan sistem robotik generasi sebelumnya yang membutuhkan ruang besar serta biaya instalasi tinggi.
Selain itu, Surgie mampu menggunakan berbagai instrumen bedah standar yang telah umum dipakai dokter.
Tingkat ketelitian gerakannya juga dinilai sebanding dengan sistem robotik bedah modern yang saat ini telah digunakan di sejumlah rumah sakit terkemuka dunia.
Meski demikian, para peneliti mengakui teknologi tersebut masih berada pada tahap pengembangan.
Selama proses uji coba, robot beberapa kali memerlukan kalibrasi ulang agar tetap mempertahankan tingkat presisi saat melakukan tindakan operasi.
Kondisi tersebut membuat waktu operasi berlangsung lebih lama dibandingkan prosedur bedah konvensional.
Tim peneliti juga masih berupaya mengurangi jeda komunikasi antara perintah dokter dengan respons robot.
Latensi atau keterlambatan respons menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi jarak jauh karena setiap gerakan harus berlangsung secara cepat, akurat, dan aman.
Menurut Yip, penyempurnaan sistem komunikasi akan menjadi fokus penelitian berikutnya agar robot dapat digunakan secara lebih luas dalam praktik klinis di masa depan.
“Tujuan jangka panjang kami adalah mewujudkan ruang operasi masa depan yang memungkinkan robot humanoid dan tenaga medis bekerja berdampingan sebagai satu tim,” katanya.
Apabila pengembangan teknologi ini terus menunjukkan hasil positif, robot humanoid berpotensi mengubah wajah layanan kesehatan global.
Rumah sakit di daerah terpencil nantinya dapat menghadirkan layanan operasi yang selama ini hanya tersedia di pusat-pusat kesehatan besar.
Dokter spesialis pun dapat menangani lebih banyak pasien tanpa harus melakukan perjalanan jauh.
Meski masih memerlukan serangkaian uji klinis lanjutan sebelum digunakan pada manusia secara luas, keberhasilan operasi praklinis ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara kecerdasan buatan, robotika, dan ilmu kedokteran semakin mendekatkan dunia pada era baru pelayanan kesehatan yang lebih modern, efisien, dan mudah diakses oleh masyarakat. (*/stch/dda)
















