BANYUMAS – Kantor Pemkab Banyumas Dirusak
BANYUMASEKSPRES.ID, Kericuhan besar terjadi dalam gelombang aksi demonstrasi yang melanda wilayah Banyumas Raya, Sabtu (30/8/2025).
Aksi yang awalnya bertujuan menyuarakan aspirasi, justru berubah menjadi anarkis. Ironisnya, massa perusuh mayoritas terdiri dari anak-anak di bawah umur yang memicu perusakan fasilitas negara hingga pembakaran kendaraan.
Ribuan massa mulai memadati kompleks Pendopo Sipanji Banyumas sejak siang. Orasi awalnya berlangsung damai, namun situasi memanas sekitar pukul 15.00 WIB.
Sekelompok demonstran, yang didominasi pelajar, menjebol pagar pendopo, memecahkan kaca jendela, serta mencorat-coret dinding kantor bupati dengan cat semprot.
“Dari uang rakyat ya untuk rakyat!” teriak salah satu pelaku provokasi saat mengacungkan besi pagar yang telah dijebol.
Isu yang beredar di lapangan menyebutkan adanya penggerakan massa oleh oknum tak bertanggung jawab. Anak-anak yang mengikuti aksi diduga mendapat bayaran sebesar Rp300 ribu.
Kapolresta Banyumas Kombes Pol Ari Wibowo sempat mengupayakan dialog damai. Namun saat negosiasi berlangsung, massa justru melempari aparat, memaksa polisi membubarkan kerumunan dengan gas air mata.
“Belum selesai orasi mereka (bocil) udah lempar-lempar, kacau,” ungkap DN (17), mahasiswa Unsoed, yang memilih mundur dari lokasi aksi.
Kerusuhan kian tak terkendali. Massa menyerang balik aparat menggunakan batu, merusak pagar pembatas, dan mencoba masuk ke dalam pendopo.
Kepulan gas air mata memenuhi udara hingga radius beberapa ratus meter, memaksa massa lari hingga ke perempatan Srimaya, Sawangan, dan Jalan RA Wiriatmaja.
Hujan deras yang mengguyur tak menyurutkan amuk massa. Beberapa dari mereka kembali maju begitu asap gas air mata mulai menipis.
Aktivitas di sekitar alun-alun Purwokerto lumpuh total. Pusat perbelanjaan Rita Mall terpaksa tutup lebih awal. Pedagang kaki lima juga terdampak.
“Tutup lah, gerobaknya sudah kena batu tadi,” keluh Ozzy, pedagang martabak di sekitar lokasi.
Kabag Umum Setda Banyumas, Dian Budiarto, menyebutkan kerusakan paling parah terjadi di ruangan bagian perekonomian, protokol, dan pos jaga Satpol PP.
“Kaca-kaca pecah semua. Kendaraan dinas aman, tapi sepeda motor aparat rusak diserang massa,” ungkapnya.
Hingga malam hari, arus lalu lintas dialihkan, dan aparat masih berjaga di sekitar pendopo. “Kerugian masih kita hitung, tapi ini jelas tindakan memalukan,” tegas Dian.
CILACAP – Gedung DPRD Dibakar, Mobil Dalmas Hangus
Situasi serupa terjadi di Kabupaten Cilacap. Aksi yang dimulai dengan orasi damai di depan Gedung DPRD Cilacap berubah menjadi ricuh. Ratusan orang dari berbagai wilayah memicu kerusuhan dan membakar fasilitas negara.
Salah satu peserta aksi, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa aksi tersebut bentuk solidaritas terhadap demonstrasi serupa di sejumlah daerah.
“Kami datang karena kecewa dan marah dengan sikap anggota DPR RI. Kebijakan mereka jadi pemicu keresahan rakyat, dan kami datang untuk menyuarakan penolakan,” ujarnya.
Massa, yang disebut didominasi anak-anak dari kelompok geng motor, mulai mendorong pagar dan sebagian berhasil merangsek ke halaman gedung dewan.
Bangunan DPRD Cilacap dilempari batu dan dirusak. Kaca, pintu, kursi, dan meja di dalam kantor porak poranda.
Massa juga membakar 1 unit mobil Dalmas milik Polresta Cilacap dan sejumlah sepeda motor di area kantor DPRD.
Bagian depan gedung turut dibakar, menyebabkan asap pekat membumbung tinggi dan terlihat dari radius beberapa kilometer.
Ratusan aparat kepolisian kewalahan mengendalikan massa. Upaya untuk menghalau pendemo masuk lebih dalam ke area kantor dewan tak membuahkan hasil.
Hingga malam, tim pemadam kebakaran masih berjuang memadamkan api. Polisi menutup akses jalan dan memperketat penjagaan.
KEBUMEN – Ban Dibakar, Fasilitas DPRD Dirusak
Di Kabupaten Kebumen, ribuan massa yang menggelar aksi di depan Gedung DPRD juga berubah anarkis. Kericuhan terjadi sejak pukul 14.00 WIB dan berlangsung hingga malam.
Massa merusak pos satpam, pintu gerbang, kaca gedung DPRD, dan sejumlah kendaraan di area parkir. Aksi semakin liar saat ban bekas dibakar di depan gedung sekitar pukul 16.00 WIB. Asap hitam membumbung tinggi.
“Massa mengamuk gedung DPRD Kebumen, sejumlah fasilitas rusak seperti pos satpam, pintu gerbang hingga kaca pecah dan parkiran kendaraan juga rusak,” ungkap seorang saksi mata.
Polisi menembakkan gas air mata dan mengerahkan mobil water canon, namun kalah jumlah dan gagal meredam situasi.
Hingga pukul 18.30 WIB, massa masih bertahan. Lemparan batu dan bom molotov terus diarahkan ke gedung dewan. Aparat TNI-Polri kewalahan.
Dandim 0709 Kebumen, Letkol Arm Purba Sudibyo, turun langsung untuk menenangkan massa, namun situasi tetap tak terkendali.
PURBALINGGA – Pelajar Dominasi Kericuhan di Mapolres
Di Purbalingga, aksi unjuk rasa yang digelar di depan Mapolres Purbalingga juga berujung ricuh.
Aksi ini awalnya digelar oleh mahasiswa dari Barisan Aliansi Masyarakat Purbalingga (Baralingga) dan sejumlah organisasi mahasiswa.
Presiden BEM Unperba, Awan Arafik, menyatakan aksi tersebut bentuk keprihatinan terhadap kebijakan DPR dan tindakan represif aparat.
“DPR saat ini sudah menerima tunjangan lebih dari Rp100 juta per bulan per Agustus, sementara masyarakat masih banyak yang kesulitan mencari makan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti berbagai insiden nasional, termasuk penangkapan ratusan massa, pengemudi ojek online yang tewas dilindas, dan penembakan di Solo.
Namun, setelah massa mahasiswa membubarkan diri sekitar pukul 15.30 WIB, situasi berubah.
Sekelompok pelajar yang bertahan mulai memprovokasi aparat, membunyikan knalpot bising, merusak pagar, hingga melempar batu dan paving ke arah polisi.
Akibatnya, beberapa petugas terluka dan peralatan rusak. Kapolres Purbalingga AKBP Achmad Akbar memerintahkan pembubaran paksa.
“Karena situasi sudah tidak kondusif, satu pleton pasukan sepeda motor Rainmas Sat Samapta Polres Purbalingga kemudian keluar membubarkan aksi massa,” jelasnya.
Gas air mata ditembakkan, memaksa massa lari ke berbagai arah, termasuk ke RSU Harapan Ibu dan Pasar Segamas. Beberapa provokator berhasil diamankan.
“Sebelumnya aksi massa berjalan damai. Namun karena terjadi perusakan dan pelemparan, kami terpaksa membubarkan massa,” tegas Kapolres.
Gelombang demonstrasi yang melanda sejumlah wilayah di Banyumas Raya pada Sabtu (30/8/2025) menjadi potret buram dari aksi penyampaian aspirasi yang berubah menjadi tindakan anarkis.
Dominasi pelajar dan anak di bawah umur dalam kerusuhan ini menimbulkan pertanyaan besar soal siapa yang berada di balik mobilisasi massa, serta sejauh mana kontrol sosial dan pendidikan gagal membendung perilaku destruktif di ruang publik.
Rentetan perusakan fasilitas negara, pembakaran kendaraan, hingga bentrokan dengan aparat menunjukkan bahwa eskalasi konflik tak lagi murni soal aspirasi, melainkan telah dibajak oleh oknum yang mengeksploitasi emosi massa muda.
Demokrasi menjamin kebebasan berpendapat, namun kebebasan itu bukanlah pembenaran untuk kekerasan dan perusakan. Aksi boleh panas, tapi akal sehat jangan sampai padam. (ali/res/jeb/jul/fur/tya/alw/stch)
















