Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Warga Barlingmascakeb Menghadapi Krisis Air Bersih Akibat Musim Kemarau
Gelombang Panas Ekstrem di Prancis Pecahkan Rekor, Menara Eiffel dan Museum Louvre Pangkas Jam Operasional
MUI Usulkan RUU Pidana LGBT, Pelaku dan Kampanye LGBT Terancam Sanksi Hukum

Gelombang Panas Ekstrem di Prancis Pecahkan Rekor, Menara Eiffel dan Museum Louvre Pangkas Jam Operasional

Menara Eiffel pangkas Jam OperasionalMenara Eiffel pangkas Jam Operasional
NGADEM: Warga berendam di Trocadeno di depan Menara Eiffel saat gelombang paanas menerpa

BANYUMASEKSPRES.ID, PARIS – Prancis saat ini tengah merasakan dampak serius dari gelombang panas ekstrem yang melanda, memaksa dua ikon wisata terpenting di dunia, Menara Eiffel dan Museum Louvre, untuk memangkas jam operasional mereka.

Keputusan ini diambil demi perlindungan keselamatan pengunjung dan staf, setelah suhu udara mencapai rekor tertinggi dalam sejarah negara tersebut.

Pada Selasa (23/6/2026), rata-rata suhu nasional Prancis mencapai 29,8 derajat Celsius, suatu angka yang melampaui rekor yang sebelumnya tercatat pada tahun 2003 dan 2019.

Dampak dari kondisi cuaca ekstrem ini sangat terasa.

Menara Eiffel harus ditutup lebih awal dari biasanya, sementara Museum Louvre mengumumkan pengurangan jam operasional selama beberapa hari ke depan.

Pihak manajemen Museum Louvre mengungkapkan bahwa bangunan bersejarah ini belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan cuaca yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim.

“Meskipun sebagian bangunan bersejarah kami secara alami cukup tahan terhadap kondisi cuaca, museum ini tetap rentan dan belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan iklim. Penumpukan panas paling tinggi terjadi menjelang akhir hari dan semakin diperparah oleh tingginya jumlah pengunjung,” ungkap seorang pejabat Museum Louvre.

Kondisi tersebut turut mengubah pemandangan di berbagai lokasi wisata di Paris.

Wisatawan terlihat menggunakan payung dan topi, serta berusaha mencari tempat teduh untuk menghindari sengatan matahari yang menyengat.

Di sisi lain, banyak warga Paris yang memilih untuk mendinginkan diri dengan berendam di Canal Saint-Martin sebagai cara untuk meredakan panas yang menyengat.

Gelombang panas ini juga memberikan dampak besar bagi para pekerja di lapangan. Seorang pekerja atap di Paris bernama Gin Dujardin mengungkapkan kesulitan yang ia hadapi akibat suhu yang ekstrem.

“Ini jadi hari yang berat, sangat berat, karena lapisan sengnya menjadi sangat panas. Lasnya tidak bisa merekat. Suhunya seperti di Dubai. Mustahil untuk bekerja,” katanya dengan nada frustrasi.

Badan meteorologi Prancis, Meteo-France, menyatakan bahwa gelombang panas kini telah memasuki fase paling parah. Suhu terus meningkat tinggi baik pada siang maupun malam hari tanpa tanda-tanda penurunan.

“Suhu yang memecahkan rekor diperkirakan masih akan terus terjadi. Bahkan, beberapa di antaranya berpotensi melampaui seluruh rekor suhu yang pernah tercatat,” tulis Meteo-France dalam laporan terbarunya.

Kondisi serupa juga dialami oleh sejumlah negara Eropa lainnya akibat gelombang panas ini.

Di Inggris misalnya, beberapa sekolah terpaksa ditutup lebih awal dan layanan kereta mengalami pengurangan frekuensi.

Di Spanyol, suhu diperkirakan akan mencapai 44 derajat Celsius di wilayah Andalusia disertai dengan peringatan cuaca ekstrem bagi masyarakat.

Para ilmuwan menyatakan bahwa meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa berkaitan erat dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Data dari Copernicus Climate Change Service menunjukkan bahwa Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia sejak tahun 1980-an.

Gelombang panas ini bukan hanya sekadar fenomena cuaca biasa; ia adalah indikasi nyata dari perubahan iklim global yang semakin memburuk seiring dengan waktu.

Perubahan pola cuaca ekstrem ini telah menjadi perhatian serius bagi para ahli lingkungan dan pemerintah di seluruh dunia.

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada suhu udara tetapi juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk kesehatan publik dan ekonomi lokal.

Ketika suhu meningkat secara dramatis seperti saat ini, risiko kesehatan bagi individu terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua meningkat secara signifikan.

Beberapa langkah telah diambil oleh pihak berwenang Prancis untuk mengatasi situasi ini.

Selain menutup lokasi wisata ikonik untuk melindungi pengunjung dan staf mereka, pemerintah Prancis juga menghimbau warganya agar tetap waspada terhadap efek buruk dari cuaca panas ekstrem ini.

Di kota-kota besar seperti Paris, infrastruktur kesehatan masyarakat harus siap menghadapi lonjakan kasus heatstroke atau penyakit terkait suhu tinggi lainnya.

Rumah sakit dan fasilitas kesehatan diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka agar dapat memberikan perawatan kepada mereka yang terkena dampak langsung dari gelombang panas.

Dalam konteks ini, penting bagi setiap individu untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna melindungi diri dari bahaya gelombang panas ekstrem ini.

Menghindari aktivitas luar ruangan pada siang hari ketika suhu paling tinggi adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Dampak Kemarau Makin Meluas

Warga Barlingmascakeb Menghadapi Krisis Air Bersih Akibat Musim Kemarau

Berita Selanjutnya
MUI Targetkan RUU LGBT Masuk Prolegnas

MUI Usulkan RUU Pidana LGBT, Pelaku dan Kampanye LGBT Terancam Sanksi Hukum