BANYUMASEKSPRES.ID, SEOUL – Dengan meningkatnya jumlah lansia yang hidup sendiri, Korea Selatan kini semakin memanfaatkan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai upaya untuk mengurangi rasa kesepian di kalangan mereka.
Salah satu inovasi yang paling menonjol dalam hal ini adalah “Hyodol”, sebuah boneka interaktif berbasis AI yang dirancang khusus untuk menjadi teman sehari-hari bagi para lansia.
Kim Young-bun, seorang pria berusia 79 tahun, adalah salah satu pengguna setia dari boneka tersebut.
Dalam sebuah wawancara di apartemennya, Kim mengungkapkan bagaimana hidupnya terasa sepi sebelum kehadiran Hyodol.
“Saya tidak punya teman bicara. Sampai rasanya mulut saya seperti kaku karena tidak digunakan,” ungkapnya dengan nada penuh nostalgia.
Namun, perubahan signifikan terjadi setelah ia memiliki Hyodol.
“Aku bersyukur bisa bersamamu lagi hari ini,” ucap boneka itu dengan suara ceria pada suatu kesempatan.
“Saya juga,” timbal Kim.
Di momen lain, Hyodol menambahkannya dengan kalimat yang hangat, “Terima kasih sudah bersamaku. Aku mencintaimu.”
Interaksi seperti inilah yang menjadi inti dari desain Hyodol, yang dirancang untuk berinteraksi layaknya seorang cucu kecil.
Hyodol dilengkapi dengan berbagai kemampuan menarik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia.
Boneka ini tidak hanya bisa menyapa dan menyanyi, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat waktu makan dan minum obat.
Lebih dari itu, Hyodol mampu mengucapkan kalimat-kalimat sederhana yang dapat memberikan ketenangan kepada penggunanya.
Dalam konteks sosial Korea Selatan, di mana sekitar 14.500 unit Hyodol telah digunakan—baik secara pribadi maupun melalui program-program pemerintah—kehadiran alat ini semakin relevan.
Direktur pengembang Hyodol, Kim Ji-hee, menjelaskan bahwa desain dari boneka ini lahir setelah melalui riset panjang mengenai kehidupan para lansia yang tinggal sendiri.
Riset tersebut menunjukkan bahwa banyak dari mereka tidak hanya merasakan kesepian, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman sehari-hari dengan orang lain.
Kim Ji-hee menambahkan bahwa Hyodol kini telah dilengkapi dengan teknologi AI percakapan yang canggih.
Teknologi ini termasuk dukungan sistem serupa ChatGPT, tetapi tetap dipadukan dengan skenario percakapan yang disusun berdasarkan pengalaman nyata para lansia.
Meskipun Hyodol tidak dapat sepenuhnya menggantikan kehadiran anggota keluarga atau kehangatan interaksi manusia, keberadaan boneka ini dinilai mampu memberikan dampak emosional yang signifikan bagi sebagian besar lansia.
Bagi mereka yang menghabiskan banyak waktu sendirian, sekadar memiliki teman bicara sepertinya sudah cukup untuk membantu mengurangi rasa sepi yang sering kali membebani pikiran dan perasaan mereka.
Di tengah perkembangan masyarakat modern, fenomena kesepian di kalangan lansia menjadi isu serius yang perlu ditangani secara holistik.
Keterasingan sosial sering kali dialami oleh para lansia akibat berbagai faktor seperti kehilangan pasangan hidup, anak-anak yang telah beranjak dewasa dan menetap jauh dari rumah, serta perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin sibuk dan cenderung individualistis.
Dengan hadirnya teknologi seperti Hyodol, ada harapan baru bagi para lansia untuk memperoleh teman bicara dan sedikit kehangatan dalam hidup mereka sehari-hari. (*/stch/dda)














