BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di RW 8 Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, berlangsung dengan nuansa berbeda yang kental akan kearifan lokal.
Jika di banyak tempat doorprize identik dengan peralatan rumah tangga atau barang mewah, maka tidak demikian dengan yang dilakukan panitia perayaan di desa ini.
Panitia memilih menghadirkan doorprize yang tak biasa namun sangat relevan dengan kebutuhan warga setempat, yaitu berupa ramban dan klari.
Ramban adalah dua ikat besar dedaunan segar yang digunakan untuk pakan ternak, sedangkan Klari merupakan daun kelapa kering yang biasa dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam proses pembuatan gula kelapa, atau memasak menggunakan tungku bakar tradisional.
Ketua panitia kegiatan, Sumeri, menjelaskan bahwa pemilihan jenis doorprize tersebut bukan tanpa alasan.
Saat ini, wilayah Banjarpanepen tengah mengalami musim kemarau yang cukup panjang. Kondisi ini membuat banyak warga kesulitan mendapatkan ramban untuk memberi makan ternak mereka, terutama kambing.
“Doorprize dengan kearifan lokal. Karena di sini warga sedang susah sekali ramban efek musim kemarau,” ujar Sumeri saat ditemui pada Selasa (26/8).
Menurutnya, aktivitas mencari ramban ke pelosok hutan atau pinggiran desa sudah menjadi rutinitas harian sebagian besar warga yang memelihara ternak. Dalam situasi kekeringan, dedaunan segar menjadi barang langka dan sangat berharga.
Kejutan semakin terasa saat dua pemenang utama doorprize ternyata adalah warga yang memiliki ternak kambing. Hadiah ramban yang mereka terima langsung disambut gembira karena bisa segera digunakan untuk kebutuhan pakan harian.
“Dua pemenang undian doorprize kebetulan punya ternak kambing,” tambah Sumeri, seraya tersenyum melihat reaksi para pemenang yang tampak puas dan bersyukur.
Selain ramban, doorprize berupa klari juga diberikan kepada warga yang sehari-harinya bekerja sebagai penderes nira kelapa.
Dalam proses produksi gula kelapa, klari berperan penting sebagai bahan bakar tradisional untuk memasak nira. Oleh karena itu, meskipun tampak sederhana, hadiah tersebut memiliki nilai fungsional yang tinggi.
Pemberian hadiah dengan pendekatan lokal ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Senyum sumringah tampak dari wajah para pemenang yang merasa mendapatkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan mereka saat ini.
Alih-alih hadiah mewah yang tak terpakai, doorprize ini langsung bisa dimanfaatkan dan meringankan beban warga.
“Ini namanya hadiah yang benar-benar tahu kebutuhan warganya. Saya dapat ramban, bisa langsung buat makan kambing. Kalau beli, mahal sekarang,” ujar salah satu pemenang doorprize yang enggan disebutkan namanya.
Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah perayaan nasional dapat dikemas dengan cara yang merakyat, sederhana namun bermakna, sekaligus menjawab persoalan lokal yang sedang dihadapi warga.
Bagi RW 8 Banjarpanepen, kebersamaan dalam perayaan HUT RI bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi momen solidaritas dan gotong royong yang terasa nyata.
Tradisi doorprize dengan hadiah lokal ini pun menuai pujian dari sejumlah pihak. Banyak warga berharap konsep serupa bisa diterapkan dalam kegiatan lain, bahkan menjadi inspirasi bagi wilayah desa lain dalam mengemas perayaan dengan lebih kontekstual dan berdaya guna.
Dengan pendekatan yang sederhana namun menyentuh langsung kebutuhan warga, perayaan HUT RI di RW 8 Banjarpanepen membuktikan bahwa semangat kemerdekaan bisa diwujudkan melalui hal-hal kecil yang penuh makna.
Ramban dan klari mungkin bukan hadiah mahal, tetapi bagi warga yang hidup berdampingan dengan alam dan ternak, keduanya adalah sumber daya penting yang sangat dihargai. (fij/stch)
















