Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Harga Emas Dunia Terkoreksi saat Ketegangan Geopolitik, Bagaimana Prospeknya?

Harga emas dunia mengalami penurunan tajam hingga mencapai level us$ 3.369 per troy ons pada awal perdagangan jumat, 20 juni 2025Harga emas dunia mengalami penurunan tajam hingga mencapai level us$ 3.369 per troy ons pada awal perdagangan jumat, 20 juni 2025
Harga emas dunia mengalami penurunan tajam hingga mencapai level US$ 3.369 per troy ons pada awal perdagangan Jumat, 20 Juni 2025

BANYUMASEKSPRES.ID, Harga emas dunia mengalami penurunan tajam hingga mencapai level US$ 3.369 per troy ons pada awal perdagangan Jumat, 20 Juni 2025. Pelemahan harga ini dipicu oleh aksi ambil untung investor yang terjadi setelah reli sebelumnya serta penyesuaian portofolio yang dilakukan di tengah kondisi pasar global yang penuh ketidakpastian.

Volatilitas tinggi yang berlangsung akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah turut menjadi latar utama di balik koreksi ini.

Saat berita ini ditulis, harga emas terus melemah dan tercatat turun sebesar 0,73% ke posisi US$ 3.344,8 per troy ons. Tekanan jual ini memperlihatkan sinyal kehati-hatian pelaku pasar terhadap risiko global yang semakin tidak menentu.

Research and Development ICDX menjelaskan bahwa peningkatan ketegangan geopolitik kembali terjadi usai Israel meluncurkan serangan ke fasilitas strategis milik Iran di Teheran. Serangan tersebut disebut-sebut sebagai respons atas laporan bahwa Iran menembakkan rudal ke sebuah rumah sakit di wilayah Israel.

“Kondisi ini diperparah dengan pernyataan Gedung Putih bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi intervensi militer langsung ke Iran dalam dua pekan ke depan,” tulis Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (20/6/2025).

Gejolak geopolitik seperti ini secara historis memang kerap meningkatkan minat terhadap aset safe haven seperti emas. Namun, efek penguatan dolar AS justru memberikan tekanan balik karena logam mulia ini menjadi lebih mahal bagi investor internasional yang bertransaksi dalam mata uang lain.

Dari sisi kebijakan moneter, The Fed dalam rapat pekan ini memilih mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 4,25% hingga 4,50%. Meskipun bank sentral tersebut masih membuka kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang semester II tahun ini, namun ekspektasi pasar menjadi lebih hati-hati akibat revisi naik proyeksi inflasi.

Research and Development ICDX menyebut, The Fed memperkirakan inflasi AS akan mencapai 3% tahun ini, naik dari estimasi sebelumnya. Proyeksi ini memicu kekhawatiran bahwa ruang pelonggaran moneter menjadi lebih sempit, yang berimplikasi negatif terhadap harga emas sebagai aset non-yielding (tidak memberikan imbal hasil).

Sentimen negatif lain datang dari meningkatnya beban utang pemerintah AS dan potensi diberlakukannya kembali tarif impor tambahan. Situasi ini mendorong pelaku pasar untuk mencari perlindungan pada aset lindung nilai, namun kekuatan dolar tetap menjadi hambatan utama untuk penguatan lebih lanjut.

“Namun, kekuatan dolar AS tetap menjadi penghalang bagi kenaikan lebih lanjut,” jelas Research and Development ICDX.

Dari sisi teknikal, arah pergerakan harga emas saat ini berada pada fase pengujian titik titik support penting
Dari sisi teknikal, arah pergerakan harga emas saat ini berada pada fase pengujian titik-titik support penting

Dari sisi teknikal, arah pergerakan harga emas saat ini berada pada fase pengujian titik-titik support penting. Menurut analisis teknikal yang dilakukan oleh Research and Development ICDX, harga emas diperkirakan memiliki level support terdekat di kisaran US$ 3.349 hingga US$ 3.327 per troy ons.

Jika tekanan jual terus meningkat, maka harga emas berpotensi meluncur ke support lanjutan di kisaran US$ 3.286.

“Di sisi atas, resistance terdekat berada di US$ 3.390 hingga US$ 3.409, dengan resistance jangka menengah di area US$ 3.450,” tutup Research and Development ICDX.

Melihat kondisi saat ini, pasar emas menghadapi dilema antara daya tarik safe haven akibat konflik geopolitik dan tekanan dari faktor fundamental seperti dolar AS yang menguat serta prospek inflasi AS yang tinggi.

Kombinasi faktor ini menjadikan arah harga emas dalam jangka pendek sangat bergantung pada dinamika geopolitik serta sinyal kebijakan moneter The Fed yang akan datang.

Sementara itu, investor yang berorientasi jangka panjang tetap menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai utama, khususnya di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Namun demikian, investor tetap perlu memperhatikan level teknikal dan indikator makro untuk mengantisipasi potensi pergerakan harga yang bisa berubah secara cepat. (WAN)

Berita Sebelumnya
Penertiban pkl di alun alun kembali ricuh

Lagi, Penertiban PKL di Alun-Alun Pancasila Kebumen Kembali Ricuh

Berita Selanjutnya
Mantap berhijab usai umrah

Vernita Syabilla Mantap Berhijab Usai Umrah