BANYUMASEKSPRES.ID, Keluhan nyeri atau rasa pegal di bagian belakang leher sering kali dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan.
Salah satu anggapan yang cukup populer di masyarakat adalah leher belakang yang terasa cenat-cenut merupakan pertanda kadar kolesterol sedang tinggi.
Tidak sedikit orang yang langsung berasumsi mengalami kolesterol tinggi ketika merasakan nyeri pada area leher dan pundak. Padahal, benarkah anggapan tersebut dapat dibenarkan secara medis?
Faktanya, para ahli kesehatan menyebut bahwa nyeri di bagian belakang leher tidak bisa dijadikan indikator pasti seseorang memiliki kadar kolesterol tinggi.
Untuk mengetahui kondisi kolesterol tubuh, pemeriksaan laboratorium menjadi metode yang paling akurat. Lalu, apa sebenarnya hubungan antara nyeri leher dan kolesterol? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apakah Nyeri Leher Belakang Selalu Menandakan Kolesterol Tinggi?
Banyak orang percaya bahwa rasa sakit di leher bagian belakang merupakan gejala khas kolesterol tinggi. Namun, anggapan tersebut ternyata lebih dekat dengan mitos daripada fakta medis.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K), menjelaskan bahwa nyeri pada otot leher umumnya bukan disebabkan oleh peningkatan kadar kolesterol dalam darah.
Menurutnya, keluhan tersebut lebih sering dipicu oleh faktor lain, salah satunya postur tubuh yang kurang baik. Selain itu, terdapat penelitian penurunan stress pada pekerja selain dari rajib berolahraga.
Misalnya, terlalu lama menunduk saat menggunakan ponsel, posisi duduk yang salah ketika bekerja, atau ketegangan otot akibat aktivitas sehari-hari.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh dokter spesialis gizi klinik, dr. Diana F. Suganda. Ia menegaskan bahwa kolesterol tinggi pada dasarnya tidak memiliki gejala yang khas.
Seseorang tidak dapat memastikan dirinya mengalami kolesterol tinggi hanya berdasarkan rasa tidak nyaman di area leher. Pemeriksaan darah tetap diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol secara pasti.
Kolesterol Tinggi Sering Kali Tidak Bergejala
Salah satu alasan mengapa kolesterol tinggi berbahaya adalah karena kondisi ini kerap berkembang tanpa keluhan yang jelas.
Banyak penderita baru menyadari kadar kolesterolnya meningkat setelah menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Muhammad Imanuddin, menjelaskan bahwa tidak ada gejala spesifik yang berkaitan dengan tingginya kadar Low Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat.
Meski demikian, beberapa pasien terkadang datang dengan keluhan tertentu, seperti pembengkakan pada kaki, tangan, atau bagian tubuh lainnya. Ada pula yang mengeluhkan rasa nyeri pada kaki, pundak, tangan, maupun leher.
Namun, keluhan tersebut tidak bisa dijadikan dasar diagnosis kolesterol tinggi. Gejala serupa dapat muncul akibat berbagai kondisi medis lainnya.
Karena itu, pemeriksaan profil lipid yang meliputi kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida sangat dianjurkan apabila seseorang ingin mengetahui kondisi kesehatannya secara akurat.
Obesitas Bisa Meningkatkan Risiko Kolesterol Tinggi
Selain pemeriksaan laboratorium, ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan metabolik, termasuk kolesterol tinggi.
Salah satunya adalah obesitas atau kegemukan. Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Ray Ratu, SpPD, menjelaskan bahwa obesitas terjadi ketika terjadi penumpukan lemak berlebihan sehingga berat badan tidak lagi proporsional.
Kondisi ini termasuk dalam kelompok sindrom metabolik, yakni kumpulan gangguan kesehatan yang saling berkaitan.
Sindrom metabolik dapat mencakup hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, hingga peningkatan kadar asam urat.
Meski demikian, bukan berarti semua orang dengan berat badan berlebih pasti memiliki kolesterol tinggi. Hanya saja, risikonya memang lebih besar dibandingkan individu dengan berat badan ideal.
Dengan kata lain, obesitas bukan penyebab mutlak, melainkan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan metabolisme.
Faktor Risiko Lain Penyebab Kolesterol Tinggi
Selain obesitas, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh.
Pola makan menjadi salah satu penyebab utama. Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans secara berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat.
Lemak jenuh umumnya ditemukan pada daging berlemak, sedangkan lemak trans kerap terdapat dalam makanan olahan atau camilan tertentu.
Kurangnya aktivitas fisik juga berperan dalam meningkatkan risiko kolesterol tinggi. Padahal, olahraga rutin dapat membantu meningkatkan kadar kolesterol baik atau High Density Lipoprotein (HDL).
Kebiasaan mengonsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan juga perlu diperhatikan karena dapat memicu peningkatan kolesterol total dalam darah.
Selain itu, faktor usia turut memengaruhi. Kolesterol tinggi dapat terjadi pada siapa saja, termasuk usia muda.
Namun, kondisi ini lebih sering ditemukan pada individu berusia di atas 40 tahun karena kemampuan hati dalam membuang kolesterol jahat cenderung menurun seiring bertambahnya usia.
Jangan Mengandalkan Mitos, Lakukan Pemeriksaan
Nyeri leher belakang memang dapat menimbulkan kekhawatiran, tetapi tidak selalu berkaitan dengan kolesterol tinggi.
Keluhan tersebut lebih sering dipicu oleh masalah otot, postur tubuh yang kurang baik, atau faktor kesehatan lainnya.
Daripada menebak-nebak kondisi tubuh berdasarkan mitos yang beredar, langkah terbaik adalah melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Dengan mengetahui kadar kolesterol melalui tes darah, penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila ditemukan adanya gangguan.
Menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, mengontrol berat badan, serta melakukan pemeriksaan secara berkala untuk menurunkan risiko kolesterol tinggi dan menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang. (*/nds)
















