BANYUMASEKSPRES.ID, Perjalanan spiritual sering kali menjadi simbol keteguhan hati, pengendalian diri, dan pencarian makna hidup yang lebih dalam.
Di tengah kehidupan modern yang serba instan, kisah puluhan biksu yang rela berjalan kaki ratusan kilometer menuju Candi Borobudur menjadi pengingat kesabaran dan disiplin memiliki tempat yang istimewa.
Sebanyak 50 biksu dari berbagai negara mengikuti ritual thudong dalam rangkaian Indonesia Walk for Peace 2026.
Mereka memulai perjalanan dari Bali dan menempuh jarak sekitar 666 kilometer untuk mencapai Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, sebagai bagian dari peringatan Hari Raya Waisak.
Perjalanan tersebut bukan sekadar aktivitas fisik yang melelahkan. Di balik setiap langkah yang mereka ayunkan, tersimpan nilai-nilai spiritual yang menjadi bagian dari kehidupan para biksu selama bertahun-tahun.
Tanpa kendaraan pendamping dan barang bawaan berlebihan, rombongan berjalan melewati wilayah, mulai dari Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta sebelum akhirnya tiba di tujuan akhir mereka.

Thudong, Tradisi Spiritual yang Sarat Makna
Thudong merupakan praktik perjalanan spiritual yang dilakukan para biksu sebagai bentuk latihan batin. Selain itu, terdapat penelitian lain yang ungkap berbagai cara kurangi stress pada pekerja selain berolahraga.
Melalui perjalanan panjang ini, mereka belajar untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, serta melepaskan diri dari berbagai kenyamanan duniawi. Dalam tradisi tersebut, para biksu menjalani kehidupan yang sederhana.
Mereka hanya membawa perlengkapan secukupnya dan mengandalkan bantuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar selama perjalanan berlangsung.
Indonesia Walk for Peace sendiri bukan hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan. Kegiatan ini juga menjadi ajakan menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, serta hidup berdampingan dalam keberagaman.
Rahasia Ketangguhan Para Biksu
Banyak orang bertanya-tanya bagaimana para biksu mampu berjalan sejauh ratusan kilometer di bawah terik matahari. Jawabannya ternyata terletak pada pola hidup yang telah mereka jalani sejak lama.
Ketua Pusat Informasi Indonesia Walk for Peace, Sanjaya Kanginnadhi, menjelaskan bahwa peserta thudong terbiasa hidup dalam kesunyian, sebagian besar menetap di kawasan hutan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Kehidupan tersebut membentuk ketahanan mental sekaligus fisik. Mereka telah terbiasa menghadapi keterbatasan, mengendalikan keinginan, dan menjalani aktivitas dengan penuh kesadaran.
Menurut Sanjaya, para biksu melatih disiplin diri untuk mengikis berbagai kekotoran batin. Prinsip hidup minimalis menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual yang mereka tempuh.
Peserta thudong tahun itu berasal dari berbagai negara. Tercatat sebanyak 43 biksu berasal dari Thailand, empat orang dari Malaysia, dan tiga lainnya dari Laos.
Sebagian peserta dari Thailand diketahui berasal dari kawasan konservasi Thung Yai yang berada di dekat perbatasan Myanmar.
Terbiasa Hidup Sederhana dan Menerima Apa Adanya
Salah satu kebiasaan yang dijalani para biksu adalah pindapata, yaitu menerima dana makanan dari masyarakat sekitar.
Mereka tidak memilih jenis makanan tertentu dan menerima apa pun yang diberikan dengan rasa syukur.
Kebiasaan ini melatih mereka untuk tidak bergantung pada keinginan pribadi. Apa yang tersedia itulah yang dikonsumsi untuk menjaga stamina selama perjalanan panjang.
Kesederhanaan juga tampak dari pakaian yang digunakan. Para biksu hanya membawa satu jubah untuk dipakai sepanjang perjalanan.
Setelah berjalan seharian dalam kondisi panas atau hujan, jubah tersebut dicuci sendiri pada sore hari, dijemur, lalu digunakan kembali keesokan harinya.
Pola hidup sederhana seperti inilah yang membuat mereka terbiasa menghadapi berbagai keterbatasan.
Kaki Melepuh Bukan Alasan untuk Berhenti
Menempuh jarak hingga 666 kilometer tentu bukan perkara mudah. Rasa lelah, nyeri otot, hingga kaki melepuh menjadi tantangan yang harus dihadapi para biksu selama perjalanan.
Namun, ketangguhan mental mereka membuat rasa sakit bukan menjadi alasan untuk menyerah. Ketika kaki mengalami lepuhan akibat berjalan puluhan kilometer, penanganannya dilakukan dengan cara sederhana.
Air di dalam lepuhan dikeluarkan menggunakan peniti yang telah disterilkan, kemudian luka diberi obat sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Proses tersebut dilakukan berulang kali apabila diperlukan. Bagi sebagian orang, tindakan tersebut mungkin terdengar ekstrem.
Akan tetapi, bagi para biksu, perjalanan ini merupakan bagian dari latihan batin untuk melatih kesabaran, keteguhan hati, dan komitmen terhadap tujuan yang diyakini.
Simbol Perdamaian dan Semangat Bhinneka Tunggal Ika
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, perjalanan thudong menuju Borobudur juga menjadi simbol kuat tentang toleransi dan persatuan.
Kehadiran para biksu yang disambut hangat masyarakat di berbagai daerah menunjukkan bahwa keberagaman dapat berjalan berdampingan dalam harmoni.
Kisah perjalanan 50 biksu ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada fisik, tetapi juga pada kemampuan mengendalikan diri, hidup sederhana, dan tetap melangkah meski menghadapi berbagai rintangan.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, semangat para biksu yang berjalan ratusan kilometer demi menjalankan keyakinannya menjadi pengingat bahwa ketulusan, disiplin, dan perdamaian.
Inilah yang seharusnya menjadi nilai yang patut dijaga bersama dalam menjaga keberagaman dan kebersamaan serta kedaaian hati baik individu maupun bermasyarakat. (*/nds)
















