BANYUMASEKSPRES.ID, Kisah Insanul Fahmi yang terjebak di antara dua wanita, Inara Rusli dan Wardatina Mawa, menjadi sorotan publik belakangan ini. Dalam upayanya untuk memahami dan menavigasi hubungan rumit tersebut, Fahmi mengaku telah berkonsultasi dengan psikolog.
“Aku pengin tahu dari sisi perempuan. Aku juga merasa bersalah dan banyak melakukan kesalahan,” ungkapnya kepada awak media pada Selasa (30/12).
Langkah Fahmi untuk mencari bantuan profesional ini menunjukkan keseriusannya dalam menyelesaikan masalah pribadi yang dihadapinya.
Selain ingin memahami perspektif perempuan, Fahmi juga ingin memeriksakan dirinya terkait tuduhan mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Ketika muncul ke publik dan memberikan klarifikasi, sejumlah pihak menuduhnya memiliki NPD berdasarkan jawaban-jawabannya.
NPD atau Gangguan Kepribadian Narsistik adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh pola perilaku yang berpusat pada diri sendiri secara ekstrem, merasa sangat penting, membutuhkan kekaguman berlebihan, dan kurang empati terhadap orang lain.
Kondisi ini dapat berdampak negatif pada hubungan interpersonal serta kehidupan sehari-hari seseorang.
“Aku dituduh NPD, padahal aku pengin introspeksi diri juga,” tegas Fahmi.
Insanul Fahmi pertama kali menjadi perhatian publik setelah mengaku menikahi siri Inara Rusli sekaligus menduakan istrinya yang sah, Wardatina Mawa.
Pengakuan ini memicu kontroversi dan memperburuk hubungannya dengan Mawa. Namun demikian, Fahmi menyatakan bahwa dirinya sebenarnya sudah lama berniat untuk menjalani pemeriksaan psikologis.
Ia bahkan sempat mengajak Mawa untuk turut serta dalam pemeriksaan tersebut.
“Dari dulu aku pengen periksa sih sebenarnya. Aku sempet ngajakin Mawa juga, ‘yuk kita periksa bareng-bareng aja’,” bebernya.
Kini, meskipun hubungan dengan Inara Rusli berjalan baik setelah adanya perdamaian di antara mereka, tantangan belum sepenuhnya teratasi.
Mereka masih menghadapi kasus hukum yang diajukan oleh Wardatina Mawa terkait dugaan perselingkuhan dan perzinaan.
Meski menikah siri, Inara tetap berkomitmen untuk setia dan berbakti kepada Insanul Fahmi sebagai suaminya.
Dalam konteks ini, konsultasi psikologis yang dilakukan oleh Insanul Fahmi bisa dipandang sebagai langkah positif menuju penyelesaian masalah. Mengatasi gangguan kepribadian seperti NPD membutuhkan kesadaran diri dan kemauan untuk berubah.
Dengan berkonsultasi kepada ahli, individu seperti Fahmi dapat memperoleh wawasan lebih dalam tentang dirinya sendiri serta dampaknya terhadap orang-orang di sekitarnya.
Pertanyaan besar yang muncul dari situasi ini adalah sejauh mana masyarakat dapat ikut mendukung individu-individu seperti Fahmi dalam proses penyembuhan mereka?
Dukungan sosial seringkali menjadi faktor penting dalam pemulihan gangguan kepribadian karena individu memerlukan lingkungan yang suportif untuk mendorong perubahan positif.
Sementara itu, kasus hukum yang sedang berlangsung menambah kompleksitas situasi ini. Tuduhan perselingkuhan membawa konsekuensi tidak hanya pada hubungan personal tetapi juga reputasi sosial para pihak yang terlibat.
Dalam masyarakat yang kerap kali menghukum tindakan semacam itu dengan pandangan negatif, tantangan bagi Insanul Fahmi adalah bagaimana menjaga integritas diri sambil tetap berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu.
Pengalaman Fahmi mungkin dapat menjadi pelajaran bagi banyak orang tentang pentingnya introspeksi diri dan keberanian untuk mencari bantuan ketika dihadapkan pada masalah emosional atau mental yang serius.
Penerimaan akan keterbatasan dan usaha untuk memperbaikinya adalah langkah awal menuju penyembuhan yang sesungguhnya.
Pertarungan batin yang dialami oleh Insanul Fahmi merupakan cerminan dari kompleksitas hubungan manusia dan kebutuhan akan keseimbangan emosional dalam setiap aspek kehidupan. (*/stch/fam)
















