Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

IPNU Kebumen Serukan Penghentian Wisuda di Sekolah Menengah dan Dasar

Ipnu kebumen serukan penghentian wisuda di sekolahIpnu kebumen serukan penghentian wisuda di sekolah

Kegiatan Perpisahan Diminta Tak Gunakan Atribut Akademik Tinggi

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Kebumen menyerukan agar istilah dan atribut wisuda tidak lagi digunakan dalam kegiatan perpisahan di tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Ketua PC IPNU Kebumen, Khoirul Huda, menyatakan keprihatinannya terhadap tren penyelenggaraan acara wisuda oleh sekolah-sekolah mulai dari jenjang TK hingga SMA.

Ia menilai praktik tersebut menyimpang dari esensi wisuda sebagai seremoni akademik di perguruan tinggi.

“Wisuda secara tradisi dan akademik adalah bagian dari dunia kampus, bukan untuk TK, SD, SMP, atau SMA. Kami tidak melarang adanya perpisahan, tapi jangan menggunakan atribut seperti toga, topi wisuda, samir, dan medali. Itu tidak tepat dan bisa membebani wali murid,” kata Huda, Selasa (3/6).

Ia menegaskan bahwa kegiatan perpisahan tetap boleh dilakukan selama dilaksanakan dengan sederhana dan bermakna.

Menurutnya, perpisahan sekolah sebaiknya menjadi momen kekeluargaan yang tidak terkesan formal dan memberatkan secara biaya.

“Kalau ada orang tua yang keberatan, sekolah wajib mencari solusi. Perpisahan bisa dikemas lebih kreatif, sederhana, dan tetap memberikan kesan mendalam bagi siswa tanpa atribut resmi layaknya wisuda sarjana,” tambahnya.

Pernyataan IPNU ini sejalan dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Nomor 14 Tahun 2023 yang menegaskan bahwa kegiatan wisuda tidak bersifat wajib dan tidak boleh menjadi beban biaya bagi orang tua/wali murid.

Surat edaran itu ditujukan untuk satuan pendidikan PAUD, pendidikan dasar, dan menengah.

Lebih jauh, Huda menyampaikan bahwa penggunaan atribut akademik tinggi seperti toga pada level sekolah justru bisa menimbulkan distorsi makna akademik dan mengaburkan semangat pendidikan.

“Kita harus menjaga nilai dan simbol pendidikan tinggi. Jangan sampai istilah ‘wisuda’ kehilangan makna karena digunakan tanpa konteks yang sesuai. Ini penting juga untuk menjaga marwah kelulusan di jenjang pendidikan tinggi,” ujarnya.

Ia pun mengajak semua pihak, terutama satuan pendidikan dan orang tua, untuk bijak dalam menyelenggarakan acara perpisahan.

“Mari kita edukasi masyarakat agar tidak terjebak pada simbolisme berlebihan. Yang penting adalah nilai kebersamaan dan penghargaan atas pencapaian belajar,” tutupnya. (mam/stch)

Berita Sebelumnya
203 ribu jemaah haji indonesia bersiap hadapi puncak haji armuzna 2025

203 Ribu Jemaah Haji Indonesia Bersiap Hadapi Puncak Haji Armuzna 2025

Berita Selanjutnya
Harga cabai di purbalingga merangkak naik

Harga Cabai di Purbalingga Naik Menjelang Idul Adha 2025, Cabai Rawit Tembus Rp47 Ribu