Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Lonjakan Diabetes di Purbalingga Tembus 20 Ribu Kasus, Dinkes Minta Warga Ubah Gaya Hidup

Kasus Diabetes Capai 20 RibuKasus Diabetes Capai 20 Ribu
Ketua P2PTM dan Keswa Dinkes Purbalingga, Bekti Aribawanti Rini

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Purbalingga menghadapi peningkatan signifikan dalam kasus diabetes melitus.

Hingga September 2025, jumlah penderita diabetes di wilayah ini mencapai 20.790 orang.

Fakta ini menyoroti masalah kesehatan serius yang memerlukan perhatian segera dari berbagai pihak.

Dari data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan setempat, wilayah layanan Puskesmas Bojongsari menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan total 1.868 penderita, sementara Puskesmas Bojong mencatat jumlah paling rendah yaitu 148 kasus.

Bekti Aribawanti Rini, Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular serta Kesehatan Warga Dinas Kesehatan Purbalingga, menjelaskan bahwa diabetes melitus terbagi dalam tiga tipe utama.

Tipe pertama yaitu diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin sama sekali.

Pada tipe ini, penderita biasanya bergantung pada suntikan insulin sepanjang hidup mereka.

Sementara itu, diabetes tipe 2 lebih umum ditemukan di masyarakat dan disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh merespons insulin secara efektif meskipun hormon tersebut masih diproduksi.

Sedangkan diabetes gestasional adalah jenis yang dialami oleh perempuan selama masa kehamilan dan biasanya hilang setelah persalinan.

Penetapan diagnosis diabetes bergantung pada hasil pemeriksaan kadar gula darah.

Menurut Bekti, untuk gula darah puasa seseorang akan dinyatakan menderita diabetes jika hasil pemeriksaannya mencapai atau lebih dari 126 mg/dL.

Sedangkan untuk pemeriksaan gula darah sewaktu, diagnosa diabetes ditentukan jika hasilnya mencapai atau melebihi 200 mg/dL terutama bila disertai gejala khas seperti sering merasa haus berlebihan dan cepat lelah.

Tingginya angka kasus diabetes di Purbalingga tidak dapat dilepaskan dari gaya hidup masyarakat yang masih belum sehat sepenuhnya.

Pola makan tinggi gula dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama penyebab meningkatnya angka penderita diabetes di wilayah tersebut.

Rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga turut memperburuk situasi ini.

“Gaya hidup sehat sangat menentukan. Kalau masyarakat lebih peduli dengan pola makan, olahraga, dan rutin cek kesehatan, angka diabetes bisa ditekan,” ungkap Bekti kepada Banyumas Ekspres.

Pernyataan ini menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan diri sendiri demi menekan angka kejadian penyakit kronis ini.

Bekti berharap agar semakin banyak warga yang sadar akan pentingnya pencegahan sejak dini terhadap penyakit ini mengingat diabetes bukan hanya soal kadar gula darah tinggi tetapi juga berkaitan erat dengan risiko penyakit lain seperti jantung stroke dan gangguan ginjal.

Kesadaran ini sangat penting karena komplikasi yang ditimbulkan oleh diabetes dapat sangat berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa.

Menyikapi situasi ini pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan telah merencanakan berbagai program edukasi kepada masyarakat guna meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat sebagai langkah preventif terhadap meningkatnya angka kasus diabetes.

Melalui kegiatan sosialisasi rutin diharapkan masyarakat dapat lebih memahami bahaya dari gaya hidup buruk serta mulai menerapkan pola makan seimbang berolahraga secara teratur serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik.

Meski demikian upaya pemerintah saja tidak cukup tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri.

Oleh karena itu diperlukan sinergi antara pemerintah komunitas medis serta masyarakat dalam menangani masalah kesehatan ini agar dapat mencegah semakin bertambahnya jumlah penderita diabetes di masa mendatang.

Perubahan gaya hidup yang lebih sehat harus menjadi prioritas utama bagi semua orang karena hanya dengan cara inilah kita bisa melindungi diri sendiri dari ancaman penyakit kronis seperti diabetes melitus. (alw/dda)

Berita Sebelumnya
Kerugian Penipuan Online Tembus Rp 7,9 T

Kerugian Akibat Penipuan Online Capai 7,9 Triliun, OJK Beberkan Fakta Mengejutkan

Berita Selanjutnya
Ukir Rekor Negatif di Old Trafford

Catat Rekor Negatif! Manchester United Terpuruk di Peringkat 10 Usai Dikalahkan Everton