Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kemenhaj Konfirmasi 23 Jemaah Indonesia Meninggal Saat Haji, 67 Dirawat di RS

23 Meninggal, 67 Dirawat di RS23 Meninggal, 67 Dirawat di RS
HAJI: Petugas Kesehatan KKHI Daker Madinah membantu jamaah haji mengenakan kain ihram untuk persiapan umrah wajib. Jamaah juga dibimbing untuk niat oleh layanan Bimbad

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa hingga Sabtu (9/5), sebanyak 23 jemaah haji Indonesia telah meninggal dunia di Arab Saudi.

Tercatat juga ada 67 jemaah lainnya yang saat ini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya tiga jemaah Indonesia pada hari yang sama.

Mereka adalah Rodiyah Wayan, Kamariah Dul Tayib, dan Nursidah Sinrang Sijarra.

“Dengan demikian, jumlah jemaah wafat di Arab Saudi hingga saat ini sebanyak 23 orang. Kami mendoakan seluruh jemaah yang wafat mendapatkan husnul khatimah dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan ketabahan,” ungkap Ichsan dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada Senin (11/5).

Situasi ini menggambarkan tantangan berat yang dihadapi oleh jemaah haji tahun ini.

Dengan kondisi yang semakin panas menjelang puncak ibadah haji, Kemenhaj mengingatkan seluruh jemaah untuk mulai mengurangi aktivitas fisik yang tidak mendesak.

Suhu di Makkah dan Madinah saat ini berkisar antara 38 hingga 42 derajat celsius, sehingga kesehatan menjadi prioritas utama bagi setiap jemaah.

Ichsan menekankan pentingnya menjaga kesehatan dengan cara memperbanyak konsumsi air putih, menjaga pola makan yang seimbang, serta memanfaatkan waktu istirahat dengan baik agar kondisi tubuh tetap prima saat menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Puncak haji adalah fase ibadah yang sangat membutuhkan stamina. Jangan sampai tenaga habis sebelum waktunya. Utamakan ibadah wajib, kurangi aktivitas yang menguras fisik, dan segera laporkan jika mengalami gangguan kesehatan sekecil apa pun,” ujarnya dengan tegas.

Lebih lanjut, ia juga memberikan perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, serta mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Jemaah-jemaah tersebut diharapkan untuk selalu didampingi dan aktif berkoordinasi dengan petugas kesehatan setempat.

“Layanan kesehatan kami siaga 24 jam, tetapi keberhasilan menjaga kesehatan sangat bergantung pada kedisiplinan jemaah sendiri. Jangan menunda melapor jika merasa tidak sehat,” kata Ichsan menambahkan.

Memasuki hari ke-20 operasional haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, layanan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia secara umum berjalan lancar.

Hingga Minggu (10/5), sudah ada sebanyak 323 kelompok terbang (kloter) yang membawa total 125.243 jemaah serta 1.289 petugas menuju Arab Saudi.

Dari angka tersebut, sebanyak 204 kloter dengan total 78.946 jemaah serta 816 petugas telah tiba di Makkah setelah sebelumnya berangkat dari Madinah untuk melaksanakan umrah wajib dan mempersiapkan diri menuju puncak ibadah haji.

Momen ini menjadi sangat penting bagi seluruh umat Islam yang menjalani ibadah haji.

Bukan hanya sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama jemaah dari berbagai latar belakang.

Dalam konteks sosial keagamaan ini, keberadaan petugas kesehatan sangat vital dalam memastikan bahwa setiap individu dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.

Saat beribadah di Tanah Suci, banyak faktor eksternal maupun internal yang dapat mempengaruhi kesehatan para jemaah.

Oleh karena itu, Kemenhaj menghimbau agar para jemaah tidak hanya fokus pada aspek spiritual semata tetapi juga memperhatikan kondisi fisik mereka selama berada dalam iklim ekstrem seperti ini.

Proses persiapan menuju puncak ibadah haji melibatkan berbagai aspek kehidupan sehari-hari para jemaah.

Misalnya saja dalam hal pemenuhan kebutuhan makanan dan minuman selama berada di Arab Saudi.

Adalah penting bagi setiap jemaah untuk memahami bagaimana cara menjaga pola makan agar tetap sehat dan bugar selama menjalani serangkaian ritual haji.

Bersamaan dengan itu, kebutuhan akan dukungan psikologis bagi para jemaah juga tidak kalah pentingnya.

Banyak dari mereka mungkin menghadapi perasaan cemas atau bahkan kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga dalam perjalanan suci ini.

Dalam konteks itu, dukungan moral dari sesama jemaah menjadi elemen penting untuk membantu menjaga mentalitas positif selama beribadah.

Dari sisi pemerintah melalui Kemenhaj, usaha maksimal telah dilakukan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada semua jamaah haji Indonesia tahun ini.

Ini termasuk pelatihan bagi para petugas kesehatan tentang penanganan darurat medis serta cara memberikan bantuan pertama kepada jamaah yang membutuhkan.

Sementara itu, pengalaman spiritual selama menjalankan ibadah haji haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin oleh setiap individu untuk mendapatkan makna lebih dalam dari perjalanan suci ini.

Mengingat bahwa haji adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan bagi umat Muslim yang mampu secara fisik dan finansial.

Dengan semua tantangan di lapangan saat ini—dari cuaca ekstrem hingga masalah kesehatan—para petugas telah bekerja keras untuk memastikan bahwa setiap tamu Allah dapat melakukan setiap rukun haji tanpa terhambat oleh kendala apapun. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Tukar Uang Layak Edar Lebih Mudah

BI Purwokerto Gelar Penukaran Uang Layak Edar di Segara Anakan Cilacap

Berita Selanjutnya
Harga Kambing Normal, Penjualan Masih Lesu

Harga Kembali Normal, Penjualan Kambing Kurban di Purbalingga Masih Lesu