Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Lonjakan Harga Mulsa dan Plastik Mengancam Produksi Pertanian di Banjarnegara

Kenaikan Harga Plastik Berimbas pada PertanianKenaikan Harga Plastik Berimbas pada Pertanian
MENGIKAT: Seorang petani holtikultura merawat tanaman cabai yang menggunakan mulsa sebagai bagian dari pertaniannya

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dalam beberapa waktu terakhir, sektor pertanian di Banjarnegara menghadapi tantangan signifikan akibat kenaikan harga plastik.

Para petani hortikultura kini merasakan dampak langsung dari lonjakan harga mulsa penutup tanah, yang merupakan salah satu kebutuhan utama dalam usaha tani.

Dalam waktu singkat, harga mulsa telah meningkat hingga dua kali lipat, mempengaruhi biaya produksi secara keseluruhan.

Suripto, seorang petani cabai yang berasal dari Kalibening, mengungkapkan keluhannya terkait kenaikan harga plastik.

“Mulsa yang sebelumnya dibeli dengan harga Rp 750 ribu per rol, kini menembus angka Rp 1 juta bahkan lebih,” ujarnya pada hari Senin (6/4/2026).

Kenaikan ini bukanlah hal sepele bagi para petani. Bagi mereka, mulsa bukan sekadar pelengkap dalam proses pertanian, melainkan memiliki fungsi yang sangat krusial.

Mulsa berperan dalam menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, serta meningkatkan kualitas hasil panen.

Ketika harga mulsa melonjak tajam, otomatis biaya produksi pun tertekan untuk ikut naik.

Menurut Suripto, kondisi ini bisa berdampak langsung pada luas lahan yang dapat ditanami.

“Kalau biaya terus meningkat, kami terpaksa mengurangi luas tanam. Hal tersebut berpotensi mengurangi jumlah produksi,” tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Slamet, petani sayur asal Kalibening. Ia menyatakan bahwa kenaikan biaya datang pada waktu yang tidak tepat.

“Harga hasil panen belum tentu bagus, tetapi biaya sudah naik terlebih dahulu. Ini membuat kami merasa serba salah,” keluhnya.

Slamet memperingatkan bahwa lonjakan biaya produksi hampir pasti akan berdampak pada harga jual di pasar.

“Jika biaya input naik, harga jual biasanya akan ikut naik. Ini adalah hukum pasar,” tegasnya.

Dampak dari kenaikan harga plastik ini tidak hanya dirasakan oleh para petani saja, tetapi juga mulai meluas ke pelaku usaha kecil di sekitar daerah tersebut.

Trio, seorang penjual jajanan kemasan di Kalibening, juga merasakan kebingungan dalam menentukan harga jual produknya akibat lonjakan harga plastik kemasan.

“Harga plastik kemasan yang sebelumnya Rp 28 ribu per kilo kini sudah mencapai Rp 48 ribu,” ungkapnya dengan nada cemas.

Trio merasa terjebak dalam dilema yang sulit. Di satu sisi, jika ia menaikkan harga jual untuk menutupi biaya tambahan ini, ia khawatir akan kehilangan pembeli setia.

Namun jika ia mempertahankan harga jual yang lama, risiko kerugian menjadi ancaman nyata baginya.

“Kalau saya naikin harga takut pembeli berkurang, tapi kalau tidak saya rugi,” katanya dengan nada penuh keprihatinan.

Kenaikan harga plastik ini menjadi tekanan berlapis bagi sektor-sektor bawah dari para petani hingga pelaku usaha kecil.

Jika tren ini terus berlanjut tanpa adanya solusi atau intervensi yang memadai dari pemerintah atau pihak terkait lainnya, bukan hanya produksi pertanian yang terancam mengalami penurunan drastis tetapi juga bisa mengakibatkan inflasi pada harga pangan di tingkat konsumen.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana rantai pasokan dan permintaan bekerja dalam pasar lokal.

Ketika bahan baku yang digunakan oleh para petani dan pelaku usaha kecil mengalami lonjakan harga seperti ini, dapat dipastikan ada efek domino yang terjadi di seluruh rantai distribusi produk tersebut hingga mencapai konsumen akhir.

Sementara itu, petani harus beradaptasi dengan situasi baru ini agar tetap bisa bertahan dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

Beberapa mungkin memilih untuk mencari alternatif lain atau mengganti jenis tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan biaya input yang tinggi. Di sisi lain, potensi dampak sosial dari masalah ini tidak bisa diremehkan.

Dengan semakin menipisnya margin keuntungan bagi petani dan pelaku usaha kecil akibat kenaikan biaya produksi dan penjualan yang tidak seimbang dengan hasil panen mereka yang terkadang tidak menentu harganya di pasar, maka kesejahteraan mereka pun menjadi terancam. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Ganti Nama Panggung untuk “Buang Sial”

Inara Rusli Ganti Nama Jadi Inara Sati, Ini Makna dan Alasannya

Berita Selanjutnya
KUR BSI

KUR BSI Pinjaman 100 Juta, Siapa Saja yang Layak Mengajukan?