Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Konser Kemerdekaan Purbalingga 2025, Ini Line Up dan Tanggalnya
Mahasiswa KKN UNI Saizu Purwokerto di Randegan Banjarnegara Sulap Limbah Kulit Salak Jadi Teh Herbal Penurun Gula Darah
BPBD Purbalingga Ingatkan Potensi Bencana yang Dapat Terjadi Selama Kemarau Basah

Mahasiswa KKN UNI Saizu Purwokerto di Randegan Banjarnegara Sulap Limbah Kulit Salak Jadi Teh Herbal Penurun Gula Darah

Sulap limbah kulit salak jadi teh herbal penurun gula darahSulap limbah kulit salak jadi teh herbal penurun gula darah
Salah satu tahapan pengolahan limbah kulit salak, penyangraian.

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menciptakan inovasi mengolah limbah kulit salak menjadi teh herbal penurun gula darah.

Inisiatif ini tidak hanya menjadi program unggulan, tetapi juga menawarkan solusi ekonomi dan kesehatan bagi masyarakat Desa Randegan, Kecamatan Madukara, Banjarnegara.

Koordinator KKN Kelompok 50, Farid Nur Abdullah, menjelaskan bahwa tujuan utama dari pelatihan ini adalah meningkatkan nilai tambah dari limbah kulit salak yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

“Pelatihan pembuatan Teh Kulit Salak digelar pada Sabtu, 3 Agustus 2025, di TK Pertiwi Pelita Randegan. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi mahasiswa KKN dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat sebagai bentuk nyata pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal,” jelas Farid.

Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal, Farid dan timnya berfokus pada mendorong masyarakat agar mampu mengolah sumber daya yang ada di desa menjadi produk unggulan.

Menurutnya, teh kulit salak tidak hanya menawarkan manfaat kesehatan tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dengan mengubah limbah kulit salak menjadi produk teh herbal yang bernilai ekonomis.

Banjarnegara dikenal sebagai sentra penghasil salak dan potensi ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Arini Inayaturrohmah, pemateri dalam pelatihan tersebut, memberikan wawasan mengenai manfaat dan proses pengolahan teh kulit salak.

Ia menyebutkan bahwa kulit salak mengandung senyawa fitokimia aktif seperti antioksidan, antidiabetes, dan anti-inflamasi.

“Kita sering buang kulitnya padahal manfaatnya luar biasa. Ini bisa jadi teh herbal yang menyehatkan,” ujarnya.

Manfaat kulit salak telah dibuktikan dalam berbagai riset ilmiah. Penelitian oleh Ribatul N.D., dkk. (2023) menunjukkan bahwa teh kulit salak mampu menurunkan kadar gula darah mencit hingga 40,94 persen dalam waktu tiga hari saja.

Sementara itu penelitian lain oleh Akbar M., et al. (2025) menyebutkan bahwa ekstrak kulit salak yang dikombinasikan dengan diet rendah karbohidrat efektif menurunkan berat badan dan kolesterol pada hewan uji obesitas.

Proses pengolahan teh kulit salak dimulai dengan tahap pemotongan dan penjemuran di mana kulit salak dipotong kecil-kecil dan dijemur selama dua hingga tiga hari.

Tahap berikutnya adalah penyangraian selama lima hingga tujuh menit hingga kering dan renyah dilanjutkan dengan penghalusan dan pengemasan di mana kulit diserbuk halus kemudian dikemas dalam kantong teh celup.

Produk teh ini dapat diseduh langsung disimpan dalam wadah kering atau dikombinasikan dengan gula aren maupun gula pasir untuk menyesuaikan rasa sesuai selera konsumen.

“Produk ini bisa diseduh langsung disimpan dalam wadah kering atau dikombinasikan dengan gula aren maupun gula pasir untuk menyesuaikan rasa,” ucap Arini.

Siti selaku Ketua KWT Randegan sangat mengapresiasi inovasi ini sebab rasanya unik dan khas serta cocok untuk ibu-ibu yang ingin minuman sehat tanpa terlalu manis.

“Rasanya unik ada sepetnya khas banget bisa ditambah gula sesuai selera ini cocok untuk ibu-ibu yang ingin minuman sehat tanpa terlalu manis,” tuturnya.

Inovasi ini menunjukkan betapa pentingnya pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Melalui program-program semacam ini masyarakat dapat lebih mandiri dalam memanfaatkan sumber daya alam setempat sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN dan kelompok tani setempat inovasi teh kulit salak bukan hanya menawarkan manfaat kesehatan tetapi juga menjadi katalisator perubahan sosial-ekonomi di desa tersebut.

Kehadiran program semacam ini diharapkan dapat terus berkembang sehingga semakin banyak lagi kelompok masyarakat yang terlibat aktif dalam memanfaatkan potensi lokal secara optimal.

Dengan adanya pelatihan pengolahan limbah kulit salak menjadi produk bernilai ekonomis seperti teh herbal masyarakat diharapkan lebih termotivasi untuk melakukan inovasi-inovasi lain yang dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka sehari-hari terutama dalam bidang ekonomi dan kesehatan.

Inisiatif mahasiswa UIN Saizu Purwokerto melalui program KKN mereka membuktikan bahwa inovasi sederhana sekalipun dapat memiliki dampak besar bila dilaksanakan dengan tepat sasaran yakni memberdayakan masyarakat lokal secara berkelanjutan serta memaksimalkan penggunaan sumber daya alam sekitar secara bijaksana demi kesejahteraan bersama. (*/stch)

Berita Sebelumnya
Line up dan jadwal konser kemerdekaan 2025 di desa limbangan kabupaten purbalingga

Konser Kemerdekaan Purbalingga 2025, Ini Line Up dan Tanggalnya

Berita Selanjutnya
Bpbd ingatkan ancaman kemarau basah

BPBD Purbalingga Ingatkan Potensi Bencana yang Dapat Terjadi Selama Kemarau Basah